Ida
Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Hari
ini orang Bali yang beragama Hindu menyebutnya Tumpek Wayang. Tumpek adalah
Saniscara (Sabtu) Kliwon dalam wariga Bali. Saniscara adalah hari terakhir
dalam Sapta Wara. Kliwon juga hitungan terakhir dalam Panca Wara. Dan Tumpek
Wayang pun menjadi tumpek yang terakhir dalam wariga Bali. Yang pertama Tumpek
Landep menyusul Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan
terakhir Tumpek Wayang. Jika dikaitkan dengan hitungan Triwara, ini pun
hitungan terakhir, yakni Kajeng.
Jadinya
hari ini adalah hari istimewa, hari yang penuh berkah dan keberuntungan. Tentu
setiap hari yang baik dan penuh keberuntungan dilewati dengan penyucian diri
atau di Bali sering disebut dengan pengelukatan
atau pebayuhan. Bahasa nasional
adalah ruwatan. Dan ruwatan khusus hari ini disebut Sapuh Leger. Sarananya
memakai wayang kulit karena ada cerita yang perlu dijelaskan dengan
penggambaran wayang itu.
Tapi
pertunjukan itu sendiri bukanlah keharusan, sebagaimana di dalam ajaran Hindu
tak ada keharusan mutlak untuk sebuah ritual, harus begini harus begitu. Kita
jangan terjebak pada masa lalu seolah-olah kalau tak melakukan ritual tertentu
dianggap salah, seolah kita menempatkan Tuhan itu sebagai Sang Maha Penghukum.
Tuhan Maha Pengasih, kalau kita mampu melakukan ritual tertentu mari kila
lakukan. Kalau tidak, ya, kita tetap memohon anugerah-Nya.
Acara
penyucian diri bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang berpedoman pada lontar
Sapuh Leger. Di situlah sebuah kisah diuraikan tentang pengembaraan Dewa Kala,
putra Dewa Siwa. Dewa Kala diberi izin oleh Dewa Siwa untuk mencemarkan (di
Bali lantas disebut: dimakan atau dimangsa) siapa pun yang lahir pada hari itu.
Dewa
Kala ketemu calon mangsanya, Sang Kumara (yang arti sesungguhnya seorang anak
kecil). Tapi ada lontar lain yang menyebut Panca Kumara, ini bukan soal yang
penting benar tentang jumlah. Dikejarlah Sang Kumara ke mana pun perginya. Jika
kisah ini dipentaskan dalam suatu pertunjukan, maka imajinasi sang dalang pun
bisa bebas. Misalnya, anak itu bersembunyi di sebuah rumah, Dewa Kala dan
pembantunya menutup kedua pintu rumah. Eh, Sang Kumara berkelit karena ada
pintu ketiga, maka Dewa Kala memberi kutukan: rumah yang pintu keluarnya lebih
dari dua tidak boleh. Sang Kumara bersembunyi di tumpukan sampah, dan Dewa Kala
memberi kutukan: jangan menimbun sampah di pekarangan rumah. Dan seterusnya,
namanya imajinasi sang dalang, di masa lalu ini adalah nasehat yang berguna.
Singkat
cerita, setelah kejar-kejaran itu, Sang Kumara akhirnya melihat ada pementasan
wayang kulit oleh Dalang Samirana. Sang Kumara bersembunyi di sana, oleh Ki
Dalang Samirana yang juga diberi gelar Mpu Leger, anak ini disembunyikan dulu
di dalam tabung gender. Pementasan wayang terus berlanjut dan Dewa Kala pun
merasakan aroma religius dari pentas sakral itu. Dewa Kala hilang sifat
keraksasaannya (atau sifat ke-bhuta-annya) untuk “memangsa” orang, Kala kembali
(somya) ke sifat dewa, karena
sesungguhnya dalam ritual Hindu adalah: dewa
ya, bhuta ya. Semua mahkluk dalam satu wujud namun sifat yang membedakan
dalam kurun waktu tertentu. Sifat keraksasan (bhuta) Dewa Kala terjadi karena
lahir dari hubungan intim Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam status “salah kama”.
Salah dalam menentukan hari berhubungan intim, karena itu dalam susastra Hindu
ada hari pantang melakukan hubungan suami istri.
Tumpek
Wayang adalah hari peralihan. Ini disimbolkan dengan hari yang bertemunya wara terakhir. Menjadi manusia haruslah
selalu sadar pada saat peralihan itu, wajib untuk menyucikan dirinya, agar bisa
menggunakan waktu (kala) dengan sebaik-baiknya. Orang yang selalu dikejar oleh
waktu adalah orang yang tak bisa konsentrasi dalam melakukan pekerjaan.
Manusialah yang mengolah waktu dan bukan waktu yang memperbudak manusia. Kala
(waktu) harus dijinakkan. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar