26 September 2021

CariAngin KoranTempo - TORANG BISA


Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua sudah dimulai, meski pembukaan resminya baru Sabtu mendatang. PON yang mempertandingkan 37 cabang olahraga ini diikuti seluruh provinsi yang ada. Klaster pertandingan memencar di empat daerah, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Merauke. Apa sebenarnya arti penting dari hajatan olahraga nasional yang sempat tertunda selama setahun karena pandemi Covid-19 ini?

PON di Papua tidak semata-mata urusan olahraga. Bahkan tak ada isu olahraga yang mencolok, sebagaimana PON di masa-masa lalu. Tak ada sesumbar kesebelasan mana yang akan menjadi juara, seolah-olah medali emas untuk sepakbola paling bergengsi. Juga tak ada heboh soal rebutan atlet renang antarprovinsi, misalnya. PON di Papua menyiratkan dua arti penting. Pertama adalah tanda kebersamaan bahwa kita bisa mengatasi laju penyebaran Covid-19. Yang kedua adalah masyarakat Papua ingin berseru bahwa wilayahnya aman.

Lagu resmi PON Papua yang sekaligus menjadi tagline pesta empat tahunan ini berjudul Torang Bisa. Artinya kita bisa. Apa yang bisa dilakukan? Dengarkan liriknya: Papua bagian penting Indonesia, mari kita rayakan bersama-sama. Lewat lagu ceria khas Papua karya Etho Ririmasse ini kita diajak untuk bergembira bersama-sama. Sudah setahun lebih kita disuguhi berita sedih. Orang-orang terjangkit dengan ventilator di lorong-lorong rumah sakit. Mobil ambulans yang antre di permakaman khusus dan orang-orang kelelahan menggali kubur. Kini di Papua kita bertepuk tangan di stadion meski pun masih tetap memakai masker. Setidaknya harapan akan hari yang lebih baik sudah datang dari timur Indonesia ini. Juga sebagai tanda bahwa pelonggaran kegiatan masyarakat berkaitan dengan olahraga tetap penting selain membuka kelonggaran memasuki mal.

Lirik lagu Torang Bisa sebenarnya diawali dengan: Mari satukan perbedaan. Lalu disambung kata yang penuh arti: Bersatu dalam semangat serukan persatuan wahai anak bangsa. Kalimat ini bisa ditafsirkan macam-macam, tak melulu urusan mengejar medali dalam pekan olahraga nasional. Kita belakangan disuguhi berita yang memprihatinkan dari tanah Papua. Ada penyerangan oleh (apa yang disebut pemerintah sebagai) kelompok kriminal bersenjata (KKB) terhadap tenaga kesehatan dan guru di Distrik Kiwirok. Korban pihak sipil berjatuhan. Dan ketika korban itu dievakuasi, tempat pendaratan helikopter diserbu KKB. Satu prajurit TNI gugur dalam baku tembak. Berita sejenis sering terjadi sebelumnya dan kita seolah-olah hanya tahu bahwa tanah Papua penuh kekerasan. Kita melupakan satu hal bahwa Papua begitu luas dengan keindahan alamnya yang memukau dan penduduk yang beragam. Kita pun terjebak dengan kecemasan akan adanya kekerasan yang terjadi, sampai-sampai atlet PON yang datang dari berbagai daerah dilengkapi dengan pengawal bersenjata yang dimasukkan dalam daftar kontingen daerah. Apakah PON Papua masih dibayang-bayangi ketakutan? Apakah keamanan selama PON berlangsung di Papua dijadikan bahan penting pula sehingga ada pernyataan bahwa calon Panglima TNI baru dipilih setelah PON usai?

Dari timur Indonesia, ku menyambutmu dalam damaikan hadirmu…  Lirik lain dari Torang Bisa. Jika kalimat ini kita anggap cermin dari cetusan hati orang Papua sekarang, kenapa kita mesti takut dan cemas datang ke Papua? Bahkan mungkin kita tak perlu lagi di tes usap PCR kalau sudah mendapatkan vaksin, karena Indonesia tak lagi dalam status merah di masa pandemi ini. Optimisme dan hati riang konon menjaga imun dengan baik, tentu disertai sikap kehati-hatian pula. Papua, kita bisa.

*** Putu Setia/Mpu Jaya Prema

(Koran Tempo 26 September 2021)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar