Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
BUMI yang kita huni ini lagi
bergemuruh dan sangat berisik. Gemuruh karena ulah alam, ada bencana banjir,
tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus. Anehnya juga ada kebakaran hutan.
Riuh karena tingkah manusia, ada konflik masalah perbatasan negara, ada pro
kontra soal tenaga nuklir, ada masalah di dalam negeri masing-masing seperti
pemilu. Di antara ulah alam dan tingkah manusia itu, kemajuan teknologi juga
membuat keriuhan seperti tak ada jedanya.
Hiruk pikuk duniawi yang membawa kebisingan ini perlahan
namun pasti telah menghanyutkan kesadaran diri manusia yang semakin jauh, keluar dari jalur yang semestinya
dilewati. Sungguh ironis, kesadaran diri seolah berlari tanpa arah yang pasti
dalam realitas duniawi yang sama sekali tidak memberikan tujuan yang kita raih dari kebisingan itu.
Saatnya kita memerlukan masa jeda
untuk merenung dan melakukan instrospeksi yang di dalam istilah masyarakat
Hindu di Bali disebut mulatsarira. Kita secara perlahan namun
pasti, mulai membuka kembali lembaran-lembaran
wejangan suci yang terangkum dalam ajaran Hindu sembari berusaha mencari esensi mendasar yang bisa kita gunakan sebagai tongkat penuntun dalam menapaki
kehidupan yang gaduh di dunia ini.
Wejangan, panutan, pantangan, larangan, anjuran dan seterusnya banyak dijumpai dalam susastra
Hindu yang sangat luhur.
Hidup sebagai manusia tidaklah mutlak mengejar kesenangan, namun sebuah kesempatan perlu dihadirkan untuk jalan pengendalian diri. Saat kita sadari bahwa pengendalian diri dalam
konsepsi mulatsarira merupakan salah satu ajaran fundamental dalam agama
Hindu, maka saat itu pula umat berusaha membatasi laju sisi kelam kegaduhan. Kitab Atharvaveda XI.8.2, menyebutkan “tapas caivastam karma cantar mahatyarnave,..”
Artinya, tapa (pengendalian diri) dan keteguhan hati adalah
satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan ini.
Berkontemplasi (merenung) akan kesejatian
diri, merupakan jalan mutlak untuk sebuah kesadaran
akan esensi diri sendiri dalam ruang identitas ragawi. Merenung tidak selalu
berarti diam, namun merupakan kondisi untuk merefleksikan diri serta mencari
esensi kebenaran yang dapat dijadikan panutan dan benteng diri di tengah
gejolak indrawi liar yang senantiasa berontak mengarahkan diri ke jalan semu
yang tak pasti. Segala hal atau tindakan dalam aktifitas keseharian pastinya
memiliki ruang bagi kita sekadar untuk bertanya, apakah diri ini masih berada dalam
jalur dharma ataukah telah ke luar ke jalur adharma. Dengan demikian, maka kita bisa memperbaiki posisi jika memang harus diperbaiki serta berusaha mempertahankan, jika memang
masih berada pada tatanan jalur yang patut dipertahankan.

Karenanya bergembiralah dalam menjalankan
kebenaran, meskipun dibarengi dengan introspeksi diri dan membatasi gerak dalam
ruang pengendalian diri. Kitab Manavadharmasastra sloka 75 menyatakan: Satya
dharmarya wrttesu, sauce
caivarametsada, sisyamsca simsyad dharmena, vag bahu darasamyatah. Artinya, orang hendaknya gembira melakukan kebenaran, taat pada
ajaran suci, bertingkah laku terpuji, berhati suci dan menyucikan muridnya
sesuai aturan, dapat mengendalikan kata-kata, tangan dan perutnya.
Seseorang yang berkesadaran penuh serta mau dan
mampu membatasi diri di tengah keterbatasan diri ini, niscaya segala hal dalam
setiap aktifitas hidupnya akan menjadi terarah dan pola pikirnya tentu menjadi
lebih bijak dalam menyikapi segala tekanan
situasi dalam kegemuruhan duniawi ini. Kitab Bhagavadgita bab II sloka 55 menyatakan Prajahati yada kaman,
sarvan partha manogatan, atmany eva’tmana tustah, sthitaprajnas tado’cyate,
yang artinya: bila seseorang mengenyampingkan (membatasi) segala keinginan-keinginan
dari pikirannya, O Partha, dan bila jiwanya puas menikmati kebenaran dirinya
yang sejati, maka ia disebut sebagai orang yang bijaksana.
Demikian unik jalan hidup sebagai manusia dalam
kuantitas beban yang relatif, namun mesti dilalui, disyukuri dan bahkan dalam
beberapa hal mesti dibatasi. Membatasi
diri di tengah keterbatasan bukan berarti melarang, namun melatih diri dalam
berkontemplasi dan mulatsarira serta melatih kemampuan vivekajnana
dalam memilah hal yang patut dan yang tidak patut dalam dinamika bingkai
duniawi.
Mari kita merenung dan mulatsarira dalam Hari Raya Nyepi ini. Selamat Tahun Baru Saka
1941. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar