Sahabat yang baik. Kali ini saya mewacanakan soal Tumpek Kerulut, hari suci umat Hindu etnis Nusantara, khususnya Bali. Tumpek itu adalah hari yang wewarannya Sabtu Kliwon, jadi ada enam tumpek dalam system wariga Bali, warisan dari Jawa Kuno. Salah satunya Tumpek Krulut. Kali ini jatuh pada Sabtu 23 Juli 2022 ini.
Tentu ada yang menarik kali ini. Menariknya karena
Gubernur Bali Wayan Koster memberikan instruksi bagaimana merayakan Tumpek
Krulut. Luar biasa, belum pernah selama ini ada gubernur yang memberi instruksi untuk perayaan yang
sifatnya keagamaan. Mungkin beliau menganggap seorang gubernur itu harus juga
mengurusi lebih jauh soal agama. Ya baik-baik saja, ini menyangkut gaya dan
kebijakan seseorang yang sulit kita komentari terlalu jauh. Setiap pemimpin
punya gaya memimpin yang berbeda.
Nah, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Instruksi Gubernur Bali Nomor 8 Tahun
2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Krulut dengan Upacara jana Kerthi sebagai
pelaksanaan Tata - Titi Kehidupan Masyrakat Bali Berdasarkan Nilai - Nilai
Kearifan Lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era Baru. Wah Panjang sekali judulnya.
Instruksi ini tertanggal 30 Juni 2022. Instruksi itu ditujukan kepada seluruh Lembaga
adat dan instansi yang ada di Bali, dirinci sampai 10 penerima instruksi. Entah
kenapa Lembaga keagamaan tidak dimasukkan sebagai penerima instruksi, misalnya,
tidak ada ditujukan ke Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Apa isi instruksi itu? Dasarnya mengacu
ke Surat Edaran Gubernur yang sudah dikeluarkan jauh sebelumnya, pada 4 Januari
2022 yang diumumkan dalam pertemuan terbuka di Pura Samuan Tiga Gianyar. Surat
edaran itu judulnya: Tata Titi Kehidupan
Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai2 Kearifan Lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era
Baru. Saya tak ingin mengkomentari soal judul SE ini, apalagi ada Bali Era Baru
seolah-olah mengingatkan jargon pemerintahan sebelumnya yang senang dengan
sebutan ada orde lama, orde baru, dan orde-orde lainnya.
Dalam SE inilah warisan leluhur suci orang Bali
dijabarkan ke dalam Sad Kerti, yakni Atma Kerti, Segara Kerti, Danu Kerti, Wana
Kerti, Jana Kerti dan Jagat Kerti. Begitu lengkapnya bagaimana orang Bali harus
menerapkan Sad Kerti ini. Dalam praktek kesehariannya, Gub Wayan Koster acap
kali menyebut Sad Kerti itu. Apa pun bisa dikaitkan dengan Sad Kerti. Maka
perayaan hari suci Tumpek Krulut ini juga dikaitkan dengan Sad Kerti itu. Kerti
yang mana? Dimasukkan kedalam Jana Kerti yang diartikan sebagai Penyucian dan
Memuliakan Manusia. Mengacu kepala surat edaran inilah Instruksi Gubernur soal
Tumpek Krulut dimulai.
Instruksi ini ditujukan kepada instansi dan Lembaga yang
kalau dibaca seluruhnya adalah untuk seluruh masyarakat Bali. Kalau iuraikan
kepada siapa instruksi ini disampaikan, ini rinciannya. 1. Pemerintah Prov.
Bali. 2 Pemda Kabupaten dan Kota. 3 Majelis Desa Adat Provinsi. 4 Majelis Desa
Adat Kabupaten/Kota. 5 Lembaga Vertikal. 6 Desa dan Kelurahan. 7 Desa Adat. 8
Keluarga. 9 Lembaga Pendidikan. 10 Organisasi Kemasyarakatan dan Swasta. 11
Masyarakat. Terus terang saya tak paham kenapa 11 instansi dan Lembaga itu
mendapatkan isntruksi, dan apakah tidak tumpeng tindih. Misalnya ada desa dan kelurahan tapi ada lagi
desa adat. Belum lagi ada pula MDA.
Rupanya, setiap instansi dan Lembaga yang ditujukan point
perayaannya berbeda-beda, meski bedanya sedikit sesuai wilayah atau
pembinaannya. Intinya adalah mengatur kegiatan niskala, apa saja upacaranya dan
apa upakaranya. Lalu kegiatan sekalanya, apa saja. Kemudian waktu dan tempatnya. Terakhir siapa pesertanya dan siapa kordinatornya.
Rincian ini yang berbeda di setiap instansi dan Lembaga. Uraian untuk kegiatan
Niskala hampir sama. Intinya: Penyucian atau otonan sarwa tetangguran (gamelan
atau alat music lainnya) untuk memuliakan Hyang Widhi sebagai manifestasi
sebagai Dewa Iswara. Yang berbeda adalah jenis uapakarnya, tergantung tempat.
Yang menarik adalah kegiatan sekala. Merayakan Tumpek
Krulut sebagai rahina tresna asih, hari kasih sayang dresta Bali dengan
menggelar dan menonton Bersama pertunjukan seni. Kunjungan sosial ke panti
asuhan, panti wreda, rumah tahanan, rumah sakit. Memberi bantuan kepada
siswa/mahasiswa yang tidak mampu tapi berprestasi, memberi penghargaan kepada
penggiat seni budaya. Yang menarik lainnya, memberi ucapan selamat Rahina
Tresna Asih melalui berbagai media. Jadi bagi yang gemar bermedia sosial, ayo
kirim ucapan: Rajayeng Rahina Tresna Asih Tumpek Krulut di FB, Instagram,
Tiktok, Twitter dan di mana pun. Boleh disertai joget2 asal tetap dresta Bali.
Luar biasa. Kalau saya bahas semuanya dari instruksi ini
bisa Panjang sekali. Pokoknya Tumpek Krulut akan sangat meriah di Bali, di mana-mana
ada pertunjukan seni, di mana-mana orang membeikan kasih sayang, baik berupa
ucapan maupun makanan, pakaian, uang dan seterusnya kepada fakir miskin, panti
asuhan, anak terlantar dan seterusnya. Dan media sosial penuh dengan gambar-gambar
ucapan Rahajeng Rahina Tresna Asih. Ayo bikin foto dan gambar sekarang, atau
sudah bikin? Apa sebenarnya latar belakang kehebohan ini? Penyebabnya karena
ada kecendrungan para remaja merayakan Hari Kasih Sayang Velentien Day secara
berlebihan pada setiap tanggal 14 Februari.
Nah, itu pangkal soalnya. Valentien Day dianggap sebagai
kekhawatiran jika itu dirayakan secara berlebihan, apalagi itu bukan budaya
Nusantara. Valentien Day adalah budaya asing. Banyak tokoh cemas, baik tokoh
dari agama apa pun. Tapi tokoh2 agama Islam umumnya hanya melarang atau meredam
jgn berlebihan dan tidak mencari hari lain untuk menyaingi. Nah kita di Bali,
rupanya lebih maju… entahlah apa ini benar. Kita berupaya mencari hari
pengganti yang khas Bali, sesuai dresta Bali. Maklum istilah dresta Bali mulai
populer sekarang ini, entah bernuansa politis atau tidak. Maka ketemulah
pengganti Valentien day itu adalah Tumpek Krulut.
Masalahnya, apa benar Tumpek Krulut adalah hari kasih
sayang, rahina tresna asih, menurut Bapak Gubernur? Benar atau tidak, itu
bukanlah jawaban dalam menguji soal2 agama dan adat di Bali, sejak dulu. Dresta
Bali sejak dulu adalah dresta yang sesuai dengan tradisi setempat, tidak semua
bisa diseragamkan, apalagi dengan instruksi harus begini harus begitu. Jenazah
harus dibakar adalah benar sesuai dresta di banyak desa, tetapi salah jika
memakai dresta Desa Pujungan, desa saya. Layon harus dipendem, tak boleh
dibakar. Jadi salah dan benar itu relative. Dan instruksi tak bisa
menyeragamkannya.
Tumpek Krulut itu adalah pemujaan kepada Hyang Widhi
dalam manifestasinya sebagai Hyang Iswara. Leluhur kita memang menyebutkan
Hyang Iswara adalah dewanya keindahan dan mencintai sesuatu yang indah lewat
suara dan bebunyian. Dari uraian ini diposisikan bahwa semua jenis gamelan yang
menyuaran keindahan haruslah disucikan pada hari Tumpek Krulut. Apalagi ciri
khas sesajen dalam Tumpek Krulut, ada yang disebut sesayut lulut asih. Ini
adalah sesayut memohon kasih sayang untuk semua makhluk. Tapi tak semua orang
menggunakan sesaut lulut asih, ini juga sebagai pertanda bahwa dresta Bali itu
bermacam-macam dan tak bisa diseragamkan.
Nah, simbol keindahan dari memuja Hyang Iswara ini jika
dijadikan sebagai hari kasih sayang versi Bali, tentu tidak ada salahnya. Kasih
sayang semua makhluk adalah ajaran utama dalam Hindu, juga di agama lainnya.
Dan jika hari Tumpek Krulut dijadikan sebagai hari kasih sayang versi Bali
dengan sebutan Rahina Tresna Asih, ya, tak apa-apa. Jadi Gub Koster tak salah
karena tidak bertentangan. Cuma agak berlebihan juga jika itu disampaikan lewat
instruksi, apalagi sampai diatur bagaimana ritualnya, kapan waktunya, siapa
yang hadir, dan seterusnya. Ini bisa mematikan dresta yang berbeda-beda di Bali.
Tapi sebagai cara menggugah bagaimana orang Bali selalu
tresna asih kepada sesamanya, hari kasih sayang khas Bali ini barangkali
diperlukan. Banyak kaum papa dan miskin di Bali yang dibantu oleh masyarakay
nonBali, karena perhatian kita kurang, Panti Asuhan yang khas Bali apalagi
jelas-jelas Hindu, bisa dihitung dengan jari, sementara banyak orang miskin
asli Bali ditampung di panti asuhan umat lain. Apalagi Panti Wreda, dengan
alasan orang Bali tak boleh menelantarkan orang tuanya, maka hampir taka da orang
jompo dimasukkan ke panti wreda. Namun jika tetap dirawat di rumah, berapa
orang yang bergerak memberi bantuan? Ke mana tresna asih kita dibawa?
Saya setuju-setuju saja Tumpek Krulut dijadikan hari Tresna
Asih tetapi semuanya berlangsung secara wajar. Jangan berlebihan. Jika berlebihan
seolah-olah hanya hari itu saja kita melakukan perbuatan Tresna Asih, lainnya
tidak. Padahal dalam ajaran Hindu kasih sayang kepada semua mahkluk harus
setiap hari dilakukan. Hindu
adalah ajaran shanti, kedamaian.
Setiap orang diwajibkan punya rasa asih atau prema dalam Bahasa lainnya. Dan rasa asih ini bukan Cuma dalam arti
kasmaran sebagaimana valentine day, tetapi kasih yang sangat luas. Dalam hal
ini uraian instruksi Gub Bali itu benar, kasih kepada semua mahluk. Bukan Cuma kepada
pacar sebagaimana ciri khas Valentien Day.
Kasih sayang dalam Hindu tak cuma diberikan kepada
seorang kekasih, seorang pacar, seorang istri, tetapi kepada semua orang.
Terutama sekali justru kasih sayang kepada orang tua, bapak dan ibu yang
melahirkan kita ke dunia ini. Kitab Sarassamucaya Sloka 241 menyebutkan: “Orang yang menghormati dengan penuh kasih
sayang kepada orang tuanya, yang membuat orang tua itu senang dan bahagia,
pahalanya adalah ia akan selalu mendapat berkah dalam kehidupan ini, baik yang
sekarang maupun di kemudian hari.”
Wah, karena sudah menyinggung kitab Sarasamuscaya, uraian
saya bisa jadi panjang jika diteruskan. Saya akhiri saja dengan berpesan, bukan
instruksi ya, mari kita melakukan persembahyangan pada Tumpek Krulut dengan
memuja Hyang Iswara memohon anugrahnya agar segala keindahan dan kasih sayang
terus hidup lestari di bumi ini. Tirtha pemujaan kita siratkan di gamelan yang
kita miliki. Kalau sempat dan kebetulan Tumpek Krulut itu malam minggu, mari
kita pukul gamelan itu dan kita menari untuk menyebarkan tresna asih. Jangan
dipaksakan harus begini harus begitu sampai jamnya diatur. Salam rahayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar