Mpu Jaya Prema
Mari lupakan krisis minyak goreng. Kesimpulannya sudah jelas, pemerintah kalah oleh mafia dan Menteri Perdagangan sudah minta maaf. Juga lupakan hingar-bingar MotoGP Mandalika meski pun hajatan ini mampu membebaskan rakyat dari segala macam tes swab. Mari kita bicara lagi soal ritual Kendi Nusantara.
Barangkali Presiden Jokowi tak berniat macam-macam. Beliau hanya ingin memberi simbul bahwa ibu kota negara harus menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Caranya tanah dan air diambil dari seluruh daerah untuk disatukan dalam sebuah kendi. Ulah para gubernur mencari tanah dan air ini yang menimbulkan drama berbau mistis.
Gubernur Jawa Barat meneruskan gagasan Jokowi dengan “mempersatukan tanah” seluruh Jawa Barat. Tanah dan air diambil dari tempat yang kini dianggap keramat di 27 kabupaten dan kota. Ada tanah makam termasuk yang disebut petilasan dan pesarean. Lainnya dari goa dan situs yang dikeramatkan rakyat. Tanah dan air itu dicampur lalu dibawa ke Kalimantan Timur.
Gubernur Jawa Timur mengambil air dari 7 sumber yang selama ini memang banyak dikunjungi masyarakat Jawa dan Bali. Ada pun tanahnya diambil dari 2 tempat bekas pusat pemerintahan Raja Majapahit, yakni Tanah Kedaton Istana Barat di Trowulan dan Tanah Kumitir Istana Timur di Jatirejo. Keduanya di Kabupaten Mojokerto.
Gubernur Jawa Tengah tak kalah unik. Tanah diambil dari puncak Gunung Tidar di kota Magelang. Di sini ada legenda tentang Syech Subakir yang menanam Rajah Kalacakra untuk mengamankan bumi agar tidak goyang-goyang. Ada pun air dicari di lereng Gunung Lawu di tempat pertapaan Bancolono.
Sumber air ini menimbulkan protes. Pertapaan Bancolono ada di pinggir sungai yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pertapaan ada di bagian barat, masuk Kecamatan Tawangmangu, Jawa Tengah, sementara sumber mata air (Sendang Lanang dan Sendang Wedok) ada di bagian timur sungai, masuk wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Orang Magetan protes.
Tak semua gubernur berpikir ke masa lalu. Gubernur Jakarta berpikir ke masa kini. Simbul yang dihadirkannya adalah “semoga ibu kota negara yang baru mengayomi orang kecil” dan dia mengambil tanah bekas gusuran di kampung Aquarium, Jakarta Utara. Kontan kader PDI Perjuangan berang karena tanah itu “berbau politik”. Kampung tersebut dulu digusur Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.
Gubernur lainnya kurang peduli asal-usul tanah dan air itu. Mereka tak membutuhkan simbul dan mencarinya ke tempat keramat. Gubernur Kalimantan Barat cukup menggali tanah di tugu katulistiwa. Lebih cuek lagi Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura. Tanah dibawanya dengan bungkus plastik. Bukan tempat khusus khas daerah dengan berbagai pernik hiasan, seperti yang dibawa gubernur lainnya. Usai upacara Rusdy sempat pingsan, tentu tak ada kaitan dengan “menyepelekan” ritual itu.
Tanah dan air telah dipersatukan. Ada tanah dari goa keramat, dari makam, dari puncak gunung, dari gusuran, juga tanah tanpa kisah. Ritual macam apa ini? Orang Jawa sering mengartikan kendi itu sebagai kendalining diri. Artinya mengendalikan diri untuk sebuah peseduluran (kekerabatan). Apa isi kendi? Banyu putih tanpo pemanis tanpo pewarno (air putih tanpa gula dan warna.) Maksudnya murni dari satu mata air. Orang Bali menyebut kendi itu: caratan. Isinya air putih yang akan diminum ramai-ramai dalam hajatan ritual. Maknanya kebersamaan sudah tercapai.
Ritual itu dianggap mendapat berkah jika kemudian hari tidak ada tanda-tanda “alam bergolak”. Apakah Kendi Nusantara diberkati? Balikpapan tiba-tiba banjir besar. Ibu-ibu ada yang meninggal setelah ikut antre minyak goreng. Tentu terlalu jauh menghubungkan kejadian-kejadian itu, apalagi tidak jelas Kendi Nusantara ini diniatkan sebagai ritual atau hanya seremonial kekinian, yang penting viral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar