Pesawat kepresidenan berganti cat. Hebohnya ke mana-mana. Soal warna, kenapa dari biru berubah jadi merah. Soal biaya, kenapa tidak ditunda agar dananya bisa dialihkan untuk penanganan Covid-19. Ada yang lebih asyik, dibawa-bawa ke soal politik.
Pesawat itu dibeli pada saat
pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono yang didukung Partai Demokrat, partai
dengan warna khas biru. Kini berwarna merah, warnanya Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan, partai pendukung Presiden Joko Widodo. Dikaitkannya dengan
warna partai semakin nyata karena yang bermula protes adalah kader dari Partai
Demokrat. Padahal urusan warna ada penjelasan dari pakar penerbangan, mantan
KSAU Chappy Hakim. Cat biru adalah
kesesuaian dengan langit dan umumnya pesawat militer bercat biru untuk
penyamaran. Sekarang dengan teknologi persenjataan yang modern, pesawat dengan
cat warna apa pun mudah dikenali tanpa melihat phisiknya. Apalagi pesawat
kepresidenan bukan pesawat militer. Mau dicat warna apa, tidak ada masalah.
Warna merah dan putih, tentulah simbol dari bendera kebangsaan.
Soal anggaran dua milyar rupiah? Itu bukan semata-mata
untuk mengecat pesawat, tetapi juga perawatan rutin. Sudah dianggarkan tahun
2019 untuk pekerjaan tahun 2020. Bahwa baru sekarang dilakukan pengecatannya,
itu karena ulah Covid-19. Jika Piala Eropa dan Olimpiade Tokyo baru bisa digelar
tahun 2021 dengan tetap menggunakan nama tahun 2020, maka mengecat pesawat yang
tertunda bukanlah kesalahan. Uang dua milyar nilainya juga lebih kecil dari
hadiah peraih medali perak untuk atlet Olimpiade. Tak akan membuat pemerintah
kekurangan dana untuk membeli vaksin.
Kenapa itu yang dihebohkan? Kalau pun mau diheboh-hebohkan
– mungkin kita perlu heboh agar lupa sejenak dengan kegagalan menangani pandemi
– bawa ke masalah pokoknya. Yakni, apa perlu negara ini punya pesawat
kepresidenan? Berapa kali dipakai setahun, apa sebanding dengan biaya
perawatannya? Perlukah memamerkan gengsi di dalam negeri kepada masyarakat yang
semakin terpuruk? Apalagi jika presidennya pekerja keras semacam Jokowi. Apa artinya
pesawat super mewah itu, jika yang turun di tangga pesawat adalah “presiden
yang sederhana” dengan kemeja putih yang lengannya digulung? Kata orang-orang
zaman dulu, tak sebanding antara penumpang dengan kendaraannya, ibarat kereta
kencana yang dinaiki raja yang tak bermahkota.
Atau untuk gengsi di dunia internasional? Coba kita periksa
berapa kali dalam setahun Presiden melawat ke luar negeri. Tidak sering amat.
Ibarat punya mobil tetapi jarang ke luar rumah. Mobil perlu dipanasi setiap
hari, ganti oli dan servis berjadwal meski jarang berjalan. Bukankah lebih
murah jika ke luar rumah yang sesekali itu cukup dengan menyewa taksi?
Coba lihat catatan ini. Februari tahun lalu, ada rencana
KTT ASEAN di Amerika Serikat. Presiden Jokowi mau hadir. Jika mengenakan
pesawat kepresidenan harus transit beberapa kali dan perjalanan perlu dua hari.
Boros uang dan waktu. Maka pemerintah memutuskan memakai pesawat milik Garuda Indonesia,
tipe Boeing 777-300 ER yang hanya perlu sekali transit. Sayangnya, KTT
dibatalkan gara-gara covid-19.
Presiden sebelum SBY, mungkin tak punya niat membeli pesawat
kepresidenan. Cukup terbang dengan Garuda Indonesia, maskapai kebanggaan bangsa.
Pesawat kepresidenan yang sekarang, justru dibeli menjelang SBY lengser. Pesawat
tiba10 April 2014, dan terbang perdana pada 5 Mei 2014 membawa Presiden SBY ke Bali
menghadiri konferensi regional Open Government Partnership (OGP) Asia-Pasifik.
Selebihnya Presiden Jokowi yang memakai pesawat berwarna
biru itu, yang kini berubah jadi merah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar