Trividam narakasyedam, dharam nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas, tasmad etat trayam tyajet. (Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju kehancuran jiwa, nafsu amarah dan loba, setiap orang harus menutupi sifat ini).
Kitab Bhagawad Gita (BG) percakapan XVI sloka 21 ini
memberikan peringatan kepada manusia bahwa pintu menuju neraka terbuka
selebar-lebarnya. Ada tiga pintu itu. Yang pertama sifat buruk yang diakibatkan
oleh nafsu yang berlebih yang tidak ditunjang oleh kemampuan diri. Yang kedua
sifat pemarah jauh dari welas asih. Yang ketiga keserakahan yang sampai
merugikan hak orang lain. Ketiga sifat buruk ini apalagi saling menyatu dan tak
ada upaya untuk menutupinya, maka jalan menuju neraka ibarat menempuh jalan tol
bebas hambatan.
Meski neraka begitu ditakuti, jalan menuju pintu
gerbang itu masih saja terbuka luas dan sering tidak disadari oleh umat
manusia. Nafsu berlebihan menjadi musuh utama manusia masa kini. Nafsu yang
dikekang oleh panca indria dalam batas-batas tertentu, bukannya tidak boleh.
Bahkan menjadi keharusan. Bagaimana orang bisa hidup dengan baik kalau tidak
ada nafsu untuk hidup. Bagaimana orang bisa menuntut ilmu dengan baik jika tidak
ada nafsu untuk belajar. Bagaimana kita bisa hidup berkecukupan untuk keluarga
dan anak jika kita tak punya nafsu untuk bekerja sekeras-kerasnya di jalan
dharma.
Kama (kamah)
dalam sloka ini juga berarti keinginan yang berlebihan. Manusia harus punya
keinginan tertentu, tetapi jika itu berlebihan dan dicari dengan jalan yang
tidak baik, maka itulah yang harus dihindari. Ingin punya mobil dan rumah mewah
tetapi dengan cara korupsi. Neraka akan ditemui, bahkan “neraka duniawi” bisa
lebih cepat ditemui, ditangkap dan masuk penjara.
Krodha (krodhas)
artinya pemarah. Manusia dibekali sifat
marah, welas asih, polos dan sebagainya. Tetapi marah yang berlebihan
harus dihindari. Marah harus ditakar dengan melihat situasi dan kondisi, juga
mempertimbangkan kepada siapa marah itu diberikan. Memarahi anak kecil dan
orang dewasa tentu berbeda. Marah di depan umum harus dilihat kepentingannya.
Walikota Surabaya Tri Rismaharini suka marah di depan umum karena tujuannya
untuk memperbaiki keadaan yang kepentingannya juga untuk umum. Ini bisa
ditolerir, apalagi hanya dengan kata-kata. Konon ada tokoh penting yang suka
marah dengan melempar asbak ke arah orang yang dimarahi.
Lobha (lobhas)
dalam BG ini rupanya yang paling penting untuk diingat karena situasi sekarang
banyak godaannya. Globalisasi memunculkan konsumerisme sehingga nafsu serakah
mudah datang. Manusia masa kini banyak yang jor-joran, pamer kekayaan dan harta
tanpa malu. Ibu-ibu pejabat membawa tas merek Hermes yang harganya ratusan juta
rupiah, sesuatu yang sulit dibayangkan oleh orang-orang desa yang masih membawa
tas plastik kresek. Yang paling celaka tentu saja keserakahan itu diperoleh
dengan cara mencuri atau korupsi. Lihatlah berita-berita di televisi bagaimana
pejabat yang korup itu hartanya melimpah, rumahnya ada di mana-mana, mobilnya
berpuluh-puluh, semuanya hasil keserakahan. Dan kini semuanya disita Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Alih-alih menuju pintu neraka di alam sana,
“neraka duniawi” sudah datang menghukum mereka.
Jika kitab BG mengingatkan ada tiga unsur yang bisa
membawa orang ke pintu neraka yakni Kama, Kroda dan Lobha, maka tuntunan yang
dibuat para leluhur kita di masa lalu dengan mengambil intisari Weda, lebih
luas lagi. Yakni Sad Ripu, enam musuh utama. Ketiga unsur dalam BG itu dimasukkan
ke dalam Sad Ripu, lalu ditambah tiga unsur lagi yaitu: Moha, Mada dan
Matsarya.
Moha adalah kebingungan yang menyebabkan pikiran
kita kacau sehingga tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Mada adalah kemabukan. Orang mabuk tentu pikirannya tak berfungsi dengan baik,
bahkan bisa mencelakakan orang lain. Matsarya artinya dengki dan iri hati.
Sifat ini harus bisa ditangkal karena kalau kedengkian itu disalurkan dengan
tidak baik juga merugikan orang lain.
Nampaknya Sad Ripu lebih mengarah kepada tuntunan
bagaimana harus berbuat baik. Sedangkan tiga unsur Sad Ripu yang diambil dari
BG bukan lagi sekedar tuntunan, tetapi keharusan yang dijalankan. Kalau itu
tetap dilakukan neraka yang dituju, karena pintu gerbangnya sudah dibuka.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 13 Juni 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar