Para pejabat negara yang mentransfer
uang ke pacarnya, bukan berita sensasi. Transferan ini juga sebagai modus untuk
mencuci uang hasil penyelewengan. Berita tak sedap ini disampaikan langsung oleh
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana dalam rapat kerja dengan
Komisi III DPR di Jakarta.
Jadi, ini bukan hoak.
Lagi pula ada mantan pramugari yang datang ke Komisi Pemberantasan Korupsi menyerahkan
uang ratusan juta. Uang itu disebut-sebut sebagai transferan pejabat negara
kepadanya. Pejabat negara itu adalah petugas pajak yang kini sedang diadili.
Bangsa ini sudah
dibekali oleh para leluhurnya untuk mengendalikan nafsu buruk yang disebut “3
Ta”. Yakni, tahta, harta, dan wanita. Jika seseorang sudah meraih tahta (bisa
diartikan jabatan), jangan bernafsu mengumpulkan harta yang bukan menjadi
haknya. Jika harta sudah menumpuk mudah ada godaan dari wanita.
Di era Orde Baru,
Presiden Soeharto yang gemar mengutip petuah Jawa sangat memperhatikan “3 Ta”,
terutama “Ta” yang terakhir. Peran Ibu Negara tak bisa dianggap kecil. Ibu Tien
Soeharto setiap pertemuan dengan organisasi Dharma Wanita (istri-istri pejabat
negara) selalu mengingatkan, jangan biarkan suami tergoda asmara gelap. Pejabat
negara tak boleh punya istri dua, termasuk pacar gelap – ini kalau ketahuan.
Setelah presiden dan
ibu negara berganti, urusan pacar gelap seperti tabu untuk dibahas. Ini dianggap
urusan pribadi sehingga jika itu dipermasalahkan bisa disebut mencampuri urusan
rumah tangga orang lain. Namun urusan mengalirkan dana ke pacar tentu merupakan
kejahatan besar jika dana itu dari hasil korupsi. Yang harus diproses adalah
korupsinya, bukan urusan pacarnya.
Korupsi adalah kejahatan
duniawi. Pacar gelap kejahatan moral. Sekarang urusan moral tak mendapat
perhatian di negeri ini. Terjadi kemerosotan moral, entah karena pendidikan budi
pekerti tak diajarkan lagi di sekolah. Kepekaan seseorang, termasuk pejabat
negara, terhadap penderitaan rakyat jauh merosot. Bagaimana menjelaskan
kepekaan yang begitu tumpul pada Bupati Langkat non aktif yang membuat
kerangkeng di rumah pribadinya? Ratusan orang dijebak di sana, ada bahkan yang
sampai meninggal dunia. Kerangkeng sudah 10 tahun ada, kenapa tak ada satu pun
pejabat yang mempertanyakannya? Kerangkeng baru dimasalahkan setelah Bupati ditangkap
karena kasus korupsi.
Bagaimana mungkin ada
direktur perusahaan daerah di Tangerang yang pamer dan bermain-main dengan
jutaan uang lalu diunggah ke media sosial? Tak ada kepekaaan akan nasib rakyat
yang berjam-jam antre untuk mendapatkan seliter minyak goreng di pasar yang
perusahaannya dia pimpin. Ada anggota DPR yang memalsukan 5 plat mobil
pribadinya. Itu ketahuan karena dia lagi disorot soal lain, melecehkan Bahasa Sunda.
Begitu tumpul kepekaannya, rakyat masih menderita karena pandemi tak kunjung
usai. Eh, dia pamerkan 5 mobil dan itu pun dengan nomor polisi palsu pula.
Jangan-jangan bangsa kita
lagi sakit dan kita tak merasa perlu mengurus sakit yang satu ini. Negara tak
lagi mengurusi moral dan lembaga-lembaga agama sibuk menari dalam gendang
penguasa. Orang asyik mengurusi tahta menjelang Pemilu, ayik mengurus harta dari
komisi proyek mercu suar, lalu (sebagian) tergoda pada wanita -- mentransfer uang
ke pacar-pacarnya itu. Menyedihkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar