17 Januari 2014

Carilah Kekayaan dengan Benar

Yo durlabhataram ptapya manusyam lobhato narah, dharmayamanta kamat sakalavancitahma bhavet
Sloka Sarasamuccaya nomor 9 ini terjemahan bebasnya: “Mereka yang memanfaatkan kelahirannya hanya untuk mengejar kekayaan, kesenangan, nafsu-nafsu kotor dan rakus, mereka yang tidak melakukan kebajikan di bumi, mereka inilah manusia yang tersesat dan pergi menjauh dari jalan kebenaran.”

Petuah kebajikan yang dihimpun oleh Bhagawan  Wararuci ini menarik untuk dibahas, ketika orang berlomba-lomba mengejar kekayaan dengan rakus. Kerakusan ini ada dengan berbagai cara, tergantung profesi masing-masing orang. Kalau dia pedagang maka dia bisa saja menggunakan berbagai muslihat. Misalnya, dengan mengutak-atik timbangan sehingga berat yang tertera pada timbangan tidak pas dengan keadaan sebenarnya. Beras yang tercantum dalam karung 25 kilogram, kalau ditimbang bisa hanya 23 kilogram. Mengoplos elpiji 3 kilogram dimasukkan ke tabung 12 kilogram, karena elpiji 3 kilogram itu adalah subsidi, tentu keuntungannya banyak.

Kalau dia pegawai bisa dengan menyulap tanda bukti pembelian barang. Bahkan bisa berkomplot dengan pedagang untuk mempermainkan kwitansi. Kalau dia pemegang kekuasaan yang berkaitan dengan anggaran, maka korupsinya bisa lebih besar lagi. Kalau dia pemegang kekuasaan yang menentukan kebijakan, maka suap pun bisa diterimanya. Minimal hadiah-hadiah yang dikatagorikan gratifikasi.

Bahkan para anggota dewan pun bisa memainkan anggaran hibah dan bantuan sosial untuk mengejar kekayaan dengan rakus. Ia dengan rajin dan seolah-olah membantu masyarakat menyiapkan proposal bantuan sosial yang akan diajukan ke eksekutif. Dan jika proposal itu diterima, anggota dewan itulah yang dengan berbagai cara supaya dirinya yang menerima, meski sebagai perantara. Bantuan itu dipotong sehingga masyarakat yang menerimanya kurang dari angka yang tertera. Itu pun masih dengan celoteh: “Ini hasil perjuangan saya, maka pilihlah saya dan partai saya pada saat pemilu”. Jadi, bantuan sosial itu banyak dijadikan alat kampanye politik, masyarakat pun jadi terbelah, seolah-olah bantuan itu terkait dengan partai. Maka, ketika pemerintah mulai menghentikan bantuan lewat anggota dewan ini, para anggota dewan jadi ngambek. Sebaliknya kalau eksekutif main obral, maka akan kena sanksi karena dikatagorikan penyelewengan. Banyak ada bupati dan gubernur yang bermasalah karena pembagian bantuan sosial.

Kitab Sarasamuccaya jelas menyebutkan bahwa perbuatan seperti itu adalah rakus dan tidak sesuai dengan jalan dharma. Resikonya pun disebutkan, bahwa kelak kelakuan seperti ini akan menimbulkan bencana. Kalau pedagang mengoplos elpiji, bisa saja bencana itu berupa meledaknya tabung elpiji. Tentu kalau polisi jeli dan mengetahui perbuatan jahat itu maka sang pedagang akan ditangkap. Akan halnya urusan korupsi, cepat atau lambat akan ketahuan. Apalagi jika pelakunya itu, karena saking rakusnya tak bisa menahan diri dengan kekayaannya, masyarakat curiga. Kok dia hanya jadi pegawai seperti itu, rumah dan mobilnya bagus. Kok anggota dewan seperti itu, bisa foya-foya. Masyarakat bisa melaporkan ke aparat hukum karena saat ini keterbukaan informasi begitu luas, orang bisa melapor lewat media sosial yang sulit dilacak.

Itu masih hukuman duniawi, artinya dihukum kasat mata seperti ditahan, diadili dan masuk penjara. Habislah sudah karier dan kehormatan keluarga. Sehari-hari kelihatan alim, rajin sembahyang, bahkan suka mengisi dharmawacana, eh, kini masuk pernjara. Padahal Sarasamuccaya menyebutkan pula hukuman yang jauh lebih berat, yakni setelah kematian tiba. Manusia mati tak membawa harta benda, tak membawa mobil mewah dan kenikmatan lainnya. Karma akan dibawa ke dunia sana.
Sloka 11 Sarasamuccaya menyebutkan: “Lakukanlah pencarian kekayaan dan kesenangan hanya berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran yang pasti akan mengantar ke surga. Janganlah melakukan segala macam kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran. Manusia yang mudah melakukan kejahatan pastilah neraka pahalanya.”


Nah, apakah neraka yang ingin dihuni setelah kematian tiba? Mencari kekayaan boleh, mari lakukan dengan benar. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 16 Januari 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar