15 Agustus 2021

#CariAngin KoranTempo BALIHO POLITIKUS


Mobil berhenti karena lampu merah menyala. Seorang anak kelas V sekolah dasar bertanya kepada bapaknya yang sedang pegang kemudi. Apa arti kalimat “Kepak Sayap Kebhinekaan?” Bapaknya balik bertanya, di mana ada tulisan itu. Sang anak menunjuk ke sebuah baliho besar di pinggir jalan.

 

Alih-alih menjawab pertanyaan anaknya, bapak ini berkata: “Baliho itu mahal sewanya. Sampai Rp 450 juta per bulan. Berbulan-bulan baliho itu hanya berisi kata space available. Kini ada gambar perempuan berkebaya merah dengan tulisan yang tidak mudah dipaham. Kamu juga tak tahu kan?”

 

Mobil berhenti lagi. “Coba baca baliho itu. ‘Kerja Untuk Indonesia, 2024’,” sang bapak menunjuk baliho bergambar seorang lelaki berbaju kuning. “Paham maksudnya?” Si anak spontan menjawab: “Artinya dia tidak bekerja sama sekali sekarang ini. Dia hanya bekerja untuk menghadapi tahun 2024.” Anak dan bapak itu tertawa.

 

Baliho politikus kini bertebaran di jalan-jalan. Papan-papan iklan luar ruang -- begitu istilahnya -- sudah lama kosong hanya menyisakan warna putih. Ekonomi mandek. Perusahaan berhenti mengiklankan produk gara-gara masyarakat dibatasi geraknya akibat pandemi Covid-19 masih mengganas. Kini, politikus mengambil alih papan iklan luar ruang itu dengan wajahnya sendiri. Tentu sewanya mahal karena tempatnya strategis, tiang penyangga yang kuat permanen, dan ada pajak reklame. Biayanya sampai ratusan juta rupiah. Mereka menyebutkan, baliho politikus  adalah cara untuk menggerakkan ekonomi.

 

Tak cuma di kota, di beberapa desa baliho politikus ini juga menggerakkan ekonomi warga. Modalnya sangat murah, tak sampai satu juta rupiah. Cetak baliho ukuran 3x4 meter biaya cuma Rp 20 ribu per meter persegi, jadi cukup Rp 240.000. Tinggal beli empat batang bambu dengan harga seratus ribu perbatang dan keluarkan ongkos pasang Rp 300 ribu. Sudah terpajang baliho di pinggir jalan. Tanpa pajak. Penduduk untung besar karena kader partai membayar Rp 5 juta per baliho. Bahwa baliho itu tak sampai bertahan dua minggu karena roboh ditiup angin, penduduk malah makin untung. Baliho dicopot untuk menutupi kandang kambing. “Kepak Sayap Kebhinekaan” pindah ke kandang kambing, toh orang tak perlu paham apa artinya.

 

Apakah baliho yang bertebaran ini mendongkrak kepopuleran sang tokoh yang wajahnya terpampang di sana? Tentu saja. Orang semakin mengenal siapa Puan Maharani, Airlangga Hartarto, Agus Harimurti Yudhoyono. Nama mereka pun sebelumnya sudah populer. Siapa yang tak kena Puan, Ketua DPR yang juga anak dari Megawati. Siapa tak kenal Airlangga, yang selain Menteri Kordinator Perekonomian diberi beban tugas menangani pandemi Covid-19. Wajahnya tak asing, seperti pula wajah Deddy Corbuzier atau Ayu Ting Ting, sering muncul di berbagai media. Bahwa politikus itu elektabilitasnya naik untuk menjadi calon presiden dengan memasang baliho, itu perkara lain. Rakyat yang makin cerdas akan melihat siapa yang sudah bekerja untuk masyarakat sehingga layak menjadi calon presiden. Apa yang telah dikerjakan Puan, apa yang telah dikerjakan Airlangga mau pun Agus Harimurti untuk bangsa ini sehingga layak menjadi calon presiden? Itu yang dilihat rakyat, bukan kepopuleran namanya. Cobalah perhatikan hasil lembaga survei. Tokoh pekerja seperti Ganjar Pranowo maupun Ridwan Kamil dan Anies Baswedan tetap tinggi elektabilitasnya. Karena mereka bekerja, bukan memamerkan wajahnya di baliho.

 

Baliho yang dibutuhkan saat ini adalah tetap masalah pandemi. Edukasi masyarakat bahwa protokol kesehatan itu tetap penting dengan bahasa yang mudah dicerna. Tentu tak harus di setiap pengkolan jalan karena, sebaik-baiknya menyebar baliho tetap lebih baik menyebar bantuan sosial.

 * Putu Setia/Mpu Jaya Prema

(Koran Tempo 15 Agustus 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar