PEMILIHAN presiden sudah selesai dilakukan dengan aman dan damai. Semoga kedamaian tetap berlangsung saat diumumkan pemenangnya. Siapa pun yang menang dan siapa pun yang kalah adalah warga negara yang baik. Siapa pun presiden yang terpilih adalah presiden untuk seluruh bangsa Indonesia.
Meski belum diumumkan secara resmi oleh Komisi
Pemilihan Umum pasangan Joko Widodo dan Jusuf
Kalla memenangi pemilihan ini
berdasarkan hitung cepat oleh lembaga survey yang kredibel. Masyarakat Bali
sudah menyatangan dukungannya kepada pasangan Joko Widodo dengan angka yang
cukup besar, lebih dari 70 persen. Memang ini pilihan yang bijak karena tetap
mempertahankan kebhinekaan negara kesatuan.
Bergembira tentu saja boleh. Tetapi hendaknya
bergembira jangan dilakukan secara berlebihan. Begitu pula bagi sebagian kecil
masyarakat Bali yang tidak mendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam arti
kalah pada pemilihan ini, jangan pula bersedih. Kalah dan menang maupun sedih
dan gembira adalah berpasang-pasangan. Orang Bali menyebutnya rwa bhineda, dua hal yang berbeda namun
selalu berdampingan ibarat dua sisi mata uang.
Kitab Bhagawad Gita sloka 56 pada percakapan kedua
(Sankhya Yoga) berbunyi: duhkhesy anudvigna
manah, sukhesu vigata sprhah, vita raga
bhaya krodhah, sthita dhir munir ucyate. Terjemahan bebasnya; “Orang yang
tidak sedih di kala duka, tidak melonjak kegirangan di kala bahagia, bebas dari
rasa takut dan amarah, ia disebut orang suci teguh iman.”
Sloka ini sebenarnya menggambarkan orang yang sudah
mendapatkan kesadaran dan pikirannya terbebas dari perasaan suka dan duka. Tak
memiliki rasa gelisah baik tatkala mendapatkan kesedihan maupun mendapatkan
keriangan. Namun sloka ini sering dijadikan rujukan untuk menggambarkan
seseorang yang sudah memiliki ketenangan jiwa karena ia sudah mampu berdiri di
semua faktor positif maupun negatif. Ia tak mudah lagi terombang ambing oleh
situasi sesaat.
Orang seperti itu selalu puas dengan hasil yang
sudah diperolehnya dan percaya sepenuhnya bahwa hasil itu semata-mata adalah
anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang yang sudah tercerahkan tidak pernah
mudah untuk marah dan sebaliknya juga tak punya rasa takut baik dalam menerima
kekalahan yang membuatnya sedih maupun mendapatkan kemenangan yang membuatnya
girang.
Kalau kita ambil contoh dari pemilihan presiden yang
berlangsung beberapa hari yang lalu, maka apa pun hasilnya pastilah semuanya
dalam koridor “rencana Tuhan” dan bukan semata-mata “apa yang direncanakan
manusia”. Karena itu ada pepatah yang menyebutkan, “manusia boleh merencanakan
tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya”.
Joko Widodo tak pernah merencanakan untuk menjadi
presiden jauh-jauh hari. Sampai tahun
2012 saat dia menjabat Gubernur Jakarta, ia tak memikirkan untuk menjadi
presiden. Tetapi Prabowo Subianto sudah merancangnya sejak lama, bahkan lima
tahun lalu ia sudah mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi
Megawati. Tetapi Tuhan “merencanakan yang lain”, Joko Widodo yang kini mendapat
anugrah dipilih oleh rakyat sementara Prabowo tak kesampaian. Apa artinya?
Bahwa “rencana Tuhan” bisa tak terduga. Karena itu kalau kedua warga terbaik
bangsa ini sudah sampai pada tahap mendapatkan kesadaran jiwa dan mampu
menciptakan ketenangan dalam dirinya, maka Joko Widodo tak harus melampiaskan
kegembiraan yang berlebihan. Prabowo pun harus siap untuk tak berduka
berkepanjangan, karena jika hal itu dilakukan maka jiwanya tetap labil.
Demikian pula para pendukungnya. Begitu jagonya
menang ia tak harus melampiaskan kegembiraan yang berlebihan yang bisa jadi
mengungkit kemarahan pihak yang tadi diajak berseberangan. Karena riang dan
duka adalah dua sisi mata uang, jika di satu pihak ada riang yang kelewat
nafsunya, maka di pihak yang lain pasti ada duka yang juga kelewat hebat.
Semuanya saling berhubungan.
Mari kita camkan sloka suci dari Bhagawad Gita tadi
untuk bahan introspeksi bagaimana kita harus merajut kebersamaan setelah
melewati suasana perbedaan yang mendalam sejak pasangan capres dan cawapres itu
diumumkan, melewati masa kampenye yang pernuh persaingan, dan berakhir dengan
pemilihan.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 12 Juli 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar