Yad-yad acharati
sreshthas, tad-tad eve taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate
Sloka ini dikutip dari Percakapan Ketiga butir 21 dari Bhagawad Gita
(BG III.21) yang terjemahan bebasnya begini: “Apapun juga yang dilakukan oleh orang
besar (pemimpin), maka orang lain (masyarakat) akan mengikutinya. Contoh
(teladan) apapun yang diberikannya, orang lain (masyarakat) akan meniru dan
menurutinya.
Kita membicarakan kembali masalah pemimpin dan seni kepemimpinan pada
saat menjelang Pemilu ini dan pada saat calon legislator atau wakil rakyat dan
calon senator (Dewan Perwakilan Daerah) sedang asyik memperkenalkan dirinya.
Kali ini bukan tentang syarat-syarat seorang pemimpin dan juga bukan tentang
apa yang harus dikuasai seorang pemimpin. Tetapi, apa yang patut dilakukan oleh
seorang pemimpin sehingga ia bisa menjadi panutan atau teladan di masyarakat.
Untuk itulah wejangan Sri Krishna kepada Arjuna dalam kitab Bhagawad Gita layak
untuk dicamkan. Ini hanya satu wejangan saja dari begitu banyak wejangan tentang
kepemimpinan yang ada dalam kitab Bhagawad Gita.
Pemimpin itu jelas harus memberi contoh dalam berperilaku, karena
masyarakat akan segera mengikuti perilakunya itu. Atau setidak-tidaknya
masyarakat mencari pembenaran di dalam perilaku pemimpinnya. Jika pemimpinnya
berprilaku buruk, masyarakat bisa berkata: “Wow dia saja berperilaku begitu,
masak kita tidak boleh?” Masyarakat ibarat menggunakan pemimpin itu sebagai
cermin. Karena itu seharusnya pemimpin menjaga tingkah lakunya di masyarakat
dan seluruh aktifitasnya bisa memberikan kesejukan pada masyarakat. Karena
tugas pemimpin adalah memberikan rasa damai kepada masyarakat dan bukan
menyakiti hati masyarakat. Dalam Yajur Weda sloka XIII. 30 disebutkan: “Seorang
pemimpin melindungi warganya tanpa menyakiti hati masyarakat” (acchinan
napatrah praja anuviksasva).
Masyarakat memilih seorang pemimpin untuk meningkatkan kesejahtraan
warga. Bukan dengan memberikan uang pada saat minta suara dukungan untuk
dipilih tetapi setelah itu masyarakat ditinggalkan. Karena itu pemimpin harus
menyatu dengan masyarakat sehingga tahu apa kebutuhan masyarakat yang harus
diperjuangkan. Sudah tahu jalan di pedesaan banyak yang rusak, seorang pemimpin
harus memperjuangkan anggaran untuk memperbaiki jalan itu. Bukan memperjuangkan
anggaran untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri atau daerah lain dengan alasan
study banding. Kini togel yang konon sumbernya di Malaysia (orang desa bilang
togel Malaysia) setiap hari mencecoki rakyat desa, hanya libur sekali dalam
seminggu. Orang-orang desa asyik membahas kertas yang berisi angka-angka untuk
dijadikan “ramalan menebak”. Ini jelas suatu gerakan pembodohan di masyarakat.
Kalau polisi tidak bertindak padahal itu sudah terang-benderang di depan mata,
seorang pemimpin harus mendidik masyarakat agar menjauhi judi yang diliputi
dunia mistik itu. Janganlah kemudian pemimpin itu yang ikut memasang judi
togel.
Memberi teladan ini adalah hal yang paling penting ditekankan dalam
Bhagawad Gita. Bagaimana kita menyuruh orang lain berhenti berjudi kalau
pemimpin itu sendiri ikut berjudi? Bagaimana meminta warga untuk tidak merokok
di depan umum sementara pemimpinnya tak berhenti merokok? Contoh ini semakin nyata
ketika Perda tentang pembatasan merokok sudah dihasilkan oleh DPRD Bali, tetapi
karena tidak ada teladan dari pemimpinnya, masyarakat tetap saja merokok di
tempat umum. Jangan-jangan masyarakat malah tidak tahu ada Perda itu. Nah, kitab
Sama Weda sloka 733 ada menyebutkan: “Wahai para pemimpin, datangilah
masyarakat dan bebaskan mereka dari penderitaan.”
Penderitaan itu bukan saja masalah kemiskinan, tetapi juga kebodohan karena
kurangnya pendidikan dan informasi, serta nafsu berjudi yang jelas-jelas jauh
dari ajaran agama.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 29 November 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar