14 November 2021

CariAngin KoranTempo - PARA MENTERI

Setelah Presiden Joko Widodo memilih Jenderal Andika Perkasa sebagai Panglima TNI, isu reshuffle pun kian menguat. Awalnya dipicu oleh bergabungnya PAN ke pemerintah. Sesuai dengan pepatah asing “tak ada makan siang gratis” maka PAN berhak masuk kabinet. Pemicu terbaru adalah orang baik seperti Hadi Tjahjanto tak boleh berlama-lama menganggur. Mantan Panglima TNI ini harus ditampung.

Sejumlah orang pun mereka-reka siapa yang layak mendapat kedudukan sebagai menteri. Lalu menteri mana yang pantas didepak. Pengamat politik yang memang pekerjaannya mereka-reka jabatan orang dan para politikus mulai sibuk. Media dengan senang hati mengutip. Mungkin bosan memberitakan pandemi Covid-19. Lalu apa kata Presiden Jokowi, orang yang paling berhak dan satu-satunya yang bisa mengganti para menteri? “Reshuffle? Belum berpikir,” kata dia.

Kalau Jokowi saja tak memikirkan, kenapa pula orang lain sibuk berpikir? Orang lupa kalau Jokowi mewarisi tradisi budaya Jawa yang adi luhung. Seperti, banyak yang menduga Jenderal Andika Perkasa akan segera dilantik menjadi Panglima TNI melihat begitu terburu-burunya DPR melakukan uji kelayakan. Hari Sabtu dan Minggu – yang seharusnya libur akhir pekan – dipakai lembur oleh DPR. Lalu hari Senin persetujuan disahkan di rapat paripurna. Orang mengira satu atau dua hari kemudian Jenderal Andika dilantik. Ternyata Jokowi menyebut: “Pelantikan panglima nanti minggu depan, baru dicari hari baik.” Ya minggu depan itu ada hari Rabu  dengan pasangan Pahing. Itulah hari baik setelah Rabu Pon, sesuai dengan weton Jokowi dalam tradisi Jawa. Hanya Jokowi yang tahu jika itu yang dimaksud hari baik.

Mengelola hal besar untuk bangsa yang besar, tentu perlu hari baik. Juga tahapan langkah. Jokowi saat ini baru memberi isyarat bahwa para menterinya yang berniat mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2024 boleh memoles diri. Agar elektabilitasnya naik. Entahlah apakah ini pancingan untuk langkah besar mengevaluasi  para pembantunya. Masalahnya, membolehkan para menteri bersolek bukan ucapan langsung dari Jokowi. Itu disampaikan oleh kader Partai Gerindra, yang ketua umumnya, Prabowo Subianto, sudah disiapkan sebagai calon presiden.

Jika ini pancingan, bisa jadi Jokowi menggunakan “hasil pancingan” untuk melakukan perombakan kabinet. Apa yang akan dilakukan para menteri yang dicapreskan? Bekerja keras membantu program Jokowi atau mencari panggung tanpa peduli visi dan misi presiden? Berulang kali Jokowi berpesan, tidak ada visi dan misi menteri, yang ada adalah visi dan misi presiden. Jika menteri jalan sendiri dan tak bersinggungan dengan program Jokowi dalam memoles elektabilitasnya, bisa jadi dia akan didepak. Rakyat pun akan bertepuk tangan.

Hati-hati para menteri. Sangat tidak mungkin mencari panggung yang tak ada kaitannya dengan tugas. Misalnya, menteri di bidang ekonomi yang mengurusi masalah perusahaan plat merah. Begitu banyaknya masalah yang dihadapi BUMN. Garuda kebanggaan bangsa nyaris bangkrut. Harusnya itu fokus yang dikerjakan agar elektabilitasnya meroket. Bukan memasang foto di setiap mesin ATM pada bank-bank pemerintah. Rakyat pasti kesal, ngurusi tugasnya saja gak becus bagaimana menjadi presiden? Kalau Menteri seperti ini dicopot mungkin banyak yang tepuk tangan.

Tapi pertanyaannya, apakah Jokowi berani? Banyak menteri yang kerjanya buruk. Ada bahkan yang berdagang di masa pandemi. Sulitnya, para menteri itu punya jasa besar pada saat Jokowi dicalonkan dulu. Makanya, Jokowi sedang berpikir keras untuk reshuffle kabinet. Barangkali hasil pemikiran itu yang belum ditemukan, lalu dalam basa-basi tradisi Jawa keluarlah pernyataan, “belum berpikir soal reshuffle”.

**Putu Setia/Mpu Jaya Prema
(Koran Tempo 14 November 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar