Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua sudah dimulai, meski pembukaan resminya baru Sabtu mendatang. PON yang mempertandingkan 37 cabang olahraga ini diikuti seluruh provinsi yang ada. Klaster pertandingan memencar di empat daerah, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Merauke. Apa sebenarnya arti penting dari hajatan olahraga nasional yang sempat tertunda selama setahun karena pandemi Covid-19 ini?
PON
di Papua tidak semata-mata urusan olahraga. Bahkan tak ada isu olahraga yang
mencolok, sebagaimana PON di masa-masa lalu. Tak ada sesumbar kesebelasan mana
yang akan menjadi juara, seolah-olah medali emas untuk sepakbola paling bergengsi.
Juga tak ada heboh soal rebutan atlet renang antarprovinsi, misalnya. PON di
Papua menyiratkan dua arti penting. Pertama adalah tanda kebersamaan bahwa kita
bisa mengatasi laju penyebaran Covid-19. Yang kedua adalah masyarakat Papua
ingin berseru bahwa wilayahnya aman.
Lagu
resmi PON Papua yang sekaligus menjadi tagline pesta empat tahunan ini
berjudul Torang Bisa. Artinya kita bisa. Apa yang bisa dilakukan?
Dengarkan liriknya: Papua bagian penting Indonesia, mari kita rayakan bersama-sama.
Lewat lagu ceria khas Papua karya Etho
Ririmasse ini kita diajak untuk bergembira bersama-sama. Sudah setahun lebih
kita disuguhi berita sedih. Orang-orang terjangkit dengan ventilator di
lorong-lorong rumah sakit. Mobil ambulans yang antre di permakaman khusus dan
orang-orang kelelahan menggali kubur. Kini di Papua kita bertepuk tangan di
stadion meski pun masih tetap memakai masker. Setidaknya harapan akan hari yang
lebih baik sudah datang dari timur Indonesia ini. Juga sebagai tanda bahwa
pelonggaran kegiatan masyarakat berkaitan dengan olahraga tetap penting selain
membuka kelonggaran memasuki mal.
Lirik lagu Torang Bisa sebenarnya
diawali dengan: Mari
satukan perbedaan. Lalu
disambung kata yang penuh arti: Bersatu dalam semangat serukan persatuan
wahai anak bangsa. Kalimat ini bisa ditafsirkan macam-macam, tak melulu
urusan mengejar medali dalam pekan olahraga nasional. Kita belakangan disuguhi
berita yang memprihatinkan dari tanah Papua. Ada penyerangan oleh (apa yang
disebut pemerintah sebagai) kelompok kriminal bersenjata (KKB) terhadap tenaga
kesehatan dan guru di Distrik Kiwirok. Korban pihak sipil berjatuhan. Dan
ketika korban itu dievakuasi, tempat pendaratan helikopter diserbu KKB. Satu
prajurit TNI gugur dalam baku tembak. Berita sejenis sering terjadi sebelumnya
dan kita seolah-olah hanya tahu bahwa tanah Papua penuh kekerasan. Kita
melupakan satu hal bahwa Papua begitu luas dengan keindahan alamnya yang
memukau dan penduduk yang beragam. Kita pun terjebak dengan kecemasan akan
adanya kekerasan yang terjadi, sampai-sampai atlet PON yang datang dari
berbagai daerah dilengkapi dengan pengawal bersenjata yang dimasukkan dalam
daftar kontingen daerah. Apakah PON Papua masih dibayang-bayangi ketakutan? Apakah
keamanan selama PON berlangsung di Papua dijadikan bahan penting pula sehingga
ada pernyataan bahwa calon Panglima TNI baru dipilih setelah PON usai?
Dari timur
Indonesia, ku menyambutmu dalam damaikan hadirmu… Lirik lain dari Torang Bisa. Jika kalimat ini kita anggap cermin
dari cetusan hati orang Papua sekarang, kenapa kita mesti takut dan cemas
datang ke Papua? Bahkan mungkin kita tak perlu lagi di tes usap PCR kalau sudah
mendapatkan vaksin, karena Indonesia tak lagi dalam status merah di masa pandemi
ini. Optimisme dan hati riang konon menjaga imun dengan baik, tentu disertai
sikap kehati-hatian pula. Papua, kita bisa.
*** Putu Setia/Mpu Jaya Prema
(Koran Tempo 26 September 2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar