04 November 2018

Aneka Cara memuja Tuhan


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

BAGAIMANA cara kita berbhakti dan memuja Tuhan yang dibenarkan dalam ajaran Hindu? Coba kita telusuri sloka Bhagavata Purana VII.5.23. Bunyinya: Sravanam kirtanam visnoh smaranam padasevanam arcanam vandanam dasyam sakhyam atma nivedanam. Di sloka ini dijelaskan ada sembilan jenis bhakti untuk memuja Wisnu yang pada hakekatnya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ke sembilan jenis bhakti ini disebut Navalaksanabhakti (sembilan laksana berbhakti) dan di situ dijelaskan apa perbedaannya yang tujuannya adalah sama untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu.

Berdasarkan urutan sloka itu, yang pertama adalah sravanam. Maksudnya berbhakti kepada Tuhan dengan membaca dan mendengarkan pembacaan kitab-kitab suci. Hal ini sudah dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali sejak dulu kala. Para leluhur kita memperkenalkan acara pesantian yang menjadi bukti bagaimana umat mengetahui jalan bhakti dengan membaca tembang berirama.
Urutan kedua adalah kirtanam. Mengucapkan atau melagukan nama-nama Tuhan Yang Maha Esa berulang-ulang. Kirtanam ini bukan hanya dilakukan oleh kelompok sampradaya, tetapi masyarakat tradisional Bali dengan cara melantunkan kidung wargasari adalah kirtanam pula. Kalau ada piodalan di pura, kidung itu terus mengalun dan itulah kirtanam yang sudah lama ada.
Urutan yang ketiga adalah smaranam. Mengingat terus nama Tuhan atau dengan jalan bermeditasi memuja Beliau. Ini pun telah banyak dilakukan oleh umat. Panca Sembah usai persembahyangan adalah bentuk lain dari smaranam.

Urutan yang keempat adalah pada sevanam. Memberi pelayanan kepada mereka yang membutuhkan, misalnya, melayani orang sakit, bersedekah kepada orang miskin, dan sejenisnya. Melayani mereka itu sebagai wujud bhakti kepada makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sendirinya berarti memuja Tuhan juga. Ini yang harus lebih banyak dilakukan oleh masyarakat Bali lewat pelaksanaan Manusa Yadnya.  Jadi yang disebut Manusa Yadnya itu bukan sekadar ritual untuk seseorang di lingkungan keluarga, dari otonan, potong gigi, kawin dan berbagai runtutannya. Memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan pertolongan, misalnya, santunan ke rumah panti asuhan adalah juga bentuk Manusa Yadnya.

Urutan yang kelima adalah arcanam. Memuja keagungan Tuhan lewat sarana arca (pratima) dengan mempersembahkan bunga, buah-buahan dan sebagainya. Ini tak perlu penjelasan lagi, karena masyarakat Hindu di Bali sudah sangat akrab dengan bentuk bhakti ini. Malah sering berlebihan menghaturkan buah dan jajanan pada saat piodalan sehingga prasadam (surudan) tak habis dimakan lalu basi dan diberikan babi.

Urutan yang keenam adalah vandanam. Memuja Tuhan dengan bersujud. Kadang ini sangat diremehkan oleh umat, karena sujud itu bisa saja tanpa sarana apa pun. Umat sering berpikir, tidak enak mendatangi tempat-tempat suci tanpa membawa sarana. Padahal dengan sujud di depan arca atau patung yang melambangkan stana Tuhan, itu sudah merupakan bhakti. Sekarang ini banyak berdiri patung dewa-dewi seperti  Siwa, Laksmi, Ganesha dan sebagainya. Orang bisa sujud di depan patung itu untuk memuja Tuhan dalam manifestasi istadewata sesuai yang ada tanpa perlu sarana apa pun kalau memang keadaan yang memaksa.

Urutan ke tujuh adalah Dasyam artinya mengabdi atau melayani Tuhan dengan rasa tulus ikhlas. Dalam prakteknya diwujudkan ke dalam bentuk ngayah di pura atau gotong royong di tempat-tem[at suci atau menolong orang lain yang sedang punya pekerjaan sosial. Ini bentuk perbuatan nyata yang merupakan perwujudan bhakti kepada Tuhan.

Urutan yang kedelapan adalah sakhya. Memandang Tuhan sebagai sahabat sejati. Sebagai sahabat setiap saat kita ingat, setiap saat kita melantunkan doa-doa meski dalam hati. Sebelum bekerja kita ucapkan doa, sebelum makan kita juga berdoa dan seterusnya, seolah Tuhan selalu menyertai kita sebagai sahabat. Banyak orang saat ini mengucapkan mantram-mantram pendek seperti Gayatri Matram, meski pun itu di dalam hati, misalnya dalam perhalanan di mobil. Ada rasa ketenangan dan terhindar dari rasa takut. 

Yang kesembilan atau yang terakhir adalah atmanivedanam. Ini adalah puncaknya, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Apa pun yang kita lakukan adalah untuk Tuhan. Kita harus selalu meyakini, tak ada sesuatu yang bergerak tanpa kehendakNya. Daun gugur pun atas kehendak Beliau. Mati dan hidup ini adalah hak prerogatif Tuhan, kita tak tahu kapan kehidupan kita berakhir. Karena itu wajib untuk kita berbuat baik setiap saat dan selalu mengingat Tuhan karena kalau tiba-tiba nyawa kita dicabut, maka hanya kebaikan yang telah kita persembahkan. Mari kita hayati sloka suci cara-cara memuja Tuhan ini agar kita tak terpaku pada satu bentuk pemujaan saja. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar