12 Desember 2021

CariAngin KoranTempo - LEGENDA SEMERU

Gunung Semeru menyimpan legenda dramatis. Legenda tentu tak bisa diurai dengan nalar. Sering digolongkan tak masuk akal. Dikisahkan bahwa asal gunung itu dari Himalaya India, dibawa para dewa untuk ditancapkan di Pulau Jawa agar daratan ini tidak terombang-ambing di laut. Mula-mula ditaruh di Jawa bagian barat. Ternyata beban tak sama, di barat tenggelam di timur terangkat. Digotong lagi ke timur dan tumpahan serpihannya berhamburan dan membentuk gunung-gunung sendiri. Saat ditancapkan di Jawa bagian timur, gunung itu masih terlalu berat, Jawa tetap belum stabil. Lalu dipotong, sebagian di bawa ke Bali dan menjadi Gunung Agung. Sebagian ke Lombok menjadi Gunung Rinjani.

Sungguh legenda yang tidak masuk akal. Tapi kisah itu tertulis dalam kitab Tantu Pagelaran dari abad ke 15. Semeru jadi kiblatnya gunung di tanah Jawa, Bali dan Lombok dengan puncaknya yang tetap disebut Mahameru. Gunung ini menjadi tempat paling sakral yang tak boleh sembarangan didaki. Berbagai rintangan dipasang, misalnya, ada kawah dengan gas beracun yang dinamai Kawah Jonggring Saloko. Hutan pun jadi asri. Kini sebagian sudah menjadi Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pemukiman penduduk dibatasi dengan adanya goa-goa sebagai pembatas. Ada pun umat yang membutuhkan air suci untuk ritual ada beberapa sumber air yang sekaligus menjadi batas dari pemukiman. Salah satunya adalah Watu Kelosot, airnya muncul dari sela-sela batu. Sudah lama Watu Kelosot yang menjadi sumber air suci ritual di Bali itu tertimbun abu.

Semeru erupsi pada Sabtu menjelang sore pekan lalu. Hari itu (4 Desember 2021) adalah bulan mati yang dikenal dengan sebutan Tilem Kenem (bulan mati keenam dalam kalender Saka). Pagi harinya, 20 pendeta dari Bali menghaturkan “pakelem” (korban suci) di bibir kawah Bromo memohon kedamaian di bumi. Gunung Bromo adalah salah satu serpihan Mahameru ketika diangkut ke timur.

Kenapa hari itu Semeru meletus? Kalau kitab Tantu Pagelaran dicermati, bisa ada berbagai tafsir. Erupsi adalah peringatan kepada umat manusia bahwa Semeru sudah mulai dinodai oleh pemukiman di kawasan sakralnya. Para penambang pasir terlalu dekat dengan jarak kawah padahal Semeru mengirimkan pasir sampai jauh. Watu Kelosot sudah dioptimalkan sebagai kawasan wisata dengan tiga situs, Pendopo Bunda Ratu Semeru, Loji Besuktat, dan Pura Patirtan. Namun sumber air sucinya di sela-sela batu Pura Patirtan mulai mengecil karena pemerintah beralasan tak bisa membawa alat berat ke sana untuk mengeruk abu Semeru yang menahun menutupinya.

Kalau cuma peringatan kenapa berupa bencana? Nah, ini lagi-lagi sulit dicerna dengan logika modern. Legenda hanya bisa di-utak-atik-gathuk-kan (dicocok-cocokkan). Apa yang dilakukan Bupati Lumajang Thoriqul Hag pasca erupsi kali ini adalah mencocokkan dengan legenda itu. Bupati yang akrab disapa Cak Thoriq bertekad akan memindahkan penduduk di lereng Semeru itu ke daerah yang aman. Istilahnya relokasi. Daerah aman itu adalah kawasan hutan yang kini dikelola Perhutani, berjarak sekitar 20 km dari kawah Semeru. Semua penduduk yang kini menjadi korban erupsi Semeru mau tak mau harus rela direlokasi. Karena sekitar kawah menurut legenda harus sakral dan kesakralan itu kini diberi label modern: Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Semeru. KRB itu sudah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). “Peta KRB Gunung Semeru itu menjadi acuan kita,” kata Kepala PVMBG, Andiani.

Kini ribuan penduduk mengungsi, 43 orang menjadi korban sampai Sabtu kemarin. Masih ada yang dinyatakan hilang. Mari kita lebih peduli bagaimana hidup di tengah-tengah bencana dan semakin bijak menyikapi fenomena alam, percaya legenda mau pun tidak.

 ***Putu Setia/ Mpu Jaya Prema

(Koran Tempo 12 Desember 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar