21 Juli 2022

Tumpek Krulut Hari Kasih Sayang


Sahabat yang baik. Kali ini saya mewacanakan soal Tumpek Kerulut, hari suci umat Hindu etnis Nusantara, khususnya Bali. Tumpek itu adalah hari yang wewarannya Sabtu Kliwon, jadi ada enam tumpek dalam system wariga Bali, warisan dari Jawa Kuno. Salah satunya Tumpek Krulut. Kali ini jatuh pada Sabtu 23 Juli 2022 ini.

Tentu ada yang menarik kali ini. Menariknya karena Gubernur Bali Wayan Koster memberikan instruksi bagaimana merayakan Tumpek Krulut. Luar biasa, belum pernah selama ini ada gubernur yang  memberi instruksi untuk perayaan yang sifatnya keagamaan. Mungkin beliau menganggap seorang gubernur itu harus juga mengurusi lebih jauh soal agama. Ya baik-baik saja, ini menyangkut gaya dan kebijakan seseorang yang sulit kita komentari terlalu jauh. Setiap pemimpin punya gaya memimpin yang berbeda.

Nah, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Instruksi Gubernur Bali Nomor 8 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Krulut dengan Upacara jana Kerthi sebagai pelaksanaan Tata - Titi Kehidupan Masyrakat Bali Berdasarkan Nilai - Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era Baru. Wah Panjang sekali judulnya. Instruksi ini tertanggal 30 Juni 2022. Instruksi itu ditujukan kepada seluruh Lembaga adat dan instansi yang ada di Bali, dirinci sampai 10 penerima instruksi. Entah kenapa Lembaga keagamaan tidak dimasukkan sebagai penerima instruksi, misalnya, tidak ada ditujukan ke Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Apa isi instruksi itu? Dasarnya mengacu ke Surat Edaran Gubernur yang sudah dikeluarkan jauh sebelumnya, pada 4 Januari 2022 yang diumumkan dalam pertemuan terbuka di Pura Samuan Tiga Gianyar. Surat edaran itu judulnya: Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai2 Kearifan Lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era Baru. Saya tak ingin mengkomentari soal judul SE ini, apalagi ada Bali Era Baru seolah-olah mengingatkan jargon pemerintahan sebelumnya yang senang dengan sebutan ada orde lama, orde baru, dan orde-orde lainnya.

Dalam SE inilah warisan leluhur suci orang Bali dijabarkan ke dalam Sad Kerti, yakni Atma Kerti, Segara Kerti, Danu Kerti, Wana Kerti, Jana Kerti dan Jagat Kerti. Begitu lengkapnya bagaimana orang Bali harus menerapkan Sad Kerti ini. Dalam praktek kesehariannya, Gub Wayan Koster acap kali menyebut Sad Kerti itu. Apa pun bisa dikaitkan dengan Sad Kerti. Maka perayaan hari suci Tumpek Krulut ini juga dikaitkan dengan Sad Kerti itu. Kerti yang mana? Dimasukkan kedalam Jana Kerti yang diartikan sebagai Penyucian dan Memuliakan Manusia. Mengacu kepala surat edaran inilah Instruksi Gubernur soal Tumpek Krulut dimulai.

Instruksi ini ditujukan kepada instansi dan Lembaga yang kalau dibaca seluruhnya adalah untuk seluruh masyarakat Bali. Kalau iuraikan kepada siapa instruksi ini disampaikan, ini rinciannya. 1. Pemerintah Prov. Bali. 2 Pemda Kabupaten dan Kota. 3 Majelis Desa Adat Provinsi. 4 Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota. 5 Lembaga Vertikal. 6 Desa dan Kelurahan. 7 Desa Adat. 8 Keluarga. 9 Lembaga Pendidikan. 10 Organisasi Kemasyarakatan dan Swasta. 11 Masyarakat. Terus terang saya tak paham kenapa 11 instansi dan Lembaga itu mendapatkan isntruksi, dan apakah tidak tumpeng tindih.  Misalnya ada desa dan kelurahan tapi ada lagi desa adat. Belum lagi ada pula MDA.

Rupanya, setiap instansi dan Lembaga yang ditujukan point perayaannya berbeda-beda, meski bedanya sedikit sesuai wilayah atau pembinaannya. Intinya adalah mengatur kegiatan niskala, apa saja upacaranya dan apa upakaranya. Lalu kegiatan sekalanya, apa saja. Kemudian waktu dan tempatnya.  Terakhir siapa pesertanya dan siapa kordinatornya. Rincian ini yang berbeda di setiap instansi dan Lembaga. Uraian untuk kegiatan Niskala hampir sama. Intinya: Penyucian atau otonan sarwa tetangguran (gamelan atau alat music lainnya) untuk memuliakan Hyang Widhi sebagai manifestasi sebagai Dewa Iswara. Yang berbeda adalah jenis uapakarnya, tergantung tempat.

Yang menarik adalah kegiatan sekala. Merayakan Tumpek Krulut sebagai rahina tresna asih, hari kasih sayang dresta Bali dengan menggelar dan menonton Bersama pertunjukan seni. Kunjungan sosial ke panti asuhan, panti wreda, rumah tahanan, rumah sakit. Memberi bantuan kepada siswa/mahasiswa yang tidak mampu tapi berprestasi, memberi penghargaan kepada penggiat seni budaya. Yang menarik lainnya, memberi ucapan selamat Rahina Tresna Asih melalui berbagai media. Jadi bagi yang gemar bermedia sosial, ayo kirim ucapan: Rajayeng Rahina Tresna Asih Tumpek Krulut di FB, Instagram, Tiktok, Twitter dan di mana pun. Boleh disertai joget2 asal tetap dresta Bali.

Luar biasa. Kalau saya bahas semuanya dari instruksi ini bisa Panjang sekali. Pokoknya Tumpek Krulut akan sangat meriah di Bali, di mana-mana ada pertunjukan seni, di mana-mana orang membeikan kasih sayang, baik berupa ucapan maupun makanan, pakaian, uang dan seterusnya kepada fakir miskin, panti asuhan, anak terlantar dan seterusnya. Dan media sosial penuh dengan gambar-gambar ucapan Rahajeng Rahina Tresna Asih. Ayo bikin foto dan gambar sekarang, atau sudah bikin? Apa sebenarnya latar belakang kehebohan ini? Penyebabnya karena ada kecendrungan para remaja merayakan Hari Kasih Sayang Velentien Day secara berlebihan pada setiap tanggal 14 Februari.

Nah, itu pangkal soalnya. Valentien Day dianggap sebagai kekhawatiran jika itu dirayakan secara berlebihan, apalagi itu bukan budaya Nusantara. Valentien Day adalah budaya asing. Banyak tokoh cemas, baik tokoh dari agama apa pun. Tapi tokoh2 agama Islam umumnya hanya melarang atau meredam jgn berlebihan dan tidak mencari hari lain untuk menyaingi. Nah kita di Bali, rupanya lebih maju… entahlah apa ini benar. Kita berupaya mencari hari pengganti yang khas Bali, sesuai dresta Bali. Maklum istilah dresta Bali mulai populer sekarang ini, entah bernuansa politis atau tidak. Maka ketemulah pengganti Valentien day itu adalah Tumpek Krulut.

Masalahnya, apa benar Tumpek Krulut adalah hari kasih sayang, rahina tresna asih, menurut Bapak Gubernur? Benar atau tidak, itu bukanlah jawaban dalam menguji soal2 agama dan adat di Bali, sejak dulu. Dresta Bali sejak dulu adalah dresta yang sesuai dengan tradisi setempat, tidak semua bisa diseragamkan, apalagi dengan instruksi harus begini harus begitu. Jenazah harus dibakar adalah benar sesuai dresta di banyak desa, tetapi salah jika memakai dresta Desa Pujungan, desa saya. Layon harus dipendem, tak boleh dibakar. Jadi salah dan benar itu relative. Dan instruksi tak bisa menyeragamkannya.

Tumpek Krulut itu adalah pemujaan kepada Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Hyang Iswara. Leluhur kita memang menyebutkan Hyang Iswara adalah dewanya keindahan dan mencintai sesuatu yang indah lewat suara dan bebunyian. Dari uraian ini diposisikan bahwa semua jenis gamelan yang menyuaran keindahan haruslah disucikan pada hari Tumpek Krulut. Apalagi ciri khas sesajen dalam Tumpek Krulut, ada yang disebut sesayut lulut asih. Ini adalah sesayut memohon kasih sayang untuk semua makhluk. Tapi tak semua orang menggunakan sesaut lulut asih, ini juga sebagai pertanda bahwa dresta Bali itu bermacam-macam dan tak bisa diseragamkan.

Nah, simbol keindahan dari memuja Hyang Iswara ini jika dijadikan sebagai hari kasih sayang versi Bali, tentu tidak ada salahnya. Kasih sayang semua makhluk adalah ajaran utama dalam Hindu, juga di agama lainnya. Dan jika hari Tumpek Krulut dijadikan sebagai hari kasih sayang versi Bali dengan sebutan Rahina Tresna Asih, ya, tak apa-apa. Jadi Gub Koster tak salah karena tidak bertentangan. Cuma agak berlebihan juga jika itu disampaikan lewat instruksi, apalagi sampai diatur bagaimana ritualnya, kapan waktunya, siapa yang hadir, dan seterusnya. Ini bisa mematikan dresta yang berbeda-beda di Bali.

Tapi sebagai cara menggugah bagaimana orang Bali selalu tresna asih kepada sesamanya, hari kasih sayang khas Bali ini barangkali diperlukan. Banyak kaum papa dan miskin di Bali yang dibantu oleh masyarakay nonBali, karena perhatian kita kurang, Panti Asuhan yang khas Bali apalagi jelas-jelas Hindu, bisa dihitung dengan jari, sementara banyak orang miskin asli Bali ditampung di panti asuhan umat lain. Apalagi Panti Wreda, dengan alasan orang Bali tak boleh menelantarkan orang tuanya, maka hampir taka da orang jompo dimasukkan ke panti wreda. Namun jika tetap dirawat di rumah, berapa orang yang bergerak memberi bantuan? Ke mana tresna asih kita dibawa?

Saya setuju-setuju saja Tumpek Krulut dijadikan hari Tresna Asih tetapi semuanya berlangsung secara wajar. Jangan berlebihan. Jika berlebihan seolah-olah hanya hari itu saja kita melakukan perbuatan Tresna Asih, lainnya tidak. Padahal dalam ajaran Hindu kasih sayang kepada semua mahkluk harus setiap hari dilakukan. Hindu adalah ajaran shanti, kedamaian. Setiap orang diwajibkan punya rasa asih atau prema dalam Bahasa lainnya. Dan rasa asih ini bukan Cuma dalam arti kasmaran sebagaimana valentine day, tetapi kasih yang sangat luas. Dalam hal ini uraian instruksi Gub Bali itu benar, kasih kepada semua mahluk. Bukan Cuma kepada pacar sebagaimana ciri khas Valentien Day.

Kasih sayang dalam Hindu tak cuma diberikan kepada seorang kekasih, seorang pacar, seorang istri, tetapi kepada semua orang. Terutama sekali justru kasih sayang kepada orang tua, bapak dan ibu yang melahirkan kita ke dunia ini. Kitab Sarassamucaya Sloka 241 menyebutkan:  “Orang yang menghormati dengan penuh kasih sayang kepada orang tuanya, yang membuat orang tua itu senang dan bahagia, pahalanya adalah ia akan selalu mendapat berkah dalam kehidupan ini, baik yang sekarang maupun di kemudian hari.”

Wah, karena sudah menyinggung kitab Sarasamuscaya, uraian saya bisa jadi panjang jika diteruskan. Saya akhiri saja dengan berpesan, bukan instruksi ya, mari kita melakukan persembahyangan pada Tumpek Krulut dengan memuja Hyang Iswara memohon anugrahnya agar segala keindahan dan kasih sayang terus hidup lestari di bumi ini. Tirtha pemujaan kita siratkan di gamelan yang kita miliki. Kalau sempat dan kebetulan Tumpek Krulut itu malam minggu, mari kita pukul gamelan itu dan kita menari untuk menyebarkan tresna asih. Jangan dipaksakan harus begini harus begitu sampai jamnya diatur. Salam rahayu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar