01 Desember 2013

Pemimpin Harus Memberi Teladan



Yad-yad acharati sreshthas, tad-tad eve taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate
 Sloka ini dikutip dari Percakapan Ketiga butir 21 dari Bhagawad Gita (BG III.21) yang terjemahan bebasnya begini: “Apapun juga yang dilakukan oleh orang besar (pemimpin), maka orang lain (masyarakat) akan mengikutinya. Contoh (teladan) apapun yang diberikannya, orang lain (masyarakat) akan meniru dan menurutinya.

 Kita membicarakan kembali masalah pemimpin dan seni kepemimpinan pada saat menjelang Pemilu ini dan pada saat calon legislator atau wakil rakyat dan calon senator (Dewan Perwakilan Daerah) sedang asyik memperkenalkan dirinya. Kali ini bukan tentang syarat-syarat seorang pemimpin dan juga bukan tentang apa yang harus dikuasai seorang pemimpin. Tetapi, apa yang patut dilakukan oleh seorang pemimpin sehingga ia bisa menjadi panutan atau teladan di masyarakat. Untuk itulah wejangan Sri Krishna kepada Arjuna dalam kitab Bhagawad Gita layak untuk dicamkan. Ini hanya satu wejangan saja dari begitu banyak wejangan tentang kepemimpinan yang ada dalam kitab Bhagawad Gita.

Pemimpin itu jelas harus memberi contoh dalam berperilaku, karena masyarakat akan segera mengikuti perilakunya itu. Atau setidak-tidaknya masyarakat mencari pembenaran di dalam perilaku pemimpinnya. Jika pemimpinnya berprilaku buruk, masyarakat bisa berkata: “Wow dia saja berperilaku begitu, masak kita tidak boleh?” Masyarakat ibarat menggunakan pemimpin itu sebagai cermin. Karena itu seharusnya pemimpin menjaga tingkah lakunya di masyarakat dan seluruh aktifitasnya bisa memberikan kesejukan pada masyarakat. Karena tugas pemimpin adalah memberikan rasa damai kepada masyarakat dan bukan menyakiti hati masyarakat. Dalam Yajur Weda sloka XIII. 30 disebutkan: “Seorang pemimpin melindungi warganya tanpa menyakiti hati masyarakat” (acchinan napatrah praja anuviksasva).

Masyarakat memilih seorang pemimpin untuk meningkatkan kesejahtraan warga. Bukan dengan memberikan uang pada saat minta suara dukungan untuk dipilih tetapi setelah itu masyarakat ditinggalkan. Karena itu pemimpin harus menyatu dengan masyarakat sehingga tahu apa kebutuhan masyarakat yang harus diperjuangkan. Sudah tahu jalan di pedesaan banyak yang rusak, seorang pemimpin harus memperjuangkan anggaran untuk memperbaiki jalan itu. Bukan memperjuangkan anggaran untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri atau daerah lain dengan alasan study banding. Kini togel yang konon sumbernya di Malaysia (orang desa bilang togel Malaysia) setiap hari mencecoki rakyat desa, hanya libur sekali dalam seminggu. Orang-orang desa asyik membahas kertas yang berisi angka-angka untuk dijadikan “ramalan menebak”. Ini jelas suatu gerakan pembodohan di masyarakat. Kalau polisi tidak bertindak padahal itu sudah terang-benderang di depan mata, seorang pemimpin harus mendidik masyarakat agar menjauhi judi yang diliputi dunia mistik itu. Janganlah kemudian pemimpin itu yang ikut memasang judi togel.

Memberi teladan ini adalah hal yang paling penting ditekankan dalam Bhagawad Gita. Bagaimana kita menyuruh orang lain berhenti berjudi kalau pemimpin itu sendiri ikut berjudi? Bagaimana meminta warga untuk tidak merokok di depan umum sementara pemimpinnya tak berhenti merokok? Contoh ini semakin nyata ketika Perda tentang pembatasan merokok sudah dihasilkan oleh DPRD Bali, tetapi karena tidak ada teladan dari pemimpinnya, masyarakat tetap saja merokok di tempat umum. Jangan-jangan masyarakat malah tidak tahu ada Perda itu. Nah, kitab Sama Weda sloka 733 ada menyebutkan: “Wahai para pemimpin, datangilah masyarakat dan bebaskan mereka dari penderitaan.”

Penderitaan itu bukan saja masalah kemiskinan, tetapi juga kebodohan karena kurangnya pendidikan dan informasi, serta nafsu berjudi yang jelas-jelas jauh dari ajaran agama. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 29 November 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar