Purvve vayasi yah santah sa santa
iti me matih, dhatusu ksiyamanesu samah kasya na vidyate
Sloka 28 Kitab Sarasamuccaya ini arti bebasnya: “Masa
muda adalah waktu yang terbaik untuk mempelajari hakekat dari kebenaran, masa-masa
untuk memperoleh harta dan menimba ilmu pengetahuan.”
Sloka ini bersambung terus ke beberapa sloka lainnya,
yang intinya mengajarkan kepada kita untuk tidak membuang kesempatan di masa
muda guna mencari harta, ilmu pengetahuan, dan hakekat kebenaran itu sendiri. Ini sejalan
dengan ajaran Catur Asrama. Masa muda pada era Brahmacari, saatnya menimba ilmu
sebelum memasuki masa Grahasta.
Dalam sloka 29 Sarasamuccaya ditekankan lagi bahwa
kesempatan yang terbuka di masa muda itu waktunya tidak banyak. Disebutkan,
setelah masa muda pasti akan disusul oleh masa tua, dan setelah masa tua
berlalu maka kematian sudah pasti mendekat. Karena itu dianjurkan, mumpung
masih muda marilah melakukan pekerjaan yang sebaik-baiknya, belajar menuntut
ilmu dan belajar mengenal dan menghayati apa arti kebajikan itu.
Tidaklah dianjurkan untuk menggunakan masa muda
sebagai masa berfoya-foya, sebagaimana kini yang sering dijadikan “pedoman
hidup” oleh anak muda moderen. Kebiasaan pun harus mulai dilatih di masa muda.
Kalau masa muda sudah suka minum-minuman keras, merokok tak kenal tempat, maka
di masa tua akan sulit menghilangkan kebiasaan ini. Banyak para penekun
spiritual, termasuk mereka yang mau menjadi pendeta (sulinggih), yang berjuang
setengah mati untuk menghilangkan kebiasaan merokok karena merokok itu sudah
dijalani sejak muda. Mereka menyebutkan kalau tak merokok rasanya tak bisa
kerja, malah tak bisa berpikir jernih, serba tak enak dan sebagainya. Itu
karena sudah kecanduan. Apa pun kalau sudah kecanduan maka
sulit untuk menghilangkan. Tapi bukannya tak bisa.
Mencari ilmu di masa muda adalah wajib. Otak kita
masih bisa mudah menghafal dan mengingat berbagai pelajaran. Coba kita
perhatikan anak-anak kecil, mereka mudah sekali menghafal sesuatu yang kemudian
ditirukan. Anak-anak usia sekolah termasuk mudah menghafal mantram. Coba kalau sudah
tua, sulit.
Banyak orangtua yang tak hafal mantram Tri Sandhya yang hanya enam bait,
misalnya. Padahal mantram itu sudah dihafal anak-anak sekolah dasar. Bahkan
murid Taman Kanak-Kanak. Artinya, kemampuan otak menghafal di masa muda itu
jauh lebih unggul dan akan membekas ke masa tua. Sarasamuccaya menyebut ini
sebagai kiasan dalam sloka 27: “Bagaikan keberadaan ilalang
muda yang tajam, akan tidak tajam lagi di masa tuanya. Demikianlah hendaknya
ilmu pengetahuan itu dikejar sedini mengkin, pada masa muda yang sehat.”
Pentingnya mengejar ilmu pengetahuan sedini mungkin
juga disebabkan oleh ketidak-pastian akan kapan saat kematian itu datang. Kematian
adalah misteri, tak pernah ada pemberitahuan sebelumnya, dan kalau memakai
bahasa politik kematian itu adalah hak prerogatif Tuhan. Karena itu setiap
orang dianjurkan untuk selalu berbuat baik, selalu berjalan di atas kebenaran
berdasarkan dharma, sehingga pada saat kematian tiba kita tidak menyimpan
utang, baik berupa kesalahan dan berbagai kealpaan, maupun dosa-dosa yang
menumpuk.
Sloka 31 kitab Sarasamuccaya menyebutkan: “Karena
kematian tidak bisa di prediksi kedatangannya, pun tidak ada yang memberi tahu
kapan datangnya, selagi masih hidup, lakukanlah dengan segera kebajikan itu.”
Dalam bahasa yang sederhana bisa dikatakan, janganlah menunda untuk berbuat
baik. Jangan menunda untuk melakukan ibadah suci. Jangan menunda untuk
melakukan roitual yadnya. Sepanjang kesempatan itu datang dan segala sesuatunya
mendukung, misalnya, ada dana, ada hari baik dan sebagainya.
Kita sering menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya
bisa kita lakukan dengan cepat. Misalnya berjanji: bulan depan mau sembahyang
ke Pura Besakih. Tahun depan mau adakan upacara potong gigi untuk anak-anak.
Pas bulan depan dan tahun depannya datang, ditunda lagi. Ah, masih ada waktu,
itu dijadikan alasan.
Kalau tiba-tiba kematian itu datang dengan berbagai
sebab, maka keinginan kita itu akan menjadi utang yang tak pernah bisa dibayar.
Mari jangan kita sia-siakan waktu, apa yang bisa dikerjakan sekarang tak usah
ditunda sampai besok.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 24 Januari 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar