13 Juli 2014

Bergembira Jangan Berlebihan


PEMILIHAN presiden sudah selesai dilakukan dengan aman dan damai. Semoga kedamaian tetap berlangsung saat diumumkan pemenangnya. Siapa pun yang menang dan siapa pun yang kalah adalah warga negara yang baik. Siapa pun presiden yang terpilih adalah presiden untuk seluruh bangsa Indonesia.
Meski belum diumumkan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum pasangan Joko Widodo dan Jusuf
Kalla memenangi pemilihan ini berdasarkan hitung cepat oleh lembaga survey yang kredibel. Masyarakat Bali sudah menyatangan dukungannya kepada pasangan Joko Widodo dengan angka yang cukup besar, lebih dari 70 persen. Memang ini pilihan yang bijak karena tetap mempertahankan kebhinekaan negara kesatuan.
Bergembira tentu saja boleh. Tetapi hendaknya bergembira jangan dilakukan secara berlebihan. Begitu pula bagi sebagian kecil masyarakat Bali yang tidak mendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam arti kalah pada pemilihan ini, jangan pula bersedih. Kalah dan menang maupun sedih dan gembira adalah berpasang-pasangan. Orang Bali menyebutnya rwa bhineda, dua hal yang berbeda namun selalu berdampingan ibarat dua sisi mata uang.

Kitab Bhagawad Gita sloka 56 pada percakapan kedua (Sankhya Yoga) berbunyi: duhkhesy anudvigna manah, sukhesu vigata  sprhah, vita raga bhaya krodhah, sthita dhir munir ucyate. Terjemahan bebasnya; “Orang yang tidak sedih di kala duka, tidak melonjak kegirangan di kala bahagia, bebas dari rasa takut dan amarah, ia disebut orang suci teguh iman.”

Sloka ini sebenarnya menggambarkan orang yang sudah mendapatkan kesadaran dan pikirannya terbebas dari perasaan suka dan duka. Tak memiliki rasa gelisah baik tatkala mendapatkan kesedihan maupun mendapatkan keriangan. Namun sloka ini sering dijadikan rujukan untuk menggambarkan seseorang yang sudah memiliki ketenangan jiwa karena ia sudah mampu berdiri di semua faktor positif maupun negatif. Ia tak mudah lagi terombang ambing oleh situasi sesaat.

Orang seperti itu selalu puas dengan hasil yang sudah diperolehnya dan percaya sepenuhnya bahwa hasil itu semata-mata adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang yang sudah tercerahkan tidak pernah mudah untuk marah dan sebaliknya juga tak punya rasa takut baik dalam menerima kekalahan yang membuatnya sedih maupun mendapatkan kemenangan yang membuatnya girang.

Kalau kita ambil contoh dari pemilihan presiden yang berlangsung beberapa hari yang lalu, maka apa pun hasilnya pastilah semuanya dalam koridor “rencana Tuhan” dan bukan semata-mata “apa yang direncanakan manusia”. Karena itu ada pepatah yang menyebutkan, “manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya”.

Joko Widodo tak pernah merencanakan untuk menjadi presiden jauh-jauh hari.  Sampai tahun 2012 saat dia menjabat Gubernur Jakarta, ia tak memikirkan untuk menjadi presiden. Tetapi Prabowo Subianto sudah merancangnya sejak lama, bahkan lima tahun lalu ia sudah mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati. Tetapi Tuhan “merencanakan yang lain”, Joko Widodo yang kini mendapat anugrah dipilih oleh rakyat sementara Prabowo tak kesampaian. Apa artinya? Bahwa “rencana Tuhan” bisa tak terduga. Karena itu kalau kedua warga terbaik bangsa ini sudah sampai pada tahap mendapatkan kesadaran jiwa dan mampu menciptakan ketenangan dalam dirinya, maka Joko Widodo tak harus melampiaskan kegembiraan yang berlebihan. Prabowo pun harus siap untuk tak berduka berkepanjangan, karena jika hal itu dilakukan maka jiwanya tetap labil.

Demikian pula para pendukungnya. Begitu jagonya menang ia tak harus melampiaskan kegembiraan yang berlebihan yang bisa jadi mengungkit kemarahan pihak yang tadi diajak berseberangan. Karena riang dan duka adalah dua sisi mata uang, jika di satu pihak ada riang yang kelewat nafsunya, maka di pihak yang lain pasti ada duka yang juga kelewat hebat. Semuanya saling berhubungan.

Mari kita camkan sloka suci dari Bhagawad Gita tadi untuk bahan introspeksi bagaimana kita harus merajut kebersamaan setelah melewati suasana perbedaan yang mendalam sejak pasangan capres dan cawapres itu diumumkan, melewati masa kampenye yang pernuh persaingan, dan berakhir dengan pemilihan.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 12 Juli 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar