Ida Pandita Mpu Jaya
Prema Ananda
KALAU kita suka
cerita-cerita pewayangan atau dongeng di masa lalu, akan banyak dijumpai kisah
tentang orang bertapa. Orang pergi ke sebuah tempat yang sunyi, di gua yang
dalam, di pertemuan dua sungai, atau di bawah pohon angker. Apa yang dicari?
Mereka mencari kesaktian, kekuatan gaib, dan sejenisnya.
Sebenarnya mereka
sedang melakukan perenungan yang jauh dari hingar bingar duniawi. Mereka
melakukan kontemplasi dan membuang energi buruk sambil berupaya mendapatkan
energi positif. Bahwa usai melakukan tapa ada yang berhasil mendapatkan
“kekuatan baru” yang dikemas dengan sebutan “kesaktian” dan sejenisnya, itu
sesungguhnya adalah energi positif.
Tapi godaannya juga
banyak. Dalam kisah pewayangan, Arjuna bertapa digoda oleh para bidadari, juga
digoda oleh babi hutan penjelmaan raksasa. Di alam moderen godaan itu pun
banyak. Sedang asyiknya konsentrasi di dalam pura tengah malam, tiba-tiba handphone berdering. Kata orang bijak, berada
di penjara sebagai narapidana, juga semacam bertapa. Membuang energi dan
sifat-sifat buruk sehingga nanti keluar penjara menjadi orang yang lebih tabah.
Namun godaannya tak kalah hebat, justru di penjara bertemu orang-orang jahat
yang belum tobat sehingga keluar penjara malah lebih rusak lagi. Atau godaan
lain menikmati narkoba di penjara.
Setiap orang perlu
melakukan tapa untuk memperbarui energi. Ibarat baterai secara berkala perlu
diisi setrum (di-charger) agar tetap
kuat. Orang tak bisa bekerja secara rutin terus-menerus, maka perlu ada hari
libur. Dalam keseharian pun perlu ada waktu jedah sejenak untuk melakukan tapa.
Bersembahyang dan bermeditasi adalah tapa dalam bentuk lain yang lebih simple.
Tapa sebagai
pengendalian diri sesungguhnya sudah diajarkan dalam hampir semua agama. Yakni
berpuasa. Jangan diremehkan puasa itu sebagai “hanya menahan lapar dan haus”
tetapi puasa adalah mengekang hawa nafsu dan membuang energi negatif. Pada
akhir puasa, jika kita bisa menahan godaan, kita mendapatkan energi positif.
Umat Islam yang berpuasa penuh selama bulan Ramadan seperti saat ini menutup
puasanya dengan Idul Fitri, yang berarti kembali suci, bersih lahir batin.
Di dalam ajaran Hindu pun dikenal juga puasa, nama
sesuai agama disebut upawasa. Upa
artinya dekat, wasa artinya Tuhan. Upawasa artinya mendekat pada Tuhan. Jika
umat Islam melaksanakan di bulan suci Ramadan, puasa bagi umat Hindu tidak
berpatokan pada nama bulan (sasih) tetapi pada hari-hari tertentu. Dan jenis upawasa di dalam Hindu pun jadi
bermacam-macam.
Ada puasa dalam kaitan dengan hari Siwaratri. Di mulai
pada pagi hari pengelong (menuju
bulan mati atau Tilem) ke 14 Sasih Kepitu, sampai esok harinya. Pada siang hari
disertai dengan puasa bicara (monabrata).
Sedangkan malam hari disertai dengan puasa tidak boleh tidur (jagra). Malam hari itu memuja Dewa Siwa
dengan berjapa.
Kemudian puasa saat Nyepi yang jatuh pada penanggal (menuju bulan purnama) satu,
Sasih Kedasa. Puasa di sini dilakukan total tidak makan dan minum dimulai
ketika pagi hari sampai pagi esoknya. Puasa disertai dengan empat pantangan, amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Masyarakat Hindu di Bali umumnya hanya melaksanakan empat pantangan itu, puasa
makan dan minum tidak dilakukan.
Ada puasa ekadasi.
Eka berarti satu, dasi sama
dengan dasa, artinya sepuluh. Jadi ekadasi berarti sebelas, baik sebelas
dalam hitungan pengelong maupun
sebelas dalam hitungan penanggal. Cara
puasa pun tidak seragam, ada yang mengartikan hanya puasa sehari semalam saja
pada saat ekadasi, ada pula yang
terus berlanjut sampai pada Tilem atau Purnama. Tentu puasanya hanya pada
sianghari saja, semasih ada matahari.
Lalu ada puasa dalam kaitan dengan hari-hari tertentu.
Misalnya menjelang ritual yang besar. Usai melakukan pewintenan ekajati dan pediksan
dwijati. Ini tergantung pada setiap pribadi yang melakoninya, bisa
berbeda-beda pada setiap orang tergantung bagaimana dia memaknai tingkat
spiritualnya.
Nah, semua ini sesungguhnya adalah membuang energi
negatif dan melakukan instropeksi agar ke depan kita bisa melakoni hidup lebih
baik. Kalau di masa lalu orang bertapa, maka kini tapa itu tetap bisa kita
lakukan dengan jalan berpuasa. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar