19 September 2021

Mas Goen, Guru Saya

 Nama Goenawan Mohamad jauh lebih dulu saya kenal dibandingkan orangnya. Nama itu sering disebut-sebut ketika saya masih suka bergaul dengan para sastrawan di Bali. Penyair Darmanto Yatman -- kini sudah tiada-- di awal 1970-an sering ke Bali. Nama Goenawan Mohamad (selanjutnya saya singkat GM) sering diperbincangkan. Saya menyimaknya dengan kagum, apalagi kemudian disebut “penyair Parikesit” ini mendirikan Majalah Tempo – sebuah majalah yang jarang saya baca karena tak mampu membelinya.

Tahun 1974 saya bergabung menjadi reporter Bali Post. Setahun kemudian dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan wartawan daerah yang diselenggarakan LP3ES. Bukan main senangnya. Membayangkan bertemu para seniman di Taman Ismail Marzuki, tempat peserta pendidikan diinapkan. Tapi selama tiga bulan menginap di Wisma Seni TIM, saya tak pernah ketemu GM di sana. Saya malah bertemu Rendra, Adi Kurdi dan aktor-aktor lainnya yang beken. Termasuk para pemain ludruk yang membuat saya takut di malam hari.



Saya baru mengenal wajah GM ketika saya mendapat kesempatan magang selama dua minggu di kantor Majalah Tempo, Jl. Senen Raya, Jakarta. Etti Asa, sekretaris redaksi, memperkenalkan saya kepada semua awak redaksi saat itu. Tapi GM ada di ruang kerjanya. Lantai atas gedung bertingkat dua yang membuat saya takut tentang kekokohan gedung ini. Saya tak berhasil diperkenalkan dengan dia. GM lagi tidur di kursinya. Redaktur jangkung yang tampangnya rada preman (belakangan saya tahu namanya Ed Zulverdi) berkata: “Ente bisa digaplok kalau bangunin dia…”

Esok-esoknya saya tak pernah melihat GM. Entah karena setiap saya datang dia tak ada, karena terlalu pagi. Atau dia keluar kota. Saya melupakannya. Apalagi mentor saya selama magang adalah Bapak Bur Rasuanto. “Kamu jangan panggil saya bapak. Di sini tak ada panggilan pak, panggil mas atau bang,” kata Bur. Tadinya saya pikir Bur bercanda. Ternyata menurut Mbak Etti, itu serius. Saya membatin: “Kalau begitu biarlah saya tak ketemu GM. Masak seniman pujaan saya ini dipanggil mas. Memangnya saya siapa?”

Sampai pendidikan berakhir dan saya pulang ke Bali, tak pernah ketemu penyair dan pemimpin redaksi majalah ini. Bahkan sampai saya diangkat sebagai pembantu tetap Tempo di Bali, tak pernah melihat wajah GM. Begitu pun ketika saya dipanggil ke Jakarta (Agustus 1978) oleh Yusril Djalinus dan esoknya sudah berangkat ke Yogya untuk memimpin Biro Pemberitaan Jawa Tengah dan DIY, saya tak ketemu GM. Saya cuma bertemu dengan Bapak Fikri Jufri. Diberi petunjuk agar kontrak rumah kecil di Yogya. Juga ketemu Bapak Harjoko Trisnadi. Meneken sejumlah surat yang kemudian diganti dengan segepok uang. Untuk perjalanan saya ke Yogya. Hanya dua pemimpin itu yang saya panggil “pak”, bahkan sampai saat ini.

***

“Saya ikut Putu ke Yogya. Malas ikut rombongan,” kata GM. Waktu itu, 1981, GM berada di Borobudur. GM bersama sejumlah pemimpin redaksi diundang melihat restorasi Candi Borobudur oleh Mendikbud Daoed Joesoef. Saya kaget bukan main. Saya belum mahir menyetir mobil, GM mau ikut saya? Seminggu sebelumnya, Pak Harjoko Trisnadi dan Bambang Halintar berkunjung ke Yogya untuk mencari tenaga pemasaran. Saya menjemputnya dengan mobil dan di tengah perjalanan Pak Harjoko meminta berhenti. Saya diminta turun dan ganti Bambang Halintar yang menyetir. Rupanya Pak Harjoko was-was.

GM ikut saya. Dari Borobudur ke Yogya pula. Di perjalanan dia tak pernah mengomentari cara saya menyetir. Saya tak tahu apa GM takut atau tidak. Dia membuka percakapan dengan memuji saya: “Kamu kelihatan dekat dengan Daoed Joesoef. Wartawan harus dekat pejabat, tapi jangan jadi kacung.” Saya menjawab dengan agak gugup: “Kalau Pak Daoed Joesoef ada di Borobudur dan membuat sketsa pemugaran candi saya biasanya datang. Beberapa sketsa malah diberikan ke saya.”

Sampai di Muntilan, mobil tak boleh masuk kota. Tiba-tiba GM menepuk bahu saya. Saya kaget, saya pikir mobil disuruh berhenti dan dia mau ambil alih setir menyusuri jalan desa yang rusak. Tidak, dia lagi-lagi memuji saya: “Kayam bilang, kamu memberi penataran jurnalistik dengan bagus di UGM. Orang Tempo memang hebat.” Saya dengar ada ketawa di akhir ucapannya.

Ini ceritanya agak panjang. Suatu hari saya dipanggil Umar Kayam ke rumahnya. Ini rumah dinas di Bulak Sumur yang lebih banyak ditiduri budayawan. Keluarga Prof Kayam ada di Jakarta. Saya diminta memberi ceramah jurnalistik ke mahasiswa UGM. “GM tak bisa, kamu yang mewakili. Nanti saya memberi pengantar,” katanya. Saya menanggapi dengan tertawa. “Ojo guyu, iki serius, tak laporin sama GM lho kalau nolak.” Kayam sepertinya bercanda.

Tentu saya tak mungkin mengecek ke GM, apa benar saya diminta untuk itu. Tapi saya terpaksa mau. Saya siapkan bahannya. Saya punya buku News Jurnalism, tapi teori semata. Saya ingin yang praktis. Nah, ada buku Misalkan Anda Wartawan Tempo. Ini buku yang baru dibagikan Tempo ke wartawannya. Waktu itu belum banyak yang tahu. Saya meringkas buku ini, terutama pada bagian bagaimana menulis berita feature. Dari menulis lead, batang tubuh, ending dan seterusnya. Cuma, contoh-contoh lead dengan berbagai variasinya saya ganti dengan situasi yang ada di Yogya. Bahkan di dalam kampus UGM.

Peserta yang berjumlah 40 mahasiswa, 5 dosen dan Prof Kayam yang terus mendampingi saya, sangat antusias. Seorang dosen berkomentar: “Saya baru tahu cara menulis berita feature dengan contoh-contoh yang hebat.” Dan dampaknya saya sering diundang ceramah jurnalistik ke hampir semua kampus. Kampus UII malah mengajak saya selama dua hari di Kaliurang untuk melatih anggota pers kampusnya. Harian Masa Kini memberi julukan yang dasyat “Bapak Jurnalistik Baru”. Rupanya berita itu sampai juga ke GM. Pastilah dari Kayam, koleganya.

Sejak mengangkut GM dari Borobudur ke Yogya itu, saya merasa semakin dekat dengan dia. Juga semakin kagum bahwa orang ini rendah hati. Setiap ada rapat di Jakarta saya sudah biasa bertegur sapa dan mulai membiasakan diri menyebut mas. Saya menempatkan GM sebagai guru. Tapi kami tak pernah ngobrol panjang. Pendek-pendek saja.

***

Suatu hari, di bulan Agustus 1985. Saya sudah pindah ke Jakarta. Kantor Tempo di Proyek Senen.  GM menyodorkan tulisan agar saya baca sebelum diserahkan ke tata muka. Dia menulis reportase soal pembakaran jenazah yang mewah dan meriah di Puri Gianyar. GM langsung menjadi reporter di lapangan, lalu menulis laporannya. Saya disuruh membaca, diposisikan sebagai editor. Ini tradisi Tempo bahwa semua tulisan harus dibaca orang lain termasuk yang dibuat pemimpin redaksi. Saya merasa tersanjung. Tapi apa yang bisa saya perbuat untuk tulisan dari pemimpin redaksi yang setiap minggu menulis ulasan di dinding otokritik? Saya cuma memperbaiki dua istilah yang salah. Lalu naskah saya serahkan ke tata muka. S Prinka, petinggi tata muka, langsung memanggil saya setelah membaca naskah itu selintas. “Putu, ganti lead-nya. Bosan dengan huruf S, cari huruf lain. Pakai W saja ya, lama tak melukis W.”

Apa masalahnya? Waktu itu perwajahan Tempo dilakukan secara manual. Untuk membuat huruf pemula sebuah artikel (drop cap) tim tata muka membaca dulu naskah yang sudah di pracetak. Dari sana huruf awal dilukis. Kata Prinka, laporan GM akan cocok dilukis dengan ornamen khas Bali jika hurufnya W. Awalnya saya menolak, tidak berani melakukan itu. Tapi Prinka dengan yakin menyebut, itu harus dilakukan demi kekhasan Tempo. Saya mengalah. Mengubah kata awal sebuah laporan tentu gampang, karena semua berita memakai gaya feature.

Setelah majalah terbit, di ruang tata muka, saya dibisiki Prinka. “GM marah besar lead-nya diganti satu kata. Kamu harus minta maaf, bahaya ini.” Awalnya saya tertawa, tak yakin. Tapi Prinka minta dukungan ke tim tata muka lainnya. Semua membenarkan, termasuk Wondal, orang tata muka yang sulit bercanda. Sore harinya saya menghampiri GM. “Mas Goen, tulisannya bagus sekali,” kata saya. GM menjawab: “Oya, saya belum baca lagi.” Ah, ternyata Prinka bergurau.

Yang menarik setelah rapat evaluasi. GM meminta saya pulang ke Bali. Meliput reportase ngaben (pembakaran jenazah) versi orang kampung. Bukan versi orang puri yang kaya. Yusril sebagai Kordinator Reportase setuju. Akhirnya saya bisa pulang kampung dengan biaya kantor. Laporan saya soal ngaben versi orang desa itu dimuat panjang dalam rubrik Selingan. Hasilnya saya dipuji GM. “Kamu seharusnya bisa menulis reportase hal-hal ringan begini. Soal sabungan ayam, pengaruh para pelukis asing, dan banyak lho. Bisa jadi buku,” katanya.

Dan itulah sesungguhnya awal dari lahirnya Menggugat Bali, buku catatan perjalanan budaya Bali yang meledak di pasaran setelah diterbitkan Tempo (PT Pustaka Grafiti). Buku ini dicetak berulang kali (diterjemahkan ke Bahasa Jepang), mendapat hadiah pertama untuk buku nonfiksi dari Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1986.

Jasa GM ini tak pernah saya ceritakan. Takut disebut mendompleng nama besarnya. Apalagi kalau saya menyebut GM itu seorang guru. Orang bisa bertanya, pernah diajari apa saja? Pernahkah GM mengakuinya sebagai murid? Dan seterusnya. Padahal dalam pemikiran saya saat ini – barangkali karena usia tua dan mencoba jujur melihat kehidupan – guru itu tak selalu mengajar di kelas. Dia bisa saja mengajar sambil jalan. Dengan satu dua kata yang bernas. Dengan membangkitkan motivasi. Saya tak peduli apakah saya seorang Ekalawya yang mengaku berguru pada Drona, padahal sang guru tak mengakuinya sebagai murid. Itu beda besar karena Ekalawya menjadi “murid Drona” dengan membuat patung sang guru sebagai bahan motivasi. Sedang bagi saya, GM itu bukan patung. Ia ada, petuahnya pendek penuh makna, gaya bercandanya menyegarkan.

Kini GM 80 tahun dan saya baru saja melewati 70 tahun, usia yang saya syukuri. Kalau saya iri dengan GM yang diberi kesehatan prima di usia sekarang, rasanya tidak berlebihan. Dalam situasi sulit di era pandemi ini, mungkin saya tak bisa seusia GM, meski saya tahu hubungan kami yang renggang secara phisik ini, sesungguhnya tetap saling mendoakan. Dirgahayu dan dirgayusa Mas Goen.

***Putu Setia (Mpu Jaya Prema)

**Diambil dari buku "80 Tahun Burung-Burung: Goenawan Mohamad di Mata Sahabatnya"

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar