20 Mei 2019

Sapuh Leger dengan Menyucikan Diri


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Hari ini orang Bali yang beragama Hindu menyebutnya Tumpek Wayang. Tumpek adalah Saniscara (Sabtu) Kliwon dalam wariga Bali. Saniscara adalah hari terakhir dalam Sapta Wara. Kliwon juga hitungan terakhir dalam Panca Wara. Dan Tumpek Wayang pun menjadi tumpek yang terakhir dalam wariga Bali. Yang pertama Tumpek Landep menyusul Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan terakhir Tumpek Wayang. Jika dikaitkan dengan hitungan Triwara, ini pun hitungan terakhir, yakni Kajeng.

Jadinya hari ini adalah hari istimewa, hari yang penuh berkah dan keberuntungan. Tentu setiap hari yang baik dan penuh keberuntungan dilewati dengan penyucian diri atau di Bali sering disebut dengan pengelukatan atau pebayuhan. Bahasa nasional adalah ruwatan. Dan ruwatan khusus hari ini disebut Sapuh Leger. Sarananya memakai wayang kulit karena ada cerita yang perlu dijelaskan dengan penggambaran wayang itu.

Tapi pertunjukan itu sendiri bukanlah keharusan, sebagaimana di dalam ajaran Hindu tak ada keharusan mutlak untuk sebuah ritual, harus begini harus begitu. Kita jangan terjebak pada masa lalu seolah-olah kalau tak melakukan ritual tertentu dianggap salah, seolah kita menempatkan Tuhan itu sebagai Sang Maha Penghukum. Tuhan Maha Pengasih, kalau kita mampu melakukan ritual tertentu mari kila lakukan. Kalau tidak, ya, kita tetap memohon anugerah-Nya.

Acara penyucian diri bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang berpedoman pada lontar Sapuh Leger. Di situlah sebuah kisah diuraikan tentang pengembaraan Dewa Kala, putra Dewa Siwa. Dewa Kala diberi izin oleh Dewa Siwa untuk mencemarkan (di Bali lantas disebut: dimakan atau dimangsa) siapa pun yang lahir pada hari itu.


Dewa Kala ketemu calon mangsanya, Sang Kumara (yang arti sesungguhnya seorang anak kecil). Tapi ada lontar lain yang menyebut Panca Kumara, ini bukan soal yang penting benar tentang jumlah. Dikejarlah Sang Kumara ke mana pun perginya. Jika kisah ini dipentaskan dalam suatu pertunjukan, maka imajinasi sang dalang pun bisa bebas. Misalnya, anak itu bersembunyi di sebuah rumah, Dewa Kala dan pembantunya menutup kedua pintu rumah. Eh, Sang Kumara berkelit karena ada pintu ketiga, maka Dewa Kala memberi kutukan: rumah yang pintu keluarnya lebih dari dua tidak boleh. Sang Kumara bersembunyi di tumpukan sampah, dan Dewa Kala memberi kutukan: jangan menimbun sampah di pekarangan rumah. Dan seterusnya, namanya imajinasi sang dalang, di masa lalu ini adalah nasehat yang berguna.

Singkat cerita, setelah kejar-kejaran itu, Sang Kumara akhirnya melihat ada pementasan wayang kulit oleh Dalang Samirana. Sang Kumara bersembunyi di sana, oleh Ki Dalang Samirana yang juga diberi gelar Mpu Leger, anak ini disembunyikan dulu di dalam tabung gender. Pementasan wayang terus berlanjut dan Dewa Kala pun merasakan aroma religius dari pentas sakral itu. Dewa Kala hilang sifat keraksasaannya (atau sifat ke-bhuta-annya) untuk “memangsa” orang, Kala kembali (somya) ke sifat dewa, karena sesungguhnya dalam ritual Hindu adalah: dewa ya, bhuta ya. Semua mahkluk dalam satu wujud namun sifat yang membedakan dalam kurun waktu tertentu. Sifat keraksasan (bhuta) Dewa Kala terjadi karena lahir dari hubungan intim Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam status “salah kama”. Salah dalam menentukan hari berhubungan intim, karena itu dalam susastra Hindu ada hari pantang melakukan hubungan suami istri.

Akhirnya Sang Kumara pun selamat dari kejaran Dewa Kala dan ikut pula dalam aroma nikmatnya ritual pentas wayang dari Mpu Leger atau Dalang Samirana itu. Semua ini adalah simbol, semuanya harus dikupas dengan penafsiran yang bisa saja dipengaruhi oleh waktu dan situasi.

Tumpek Wayang adalah hari peralihan. Ini disimbolkan dengan hari yang bertemunya wara terakhir. Menjadi manusia haruslah selalu sadar pada saat peralihan itu, wajib untuk menyucikan dirinya, agar bisa menggunakan waktu (kala) dengan sebaik-baiknya. Orang yang selalu dikejar oleh waktu adalah orang yang tak bisa konsentrasi dalam melakukan pekerjaan. Manusialah yang mengolah waktu dan bukan waktu yang memperbudak manusia. Kala (waktu) harus dijinakkan. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar