Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
KETIKA upacara melasti dalam
kaitan dengan hari suci Nyepi yang lalu, banyak ada orang yang kerauhan. Baik saat Ida Bethara mulai
diturunkan dari pelinggih dan bersiap
diusung menuju pantai, mau pun saat ritual melasti itu berlangsung di pantai.
Namun tak semua umat Hindu sama pemahamannya terhadap adanya orang kerauhan ini. Apalagi sudah sering
terjadi adanya apa yang disebut dengan kesurupan masal. Lalu orang pun tak bisa
membedakan apa itu kerauhan adan apa
itu kesurupan.
Bahkan masyarakat yang tinggal di
perkotaan atau umumnya di Bali Selatan yang tak mengenal adanya tradisi kerauhan, langsung curiga jika dalam
sebuah ritual ada orang yang berteriak-teriak atau menangis. Orang pun terus
menuduh bahwa yang berteriak-teriak itu adalah orang stres. Mereka pun menyebut
orang itu kesurupan.
Kerauhan
berkaitan dengan ritual sedang kesurupan bisa di sembarang tempat. Kita sering
mendengar ada kesurupan masal pada saat anak-anak belajar di sekolah. Padahal
saat itu tak ada ritual apa pun di sana. Tak jelas apa pangkal masalahnya.
Berbagai upaya untuk “menyembuhkan” yang kesurupan itu termasuk mendatangkan
paranormal.
Kerauhan terjadi
saat ada ritual seperti piodalan di sebuah pura. Terutama di daerah-daerah yang
secara ketat menjaga tradisi yang setiap ada piodalan pemangku melakukan acara
yang disebut “nuhur bethara”. Kata ini maksudnya adalah memohon Ida Bethara
yang berstana di pura itu untuk tedun
(turun) pada saat piodalan. Jika berkenan Betahara pun “datang” dan kedatangan
ini yang disebut rauh dan orang yang
menjadi perantara itu disebut kerauhan
.
Siapa yang rauh? Namanya saja
“nuwur Bethara” tentu yang datang adalah Bethara lewat seorang sutri atau juga disebut dasaran
atau tapakan. Bethara yang turun lewat
perantara itu kemudian dimintai baos (ucapannya) sehubungan dengan persembahyangan itu. Biasanya pertanyaan para pemangku yang pertama-tama adalah apakah persembahyangan ini
bisa diterima dengan baik, atau terjadi penyimpangan sehingga ada yang harus
diperbaiki di kesempatan mendatang. Lalu adakah hal-hal penting yang ingin disampaikan Ida Bethara yang rauh itu. Setelah semua “dialog” itu selesai lalu mohon doa restu lewat tirtha (air suci) yang kemudian dipercikkan ke
umat yang bersembahyang.
Bagi masyarakat di desa yang
tetap mempertahankan acara “nuwur bethara” adanya kerauhan ini ditunggu-tunggu. Bagi masyarakat Bali selatan apalagi
yang terbiasa melakukan piodalan dengan dipuput
sulinggih yang waktunya terbatas, bisa jadi hal itu terasa aneh. Barangkali
mereka berpikir kok di zaman now ini
masih ada yang melakukan persembahyangan berjam-jam menunggu kerauhan.
Pertanyaannya
adalah apakah tradisi “nuwur bethara” dan adanya kerauhan itu salah? Kalau melihat siapa sutri atau tapakan yang
dijadikan perantara kerauhan, tentu
tak ada yang salah. Mereka adalah orang-orang yang terjaga kesuciannya
sehari-hari. Mereka bukan orang stress. Lagi pula dialog yang muncul saat kerauhan itu normal saja, penuh nuansa
kedamaian. Usai dialog pun saat yang disebut “bethara mantuk” suasana tetap
religius diiringi tembang wargasari yang memang ada episode “mantuk i ratu
mantuk...”
Siapakah Bethara itu? Tentu saja bukan
Istadewata dalam ajaran Hindu. Juga bukan Tuhan itu sendiri. Bethara adalah para leluhur orang Bali
atau leluhur para pengempon pura yang sudah disucikan. Umat Hindu selain memuja
Tuhan (Hyang Widhi) dengan Istadewata yang merupakan “sinar suci Tuhan”, juga ada pemujaan kepada
leluhur. Para leluhur ini dulunya adalah manusia biasa, sama dengan kita-kita
ini. Namun, karena ilmu kerohaniannya tinggi dan mencapai moksa dalam kehidupannya,
mereka sudah terbebas dari alur reinkarnasi. Mereka disucikan di sebuah pura
yang bisa jadi dulu merupakan stana
(rumah tinggal) beliau. Maka dikenallah nama-nama bethara seperti Bethara
Batumadeg, Bethara Puncak Kedaton, Bethara Turus Gunung, Bethara Gunung Tengah
dan banyak lagi, semuanya mempunyai “pelinggih” atau tempat suci.
Jadi tak ada
yang salah dengan tradisi kerauhan
yang sampai kini dijaga di sejumlah desa tradisional. Karena jelas yang rauh hanyalah Bethara, yang dahulu kala adalah manusia biasa namun suci.
Sedangkan Istadewata yang
merupakan sinar suci Tuhan, tak
mungkin rauh. Tak ada orang kerauhan dengan
menyebut diri
Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan sebagainya. Apalagi menyebut kerauhan Tuhan, itu jelas tak mungkin. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar