09 Maret 2019

Kerauhan Soal Biasa dalam Ritual


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

KETIKA upacara melasti dalam kaitan dengan hari suci Nyepi yang lalu, banyak ada orang yang kerauhan. Baik saat Ida Bethara mulai diturunkan dari pelinggih  dan bersiap diusung menuju pantai, mau pun saat ritual melasti itu berlangsung di pantai. Namun tak semua umat Hindu sama pemahamannya terhadap adanya orang kerauhan ini. Apalagi sudah sering terjadi adanya apa yang disebut dengan kesurupan masal. Lalu orang pun tak bisa membedakan apa itu kerauhan adan apa itu kesurupan.

Bahkan masyarakat yang tinggal di perkotaan atau umumnya di Bali Selatan yang tak mengenal adanya tradisi kerauhan, langsung curiga jika dalam sebuah ritual ada orang yang berteriak-teriak atau menangis. Orang pun terus menuduh bahwa yang berteriak-teriak itu adalah orang stres. Mereka pun menyebut orang itu kesurupan.

Kerauhan berkaitan dengan ritual sedang kesurupan bisa di sembarang tempat. Kita sering mendengar ada kesurupan masal pada saat anak-anak belajar di sekolah. Padahal saat itu tak ada ritual apa pun di sana. Tak jelas apa pangkal masalahnya. Berbagai upaya untuk “menyembuhkan” yang kesurupan itu termasuk mendatangkan paranormal.

Kerauhan terjadi saat ada ritual seperti piodalan di sebuah pura. Terutama di daerah-daerah yang secara ketat menjaga tradisi yang setiap ada piodalan pemangku melakukan acara yang disebut “nuhur bethara”. Kata ini maksudnya adalah memohon Ida Bethara yang berstana di pura itu untuk tedun (turun) pada saat piodalan. Jika berkenan Betahara pun “datang” dan kedatangan ini yang disebut rauh dan orang yang menjadi perantara itu disebut kerauhan .

Siapa yang rauh? Namanya saja “nuwur Bethara” tentu yang datang adalah Bethara lewat seorang sutri atau juga disebut dasaran atau tapakan. Bethara yang turun lewat perantara itu kemudian dimintai baos (ucapannya) sehubungan dengan persembahyangan itu. Biasanya pertanyaan para pemangku yang pertama-tama adalah apakah persembahyangan ini bisa diterima dengan baik, atau terjadi penyimpangan sehingga ada yang harus diperbaiki di kesempatan mendatang. Lalu adakah hal-hal penting yang ingin disampaikan Ida Bethara yang rauh itu. Setelah semua “dialog” itu selesai lalu mohon doa restu lewat tirtha (air suci) yang kemudian dipercikkan ke umat yang bersembahyang.

Bagi masyarakat di desa yang tetap mempertahankan acara “nuwur bethara” adanya kerauhan ini ditunggu-tunggu. Bagi masyarakat Bali selatan apalagi yang terbiasa melakukan piodalan dengan dipuput sulinggih yang waktunya terbatas, bisa jadi hal itu terasa aneh. Barangkali mereka berpikir kok di zaman now ini masih ada yang melakukan persembahyangan berjam-jam menunggu kerauhan.

Pertanyaannya adalah apakah tradisi “nuwur bethara” dan adanya kerauhan itu salah? Kalau melihat siapa sutri atau tapakan yang dijadikan perantara kerauhan, tentu tak ada yang salah. Mereka adalah orang-orang yang terjaga kesuciannya sehari-hari. Mereka bukan orang stress. Lagi pula dialog yang muncul saat kerauhan itu normal saja, penuh nuansa kedamaian. Usai dialog pun saat yang disebut “bethara mantuk” suasana tetap religius diiringi tembang wargasari yang memang ada episode “mantuk i ratu mantuk...”


Siapakah  Bethara itu? Tentu saja bukan Istadewata dalam ajaran Hindu. Juga bukan Tuhan itu sendiri. Bethara adalah para leluhur orang Bali atau leluhur para pengempon pura yang sudah disucikan. Umat Hindu selain memuja Tuhan (Hyang Widhi) dengan Istadewata yang merupakan “sinar suci Tuhan”, juga ada pemujaan kepada leluhur. Para leluhur ini dulunya adalah manusia biasa, sama dengan kita-kita ini. Namun, karena ilmu kerohaniannya tinggi dan mencapai moksa dalam kehidupannya, mereka sudah terbebas dari alur reinkarnasi. Mereka disucikan di sebuah pura yang bisa jadi dulu merupakan stana (rumah tinggal) beliau. Maka dikenallah nama-nama bethara seperti Bethara Batumadeg, Bethara Puncak Kedaton, Bethara Turus Gunung, Bethara Gunung Tengah dan banyak lagi, semuanya mempunyai “pelinggih” atau tempat suci.

Jadi tak ada yang salah dengan tradisi kerauhan yang sampai kini dijaga di sejumlah desa tradisional. Karena jelas yang rauh hanyalah Bethara, yang dahulu kala adalah manusia biasa namun suci. Sedangkan Istadewata yang merupakan sinar suci Tuhan, tak mungkin rauh. Tak ada orang kerauhan dengan menyebut diri Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan sebagainya. Apalagi menyebut kerauhan Tuhan, itu jelas tak mungkin. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar