Inilah contohnya. KSAD Jenderal Dudung Abdurachman menyatakan bahwa tentara
nasional Indonesia tegak lurus dengan panglima tertingginya, yakni presiden.
Hal itu disampaikan Jenderal Dudung menanggapi teguran Presiden Jokowi soal
beredarnya percakapan di grup WhatApp yang aggotanya para tentara dan polisi.
Percakapan itu menyoal keputusan pemindahan ibu kota negara yang masih didiskusikan
anggota grup WA itu. “Loyalitas kita tegak lurus kepada panglima tertinggi
kita,” kata Jenderal Dudung. Sang jenderal lalu berjanji untuk menertibkan hal
itu.
Di kalangan partai politik, istilah tegak lurus pun
acap kali kita dengar. Terakhir, misalnya, diucapkan oleh politisi PDI
Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, yang menanggapi soal penundaan Pemilu. PDI
Perjuangan, menurut mantan Gubernur Jakarta ini, tegak lurus dengan konstitusi..
Tidak ada masa jabatan presiden yang ketiga dan penundaan Pemilu. Bahkan para elit
PDI Perjuangan berkali-kali sebelumnya menyebutkan istilah tegak lurus dalam
hal pengambilan keputusan oleh Ketua Umum Megawati Soekarno Putri. Apa pun
keputusan Mega itu, termasuk siapa yang akan dicalonkan oleh PDI Perjuangan
sebagai presiden dan wakil presiden, tak boleh didebat.
Tentu ini bagus-bagus saja dikaitkan dengan disiplin
organisasi. Pesannya, jangan memilih menjadi tentara dan polisi jika suka
mempermasalahkan kebijakan atasan. Jangan menjadi anggota partai banteng
moncong putih jika masih mau mendebat keputusan ketua umumnya. Megawati sendiri
seringkali pula mengancam, lebih baik mundur dari partai jika tidak loyal.
Jokowi menegur TNI dan Polri dalam forum resmi rapat
pimpinan instansi itu. Kata dia, ibu kota negara sudah diputuskan pemerintah
dan disetujui DPR, kenapa harus diperbincangkan dalam grup WhatApp. Yang menarik,
siapakah anggota grup WA yang komentarnya dibaca oleh Jokowi itu? Para perwira
tinggi, perwira menengah atau bintara? Lagi pula dari mana presiden mendapat
bocoran adanya percakapan di sekitar ibu kota negara itu? Adakah anggota grup
yang membocorkan untuk kepentingan pribadi? Sesuatu yang sangat biasa dalam
komunitas jenis ini. Atau grup WA itu dibajak? Wah itu pelanggaran, tapi memang
riskan diusut.
Lebih menarik dibahas soal tegak lurus kepada
konstitusi dalam kaitan penundaan Pemilu. Konstitusi saat ini menyebutkan
jabatan presiden hanya bisa ditambah satu periode saja. Nah, kalau konstitusi
ini diamandemen dengan membolehkan tiga periode, bukankah itu tetap tegak lurus
dengan konstitusi? Lagi pula PDI Perjuangan tetap ngotot melakukan amandemen
dengan alasan memasukkan haluan negara. Tidak ada jaminan tegak lurus itu
berarti tidak berubah dari saat ini karena kaitannya konstitusi. Kecuali,
Presiden Jokowi yang menjadi subyek di sini mau berkata tegas: “Silakan
amandemen konstitusi untuk memperpanjang jabatan presiden, tetapi saya tidak
bersedia dicalonkan lagi.” Nah, selesai persoalan, apalagi pernyataan presiden
itu, misalnya, disertai meterai Rp 10.000.
Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem, barangkali
benar. Sudahlah, kata Paloh, wacana penundaan pemilu game over saja, itu
mengada-ada. Tak disebutkan apakah isu ini memang disengaja agar urusan minyak
goreng, kedelai, elpiji jadi tertutupi. Bagaimana kalau Jokowi diiingatkan agar
kebijakannya tegak lurus dengan nasib rakyat, yang kini antre empat jam untuk beli
minyak goreng?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar