15 Juni 2014

Tiga Gerbang Menuju Neraka


Trividam narakasyedam, dharam nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas, tasmad etat trayam tyajet. (Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju kehancuran jiwa, nafsu amarah dan loba, setiap orang harus menutupi sifat ini).

Kitab Bhagawad Gita (BG) percakapan XVI sloka 21 ini memberikan peringatan kepada manusia bahwa pintu menuju neraka terbuka selebar-lebarnya. Ada tiga pintu itu. Yang pertama sifat buruk yang diakibatkan oleh nafsu yang berlebih yang tidak ditunjang oleh kemampuan diri. Yang kedua sifat pemarah jauh dari welas asih. Yang ketiga keserakahan yang sampai merugikan hak orang lain. Ketiga sifat buruk ini apalagi saling menyatu dan tak ada upaya untuk menutupinya, maka jalan menuju neraka ibarat menempuh jalan tol bebas hambatan. 

Meski neraka begitu ditakuti, jalan menuju pintu gerbang itu masih saja terbuka luas dan sering tidak disadari oleh umat manusia. Nafsu berlebihan menjadi musuh utama manusia masa kini. Nafsu yang dikekang oleh panca indria dalam batas-batas tertentu, bukannya tidak boleh. Bahkan menjadi keharusan. Bagaimana orang bisa hidup dengan baik kalau tidak ada nafsu untuk hidup. Bagaimana orang bisa menuntut ilmu dengan baik jika tidak ada nafsu untuk belajar. Bagaimana kita bisa hidup berkecukupan untuk keluarga dan anak jika kita tak punya nafsu untuk bekerja sekeras-kerasnya di jalan dharma.

Kama (kamah) dalam sloka ini juga berarti keinginan yang berlebihan. Manusia harus punya keinginan tertentu, tetapi jika itu berlebihan dan dicari dengan jalan yang tidak baik, maka itulah yang harus dihindari. Ingin punya mobil dan rumah mewah tetapi dengan cara korupsi. Neraka akan ditemui, bahkan “neraka duniawi” bisa lebih cepat ditemui, ditangkap dan masuk penjara. 

Krodha (krodhas) artinya pemarah. Manusia dibekali sifat  marah, welas asih, polos dan sebagainya. Tetapi marah yang berlebihan harus dihindari. Marah harus ditakar dengan melihat situasi dan kondisi, juga mempertimbangkan kepada siapa marah itu diberikan. Memarahi anak kecil dan orang dewasa tentu berbeda. Marah di depan umum harus dilihat kepentingannya. Walikota Surabaya Tri Rismaharini suka marah di depan umum karena tujuannya untuk memperbaiki keadaan yang kepentingannya juga untuk umum. Ini bisa ditolerir, apalagi hanya dengan kata-kata. Konon ada tokoh penting yang suka marah dengan melempar asbak ke arah orang yang dimarahi.

Lobha (lobhas) dalam BG ini rupanya yang paling penting untuk diingat karena situasi sekarang banyak godaannya. Globalisasi memunculkan konsumerisme sehingga nafsu serakah mudah datang. Manusia masa kini banyak yang jor-joran, pamer kekayaan dan harta tanpa malu. Ibu-ibu pejabat membawa tas merek Hermes yang harganya ratusan juta rupiah, sesuatu yang sulit dibayangkan oleh orang-orang desa yang masih membawa tas plastik kresek. Yang paling celaka tentu saja keserakahan itu diperoleh dengan cara mencuri atau korupsi. Lihatlah berita-berita di televisi bagaimana pejabat yang korup itu hartanya melimpah, rumahnya ada di mana-mana, mobilnya berpuluh-puluh, semuanya hasil keserakahan. Dan kini semuanya disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alih-alih menuju pintu neraka di alam sana, “neraka duniawi” sudah datang menghukum mereka.

Jika kitab BG mengingatkan ada tiga unsur yang bisa membawa orang ke pintu neraka yakni Kama, Kroda dan Lobha, maka tuntunan yang dibuat para leluhur kita di masa lalu dengan mengambil intisari Weda, lebih luas lagi. Yakni Sad Ripu, enam musuh utama. Ketiga unsur dalam BG itu dimasukkan ke dalam Sad Ripu, lalu ditambah tiga unsur lagi yaitu: Moha, Mada dan Matsarya.

Moha adalah kebingungan yang menyebabkan pikiran kita kacau sehingga tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mada adalah kemabukan. Orang mabuk tentu pikirannya tak berfungsi dengan baik, bahkan bisa mencelakakan orang lain. Matsarya artinya dengki dan iri hati. Sifat ini harus bisa ditangkal karena kalau kedengkian itu disalurkan dengan tidak baik juga merugikan orang lain.

Nampaknya Sad Ripu lebih mengarah kepada tuntunan bagaimana harus berbuat baik. Sedangkan tiga unsur Sad Ripu yang diambil dari BG bukan lagi sekedar tuntunan, tetapi keharusan yang dijalankan. Kalau itu tetap dilakukan neraka yang dituju, karena pintu gerbangnya sudah dibuka.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 13 Juni 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar