18 Mei 2019

Puasa adalah Bertapa Era Moderen


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

KALAU kita suka cerita-cerita pewayangan atau dongeng di masa lalu, akan banyak dijumpai kisah tentang orang bertapa. Orang pergi ke sebuah tempat yang sunyi, di gua yang dalam, di pertemuan dua sungai, atau di bawah pohon angker. Apa yang dicari? Mereka mencari kesaktian, kekuatan gaib, dan sejenisnya.

Sebenarnya mereka sedang melakukan perenungan yang jauh dari hingar bingar duniawi. Mereka melakukan kontemplasi dan membuang energi buruk sambil berupaya mendapatkan energi positif. Bahwa usai melakukan tapa ada yang berhasil mendapatkan “kekuatan baru” yang dikemas dengan sebutan “kesaktian” dan sejenisnya, itu sesungguhnya adalah energi positif.

Tapi godaannya juga banyak. Dalam kisah pewayangan, Arjuna bertapa digoda oleh para bidadari, juga digoda oleh babi hutan penjelmaan raksasa. Di alam moderen godaan itu pun banyak. Sedang asyiknya konsentrasi di dalam pura tengah malam, tiba-tiba handphone berdering. Kata orang bijak, berada di penjara sebagai narapidana, juga semacam bertapa. Membuang energi dan sifat-sifat buruk sehingga nanti keluar penjara menjadi orang yang lebih tabah. Namun godaannya tak kalah hebat, justru di penjara bertemu orang-orang jahat yang belum tobat sehingga keluar penjara malah lebih rusak lagi. Atau godaan lain menikmati narkoba di penjara.

Setiap orang perlu melakukan tapa untuk memperbarui energi. Ibarat baterai secara berkala perlu diisi setrum (di-charger) agar tetap kuat. Orang tak bisa bekerja secara rutin terus-menerus, maka perlu ada hari libur. Dalam keseharian pun perlu ada waktu jedah sejenak untuk melakukan tapa. Bersembahyang dan bermeditasi adalah tapa dalam bentuk lain yang lebih simple.

Tapa sebagai pengendalian diri sesungguhnya sudah diajarkan dalam hampir semua agama. Yakni berpuasa. Jangan diremehkan puasa itu sebagai “hanya menahan lapar dan haus” tetapi puasa adalah mengekang hawa nafsu dan membuang energi negatif. Pada akhir puasa, jika kita bisa menahan godaan, kita mendapatkan energi positif. Umat Islam yang berpuasa penuh selama bulan Ramadan seperti saat ini menutup puasanya dengan Idul Fitri, yang berarti kembali suci, bersih lahir batin.

Di dalam ajaran Hindu pun dikenal juga puasa, nama sesuai agama disebut upawasa. Upa artinya dekat, wasa artinya Tuhan. Upawasa artinya mendekat pada Tuhan. Jika umat Islam melaksanakan di bulan suci Ramadan, puasa bagi umat Hindu tidak berpatokan pada nama bulan (sasih) tetapi pada hari-hari tertentu. Dan jenis upawasa di dalam Hindu pun jadi bermacam-macam.

Ada puasa dalam kaitan dengan hari Siwaratri. Di mulai pada pagi hari pengelong (menuju bulan mati atau Tilem) ke 14 Sasih Kepitu, sampai esok harinya. Pada siang hari disertai dengan puasa bicara (monabrata). Sedangkan malam hari disertai dengan puasa tidak boleh tidur (jagra). Malam hari itu memuja Dewa Siwa dengan berjapa.

Kemudian puasa saat Nyepi yang jatuh pada penanggal (menuju bulan purnama) satu, Sasih Kedasa. Puasa di sini dilakukan total tidak makan dan minum dimulai ketika pagi hari sampai pagi esoknya. Puasa disertai dengan empat pantangan, amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Masyarakat Hindu di Bali umumnya hanya melaksanakan empat pantangan itu, puasa makan dan minum tidak dilakukan.

Ada puasa ekadasi. Eka berarti satu, dasi sama dengan dasa, artinya sepuluh. Jadi ekadasi berarti sebelas, baik sebelas dalam hitungan pengelong maupun sebelas dalam hitungan penanggal. Cara puasa pun tidak seragam, ada yang mengartikan hanya puasa sehari semalam saja pada saat ekadasi, ada pula yang terus berlanjut sampai pada Tilem atau Purnama. Tentu puasanya hanya pada sianghari saja, semasih ada matahari.

Lalu ada puasa dalam kaitan dengan hari-hari tertentu. Misalnya menjelang ritual yang besar. Usai melakukan pewintenan ekajati dan pediksan dwijati. Ini tergantung pada setiap pribadi yang melakoninya, bisa berbeda-beda pada setiap orang tergantung bagaimana dia memaknai tingkat spiritualnya.

Nah, semua ini sesungguhnya adalah membuang energi negatif dan melakukan instropeksi agar ke depan kita bisa melakoni hidup lebih baik. Kalau di masa lalu orang bertapa, maka kini tapa itu tetap bisa kita lakukan dengan jalan berpuasa. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar