Sejumlah orang pun
mereka-reka siapa yang layak mendapat kedudukan sebagai menteri. Lalu menteri
mana yang pantas didepak. Pengamat politik yang memang pekerjaannya mereka-reka
jabatan orang dan para politikus mulai sibuk. Media dengan senang hati mengutip.
Mungkin bosan memberitakan pandemi Covid-19. Lalu apa kata Presiden Jokowi,
orang yang paling berhak dan satu-satunya yang bisa mengganti para menteri? “Reshuffle?
Belum berpikir,” kata dia.
Kalau Jokowi saja tak
memikirkan, kenapa pula orang lain sibuk berpikir? Orang lupa kalau Jokowi
mewarisi tradisi budaya Jawa yang adi luhung. Seperti, banyak yang menduga
Jenderal Andika Perkasa akan segera dilantik menjadi Panglima TNI melihat
begitu terburu-burunya DPR melakukan uji kelayakan. Hari Sabtu dan Minggu –
yang seharusnya libur akhir pekan – dipakai lembur oleh DPR. Lalu hari Senin
persetujuan disahkan di rapat paripurna. Orang mengira satu atau dua hari
kemudian Jenderal Andika dilantik. Ternyata Jokowi menyebut: “Pelantikan
panglima nanti minggu depan, baru dicari hari baik.” Ya minggu depan itu ada
hari Rabu dengan pasangan Pahing. Itulah
hari baik setelah Rabu Pon, sesuai dengan weton Jokowi dalam tradisi
Jawa. Hanya Jokowi yang tahu jika itu yang dimaksud hari baik.
Mengelola hal besar
untuk bangsa yang besar, tentu perlu hari baik. Juga tahapan langkah. Jokowi
saat ini baru memberi isyarat bahwa para menterinya yang berniat mencalonkan
diri sebagai presiden pada Pemilu 2024 boleh memoles diri. Agar
elektabilitasnya naik. Entahlah apakah ini pancingan untuk langkah besar mengevaluasi
para pembantunya. Masalahnya,
membolehkan para menteri bersolek bukan ucapan langsung dari Jokowi. Itu
disampaikan oleh kader Partai Gerindra, yang ketua umumnya, Prabowo Subianto,
sudah disiapkan sebagai calon presiden.
Jika ini pancingan, bisa
jadi Jokowi menggunakan “hasil pancingan” untuk melakukan perombakan kabinet.
Apa yang akan dilakukan para menteri yang dicapreskan? Bekerja keras membantu
program Jokowi atau mencari panggung tanpa peduli visi dan misi presiden?
Berulang kali Jokowi berpesan, tidak ada visi dan misi menteri, yang ada adalah
visi dan misi presiden. Jika menteri jalan sendiri dan tak bersinggungan dengan
program Jokowi dalam memoles elektabilitasnya, bisa jadi dia akan didepak.
Rakyat pun akan bertepuk tangan.
Hati-hati para menteri.
Sangat tidak mungkin mencari panggung yang tak ada kaitannya dengan tugas.
Misalnya, menteri di bidang ekonomi yang mengurusi masalah perusahaan plat
merah. Begitu banyaknya masalah yang dihadapi BUMN. Garuda kebanggaan bangsa
nyaris bangkrut. Harusnya itu fokus yang dikerjakan agar elektabilitasnya
meroket. Bukan memasang foto di setiap mesin ATM pada bank-bank pemerintah.
Rakyat pasti kesal, ngurusi tugasnya saja gak becus bagaimana menjadi presiden?
Kalau Menteri seperti ini dicopot mungkin banyak yang tepuk tangan.
Tapi pertanyaannya,
apakah Jokowi berani? Banyak menteri yang kerjanya buruk. Ada bahkan yang
berdagang di masa pandemi. Sulitnya, para menteri itu punya jasa besar pada
saat Jokowi dicalonkan dulu. Makanya, Jokowi sedang berpikir keras untuk reshuffle
kabinet. Barangkali hasil pemikiran itu yang belum ditemukan, lalu dalam
basa-basi tradisi Jawa keluarlah pernyataan, “belum berpikir soal reshuffle”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar