PADA bagian yang lalu (lihat Meditasi Menurut Bhagawad Gita) sudah diuraikan tentang bagaimana meditasi menurut Bhgawad Gita sampai pada mempersiapkan tempat duduk. Supaya tidak lupa, kali ini disambung dengan sikap tubuh dan apa yang perlu dibangkitkan. Sekali lagi, meditasi ini menurut Bhagawad Gita, bukan menurut aliran-aliran yang lain. Besar sekali kemungkinannya tidak cocok lagi atau sudah dikembangkan oleh kelompok-kelompok meditasi yang kini bertebaran.
Sloka BG VI.13 menyebutkan: samam kaya siro grivam, dharayann acalam sthirah, sampreksya nasikagram
svam, disas canavalokayan. Terjemahan bebasnya: Jagalah supaya tubuh atau
badan, leher dan kepala tetap tegak lurus, memandang ujung hidung dan tidak
melihat ke sana ke mari ke segala arah.
Mungkin sloka ini yang membuat ada kelompok meditasi
yang membolehkan orang meditasi dengan telentang berbaring. Bukankah tubuh,
leher dan kepala tetap lurus dalam berbaring? Namun karena sloka sebelumnya
banyak diuraikan bagaimana mempersiapkan alat duduk, maka pada sloka ini pun
banyak yang mengartikan bahwa meditasi itu haruslah duduk. Bahkan Rsi Patanjali
mengajarkan cara duduk yang lebih ketat lagi dalam melakukan meditasi.
Misalnya, dianjurkan kepada para yogi untuk duduk dalam posisi padmasana. Ini dari kata padma dan asana. Padma berarti
bunga teratai, asana berarti sikap
duduk. Tempatkan kaki kanan di atas paha kiri dan kaki kiri di atas paha kanan.
Kedua tumit harus menekan ke arah bawah. Ini posisi yang sulit dan harus dilatih
sejak kecil. Kalau sudah tua dengan kondisi tulang dan persendian yang tak
memadai lagi, sulit melakukan sikap duduk padmasana.
Teratai atau di Bali disebut tunjung adalah lambang
kemurnian. Teratai yang berkembang adalah lambang dari berkembangnya kesadaran.
Akar dan batang teratai berada di dalam air yang berlumpur, kotor dan jauh dari
kesucian. Ini melambangkan karma kita yang buruk. Tetapi bunga teratai berada
di atas air, tetap bersih. Yang disimbolkan dari sini adalah betapa pun kita
punya dan memiliki karma buruk (sesuatu yang tak bisa dihindari oleh manusia)
tetapi pikiran kita tetapkan jernih dan tidak tercemar.
Jika kita tak bisa melakukan sikap duduk padmasana ada yang lebih mudah, yaitu siddhasana. Sikap duduk ini dengan cara
menumpangkan kaki kanan ke atas paha kiri, namun kaki kiri tak harus
ditumpangkan ke paha kanan. Jadi kaki tidak bersilang. Para pendeta Hindu di
Bali banyak yang memakai sikap siddasana
dalam muput karya.
Bagaimana sikap tangan? Jika tangan dalam posisi
disilang dan diletakkan di paha sementara kaki dalam posisi padmasana maka ini tingkat kesukaran tertinggi dan disebut mukta-padmasana. Tetapi kalau terlalu
sulit sikap duduk apapun yang dipilih tangan taruh saja di paha. Yang diutamakan
adalah tubuh berdiri tegak mata memandang ujung hidung.
Nah, kenapa harus memandang ujung hidung? Dengan
memandang ujung hidung maka mata tidak terpejam. Dalam meditasi dianjurkan
tidak menutup mata dengan rapat karena dikhawatirkan akan tertidur lelap dalam
keheningan, karena meditasi bukanlah tidur meski yang dicapai adalah
keheningan. Tetapi kalau dibiarkan mata terbuka lebar dan memandang ke segala
arah maka konsentrasi sulit dicapai. Meditasi itu adalah proses setelah
konsentrasi atau dalam istilah yang dipakai Rsi Patanjali, meditasi (dhyana) adalah tangga ketujuh setelah dharana (konsentrasi). Dengan memandang
ujung hidung maka mata tak terbuka lebar-lebar tetapi tidak juga tertutup
rapat.
Dalam berbagai kelompok meditasi, proses dharana (konsentrasi) banyak yang
memakai alat, misalnya, menatap patung atau pratima, menatap lilin atau cahaya
lain. Tidak menatap ujung hidung. Tetapi kelebihan menatap ujung hidung otot
mata menjadi kuat, hidung bisa mencium bau dari jarak yang jauh. Kekuatan otot
mata ini bisa menjadi kekuatan sorot mata, sehingga mereka yang terlatih dengan
teknik ini bisa menentramkan orang yang beringas dengan hanya memandangnya
dengan kekuatan sorot mata.
Lalu kenapa posisi tubuh tegak? Ini terkait dengan
membangkitkan cakra yang ada di
tulang ekor (muladhara cakra) untuk
dibawa naik menuju cakra-cakra lain. Nah berapa cakra yang mau dibangkitkan,
kembali persoalannya pada aliran meditasi yang dilakukan dan ini bisa
berbeda-beda di setiap kelompok. Lain waktu akan diuraikan beberapa saja.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 3 September 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar