02 Maret 2019

Mari Merenung dan Mulatsarira


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

BUMI yang kita huni ini lagi bergemuruh dan sangat berisik. Gemuruh karena ulah alam, ada bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus. Anehnya juga ada kebakaran hutan. Riuh karena tingkah manusia, ada konflik masalah perbatasan negara, ada pro kontra soal tenaga nuklir, ada masalah di dalam negeri masing-masing seperti pemilu. Di antara ulah alam dan tingkah manusia itu, kemajuan teknologi juga membuat keriuhan seperti tak ada jedanya.
 
Hiruk pikuk duniawi yang membawa kebisingan ini perlahan namun pasti telah menghanyutkan kesadaran diri manusia yang semakin jauh, keluar dari jalur yang semestinya dilewati. Sungguh ironis, kesadaran diri seolah berlari tanpa arah yang pasti dalam realitas duniawi yang sama sekali tidak memberikan tujuan yang kita raih dari kebisingan itu.

Saatnya kita memerlukan masa jeda untuk merenung dan melakukan instrospeksi yang di dalam istilah masyarakat Hindu di Bali disebut mulatsarira. Kita secara perlahan namun pasti, mulai membuka kembali lembaran-lembaran wejangan suci yang terangkum dalam ajaran Hindu sembari berusaha mencari esensi mendasar yang bisa kita gunakan sebagai tongkat penuntun dalam menapaki kehidupan yang gaduh di dunia ini. Wejangan, panutan, pantangan, larangan, anjuran dan seterusnya banyak dijumpai dalam susastra Hindu yang sangat luhur.

Hidup sebagai manusia tidaklah mutlak mengejar kesenangan, namun sebuah kesempatan perlu dihadirkan untuk jalan pengendalian diri. Saat kita sadari bahwa pengendalian diri dalam konsepsi mulatsarira merupakan salah satu ajaran fundamental dalam agama Hindu, maka saat itu pula umat berusaha membatasi laju sisi kelam kegaduhan. Kitab Atharvaveda XI.8.2, menyebutkan “tapas caivastam karma cantar mahatyarnave,..” Artinya,  tapa (pengendalian diri) dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan ini.

Berkontemplasi (merenung) akan kesejatian diri, merupakan jalan mutlak untuk sebuah kesadaran akan esensi diri sendiri dalam ruang identitas ragawi. Merenung tidak selalu berarti diam, namun merupakan kondisi untuk merefleksikan diri serta mencari esensi kebenaran yang dapat dijadikan panutan dan benteng diri di tengah gejolak indrawi liar yang senantiasa berontak mengarahkan diri ke jalan semu yang tak pasti. Segala hal atau tindakan dalam aktifitas keseharian pastinya memiliki ruang bagi kita sekadar untuk bertanya, apakah diri ini masih berada dalam jalur dharma ataukah telah ke luar ke jalur adharma. Dengan demikian, maka kita bisa memperbaiki posisi jika memang harus diperbaiki serta berusaha mempertahankan, jika memang masih berada pada tatanan jalur yang patut dipertahankan.


Karenanya bergembiralah dalam menjalankan kebenaran, meskipun dibarengi dengan introspeksi diri dan membatasi gerak dalam ruang pengendalian diri. Kitab Manavadharmasastra sloka 75 menyatakan: Satya dharmarya wrttesu, sauce caivarametsada, sisyamsca simsyad dharmena, vag bahu darasamyatah. Artinya, orang hendaknya gembira melakukan kebenaran, taat pada ajaran suci, bertingkah laku terpuji, berhati suci dan menyucikan muridnya sesuai aturan, dapat mengendalikan kata-kata, tangan dan perutnya.

Seseorang yang berkesadaran penuh serta mau dan mampu membatasi diri di tengah keterbatasan diri ini, niscaya segala hal dalam setiap aktifitas hidupnya akan menjadi terarah dan pola pikirnya tentu menjadi lebih bijak dalam menyikapi segala tekanan  situasi dalam kegemuruhan duniawi ini. Kitab Bhagavadgita bab II sloka 55 menyatakan Prajahati yada kaman, sarvan partha manogatan, atmany eva’tmana tustah, sthitaprajnas tado’cyate, yang artinya: bila seseorang mengenyampingkan (membatasi) segala keinginan-keinginan dari pikirannya, O Partha, dan bila jiwanya puas menikmati kebenaran dirinya yang sejati, maka ia disebut sebagai orang yang bijaksana.
Demikian unik jalan hidup sebagai manusia dalam kuantitas beban yang relatif, namun mesti dilalui, disyukuri dan bahkan dalam beberapa hal  mesti dibatasi. Membatasi diri di tengah keterbatasan bukan berarti melarang, namun melatih diri dalam berkontemplasi dan mulatsarira serta melatih kemampuan vivekajnana dalam memilah hal yang patut dan yang tidak patut dalam dinamika bingkai duniawi.
Mari kita merenung dan mulatsarira dalam Hari Raya Nyepi ini. Selamat Tahun Baru Saka 1941. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar