22 Juni 2014

Jaga Kata-kata Dengan Bertapa

Anudvega-karam vakyam, satyam priya-hitam ca yat, svadhya jayabbhyasanam caiva, van-mayam tapa ucyate.

KITAB Bhagawad Gita percakapan ke 17 sloka 15 ini saya ambil artinya dari buku Bhagawad Gita (Nyanyian Tuhan) terjemahan Darmayasa. Artinya; “Kata-kata yang tidak menyebabkan perasaan orang lain terganggu, jujur, menyenangkan, dan mengandung kebaikan, serta kata-kata yang dipergunakan untuk belajar serta mempraktekkan pembacaan kitab suci Weda, semua itu dikatakan sebagai pertapaan kata-kata.”

Sloka ini mengajarkan kita harus menjaga betul agar kata-kata yang kita ucapkan tidak menyinggung perasaan seseorang sehingga orang itu menjadi terganggu. Kata-kata yang diucapkan dengan jujur dan menyenangkan siapa pun yang mendengarnya. Tentulah kata-kata yang mengandung segala kebaikan dan itu mencerminkan bahwa orang itu suka belajar dan mempraktekkan kitab-kitab suci.
Pada penutup sloka ada istilah yang menarik, “pertapaan kata-kata”. Apa yang dimaksudkan? Orang yang bertapa adalah orang yang sedang mengendalikan dirinya. Mengendalikan diri tak hanya mengendalikan perbuatan dan pikiran, tetapi juga mengendalikan kata-kata. Ini sesuai dengan ajaran  Tri Kaya Parisudha. Yakni, kendalikan pikiran, sesuatu yang belum ada pernyataan dan perbuatan apapun. Lalu kendalikan kata-kata,  hasil buah pikiran yang sudah diucapkan. Dan kemudian kendalikan perbuatan, suatu bentuk ide yang sudah dipikirkan dan juga sudah dikatakan.

Orang bisa berpikir dengan beragam masalah, baik atau pun buruk. Pikiran  adalah kuda liar yang begitu sulit untuk dikendalikan. Pikiran bisa melompat ke mana saja, tak dibatasi waktu dan ruang. Orang bisa berpikir untuk mencelakakan orang lain, atau menista orang lain. Orang bisa berpikir untuk segala hal yang jahat untuk ditimpakan kepada orang lain. Tetapi jika kita melakukan “pertapaan kata-kata” maka pikiran itu tak sampai diteruskan dengan kata-kata. Ada pengendalian sehingga pikiran yang jahat itu terbelenggu hanya sampai di pikiran, tidak diteruskan ke kata-kata. Akan sangat berbahaya jika apa yang dipikirkan itu, terutama pikiran yang buruk dan jahat, diteruskan keluar lewat kata-kata.

Karena itu pesan Bhagawad Gita ini adalah kata-kata yang sampai keluar jangan membuat orang lain terganggu. Kata yang keluar itu haruslah dalam koridor kebaikan dan menyenangkan banyak orang. Apalagi ditambah dengan jujur, itu lebih utama lagi.

Di masa kampanye pemilu presiden, sloka ini haruslah menjadi pegangan utama karena banyak sekali kata-kata buruk berseliweran. Seolah-olah semua kata buruk itu tidak lagi lewat “pertapaan kata-kata” namun langsung nyerocos dari pikiran yang buruk. Pikiran buruk itu, misalnya, bagaimana membuat calon lawan kelihatan busuknya, nampak kekurangannya, tidak kredibel sebagai presiden, dan segala kejelekan yang lain. Dari pikiran yang buruk ini maka tersusunlah kata-kata yang sangat menyinggung perasaan, bahkan penuh dengan caci maki dan fitnah. Kenyataan dijungkir-balikkan. Tak ada kata-kata yang disaring.

Pihak yang diserang juga begitu. Ia sudah memikirkan apa yang dilakukan untuk melawan. Dari perlawanan yang sudah dipikirkan itu, berhamburan kata-kata yang juga sangat menyinggung orang lain dan tidak jujur, betapapun itu didalihkan untuk membalas serangan sebelumnya.

Nah, perang kata ini jauh dari koridor kitab suci dan jauh pula dari praktek bagaimana mengucapkan kata-kata dalam kitab suci yang penuh dengan kedamaian. Tak ada sloka kitab suci yang dilantunkan dengan berteriak penuh kebencian. Semuanya dalam suasana damai, meski pun logat atau irama pembacaan berbeda di berbagai etnis.

Dalam kitab Sarasamuccaya ada sloka 75 yang berbunyi: asat pralapan parusyam paicunya manrtam tatha, vatvari Vaca rajendra najalpennanu cintayet. Arti bebasnya: Inilah yang tidak patut keluar sebagai kata-kata. Empat banyaknya, yaitu, perkataan yang jahat, perkataan yang kasar, perkataan yang mengandung fitnah, perkataan yang tidak jujur. Keempatnya harus disingkirkan, jangan diucapkan.

Nah, mari berhati-hati berkata di masa kampanye ini, apalagi kita yang jauh dari pusat kekuasaan. Sudah salah berkata-kata, capres mana pun yang menang, toh tak dapat apa-apa juga.

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 21 Juni 2014)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar