Kita masih dalam selimut bencana. Ada gunung yang masih erupsi. Ada gempa yang menggoyang bumi. Ombak di laut sedang mengamuk yang membalikkan kapal nelayan dan kapal penumpang. Banjir melanda berbagai daerah. Hujan deras dan angin kencang menumbangkan pohon. Sementara Covid-19 belum hilang dan kini Omicron muncul sebagai hantu menakutkan.
Korban berjatuhan. Ribuan
orang berteduh di tenda pengungsian. Dibutuhkan empati. Dari empati itu muncul
niat berbagi. Berbagi duka, berbagi makanan dan selimut, berbagi harapan dan
doa bahwa semua bencana bisa dilewati. Bencana itu jelas bukan tontonan. Juga
bukan tempat kita menghibur diri dengan selfi dan mengunggah fotonya di
media sosial. Apalagi untuk membuat konten yang diniatkan akan mendapat rejeki.
Bagaimana bisa terjadi
orang melakukan plesir ke tempat bencana dan menikmati kerusakan alam itu untuk
diabadikan sebagai sebuah kenangan? Bagaimana ceritanya sebuah perusahaan
produksi tiba-tiba melakukan syuting sinetron di kawasan pengungsian Gunung
Semeru tanpa ada rasa bersalah? Lalu sejumlah orang mendirikan puluhan baliho
bergambar tokoh politik untuk menaikkan elektabilitas di sepanjang kawasan yang
tertimpa bencana? Di mana empati itu disembunyikannya?
Kalau kemudian muncul
kecaman terhadap produksi sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda yang
mengambil adegan di tengah pengungsi Desa Penanggal, Lumajang, itu sangatlah
wajar. Judul sionetron itu saja sudah menyiratkan sensasi yang tak berkaitan
dengan musibah. Andai tuntutan cerita berkisah masalah bencana, rekaman bencana
bisa diambilkan dari dokumentasi yang ada. Lalu adegan yang melibatkan peran
pelaku diambil dalam studio, setidaknya dibuat setting yang bukan di
tempat bencana. Ini pelajaran elementer bagi kru pembuat film. Alasan bahwa
produser sinetron itu adalah “putra Lumajang yang ingin berpartisipasi"
sangat menggelikan.
Begitu pula baliho Puan
Maharani yang gambarnya menghabiskan separoh luas baliho dengan kalimat
“Saatnya Bangkit Menatap Masa Depan”. Ini betul-betul pekerjaan orang yang tak
punya empati terhadap derita warga yang terdampak bencana. Dalam kasus ini,
setelah baliho menjadi heboh dan diturunkan paksa Satuan Tugas Polisi Pamong Praja,
para relawan yang tak jelas orangnya menanggung kecaman. Pimpinan partai berkelit
dengan alasan tak merasa memberikan instruksi memasang baliho.
Empati masalah nurani dan
itu bisa diasah jika kita meminimalkan pamrih. Memberi bantuan dengan pamrih
tinggi bertentangan dengan semangat untuk bersedekah. Ada seseorang yang
menyumbang 20 dus minuman mineral ke tempat pengungsian, sebutlah nilainya Rp
400 ribu. Tapi dia mengajak orang-orang yang siap mempublikasikannya di
berbagai media, bahkan “membayar jasa” peliput sebuah tv lokal. Nilainya jauh
lebih besar dari harga minuman mineral itu. Dalam kasus seperti ini tak berlaku
petuah bijak: “tangan kiri membantu tangan kanan tak boleh tahu”. Di mana
keiklasan bersedekah kalau hal itu dipamer-pamerkan?
Kehilangan empati hampir
melanda di segala hal, bukan hanya dalam kasus bencana alam. Juga pada bencana
kemanusiaan. Sebut misalnya bagaimana kekerasan dan pelecehan seksual melanda
anak-anak gadis kita, bahkan yang masih di bawah umur. Padahal sudah disiapkan
rancangan undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Tapi, apakah para
wakil rakyat kita punya empati untuk mensahkan rancangan itu? Sudah beberapa
tahun rancangan itu dibahas tapi sampai sekarang tak juga disahkan DPR.
Mari kita asah kembali empati
yang mulai tumpul. Tak perlu dengan program bombastis seperti “revolusi mental”.
Cukup dengan saling mengingatkan dan saling mencintai, lalu memahami apa arti
penderitaan itu. Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar