26 Desember 2021

CariAngin KoranTempo - EMPATI

Putu Setia @mpujayaprema

Kita masih dalam selimut bencana. Ada gunung yang masih erupsi. Ada gempa yang menggoyang bumi. Ombak di laut sedang mengamuk yang membalikkan kapal nelayan dan kapal penumpang. Banjir melanda berbagai daerah. Hujan deras dan angin kencang menumbangkan pohon. Sementara Covid-19 belum hilang dan kini Omicron muncul sebagai hantu menakutkan.

Korban berjatuhan. Ribuan orang berteduh di tenda pengungsian. Dibutuhkan empati. Dari empati itu muncul niat berbagi. Berbagi duka, berbagi makanan dan selimut, berbagi harapan dan doa bahwa semua bencana bisa dilewati. Bencana itu jelas bukan tontonan. Juga bukan tempat kita menghibur diri dengan selfi dan mengunggah fotonya di media sosial. Apalagi untuk membuat konten yang diniatkan akan mendapat rejeki.

Bagaimana bisa terjadi orang melakukan plesir ke tempat bencana dan menikmati kerusakan alam itu untuk diabadikan sebagai sebuah kenangan? Bagaimana ceritanya sebuah perusahaan produksi tiba-tiba melakukan syuting sinetron di kawasan pengungsian Gunung Semeru tanpa ada rasa bersalah? Lalu sejumlah orang mendirikan puluhan baliho bergambar tokoh politik untuk menaikkan elektabilitas di sepanjang kawasan yang tertimpa bencana? Di mana empati itu disembunyikannya?

Kalau kemudian muncul kecaman terhadap produksi sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda yang mengambil adegan di tengah pengungsi Desa Penanggal, Lumajang, itu sangatlah wajar. Judul sionetron itu saja sudah menyiratkan sensasi yang tak berkaitan dengan musibah. Andai tuntutan cerita berkisah masalah bencana, rekaman bencana bisa diambilkan dari dokumentasi yang ada. Lalu adegan yang melibatkan peran pelaku diambil dalam studio, setidaknya dibuat setting yang bukan di tempat bencana. Ini pelajaran elementer bagi kru pembuat film. Alasan bahwa produser sinetron itu adalah “putra Lumajang yang ingin berpartisipasi" sangat menggelikan.

Begitu pula baliho Puan Maharani yang gambarnya menghabiskan separoh luas baliho dengan kalimat “Saatnya Bangkit Menatap Masa Depan”. Ini betul-betul pekerjaan orang yang tak punya empati terhadap derita warga yang terdampak bencana. Dalam kasus ini, setelah baliho menjadi heboh dan diturunkan paksa Satuan Tugas Polisi Pamong Praja, para relawan yang tak jelas orangnya menanggung kecaman. Pimpinan partai berkelit dengan alasan tak merasa memberikan instruksi memasang baliho.

Empati masalah nurani dan itu bisa diasah jika kita meminimalkan pamrih. Memberi bantuan dengan pamrih tinggi bertentangan dengan semangat untuk bersedekah. Ada seseorang yang menyumbang 20 dus minuman mineral ke tempat pengungsian, sebutlah nilainya Rp 400 ribu. Tapi dia mengajak orang-orang yang siap mempublikasikannya di berbagai media, bahkan “membayar jasa” peliput sebuah tv lokal. Nilainya jauh lebih besar dari harga minuman mineral itu. Dalam kasus seperti ini tak berlaku petuah bijak: “tangan kiri membantu tangan kanan tak boleh tahu”. Di mana keiklasan bersedekah kalau hal itu dipamer-pamerkan?

Kehilangan empati hampir melanda di segala hal, bukan hanya dalam kasus bencana alam. Juga pada bencana kemanusiaan. Sebut misalnya bagaimana kekerasan dan pelecehan seksual melanda anak-anak gadis kita, bahkan yang masih di bawah umur. Padahal sudah disiapkan rancangan undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Tapi, apakah para wakil rakyat kita punya empati untuk mensahkan rancangan itu? Sudah beberapa tahun rancangan itu dibahas tapi sampai sekarang tak juga disahkan DPR.

Mari kita asah kembali empati yang mulai tumpul. Tak perlu dengan program bombastis seperti “revolusi mental”. Cukup dengan saling mengingatkan dan saling mencintai, lalu memahami apa arti penderitaan itu. Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru.

(Koran Tempo, 26 Desember 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar