Ida Pandita Mpu Jaya
Prema Ananda
DEWI Saraswati yang hari
turunnya ke bumi dirayakan pada Sabtu hari ini, sudah umum dikenal sebagai Dewi
Ilmu Pengetahuan. Dewi ini dipuja di pusat-pusat di mana ilmu pengetahuan
digiatkan. Di sekolah, di pasraman, di perpustakaan biasanya ada pemujaan itu.
Dan yang pasti bentuk karya tulis tradisional seperti lontar diadakan selamatan
sesuai dengan kebiasaan setempat. Bahkan dulu ada kebiasaan yang salah di mana
anak-anak murid dilarang membaca pada hari itu karena buku-bukunya diberikan
sesajen.
Jarang sekali orang
menyoroti Dewi Saraswati sebagai Dewi Kesenian. Padahal dalam perwujudannya
yang sudah dibakukan dalam sastra Hindu, Dewi Saraswati memakai ornamen yang
berkaitan dengan kesenian. Dua tangan dewi secara mencolok memegang veena (alat
musik sejenis gitar), simbol dari keharmonisan hati dan pikiran karena dirasuk oleh
keindahan seni. Ada pun dua tangannya
yang lain membawa kitab
suci, lambang dari ilmu pengetahuan dan satu lagi membawa akshamala
(sering disebut genitri atau tasbih) melambangkan ilmu itu tak habis-habisnya
dipelajari.
Lalu
lihatlah pemujaan Saraswati di berbagai kota di dunia. Lebih banyak dalam
bentuk seni budaya seperti lagu-lagu pemujaan. Di media sosial YouTube juga
bertebaran lagu untuk memuja Saraswati. Konon yang paling digemari adalah Om Jai Sarasvati Mata. Juga lagu Sarasvati Amritwani yang dinyanyikan
Anuradha Pawudwal. Di Jawa Tengah juga populer tembang Saraswati berbau Jawa
dengan gaya ngelangenin. Di Bali muncul pula tembang wargasari dengan memuja
Dewi Saraswati. Jadi sudah tidak asing lagi Saraswati dipuja lewat seni budaya.
Saraswati memang
melambangkan cinta, kasih sayang, kehalusan budi, dan
seni budaya secara umum.
Di Bali jika ada pesantian
atau ritual di pura yang memerlukan iringan kidung, biasanya ada sesajen yang
mendampingi sekehe kidung. Dan di situ yang dipuja adalah Dewi Saraswati.
Mekidung adalah nyanyian dalam
ritual keagamaan. Bahasa lainnya adalah gita,
bhajan, kirtan. Semuanya bertujuan untuk menghadirkan hati dan budi yang
cerah, karena kecerahan itu bisa mengekspresikan kesucian Atman dan
mengendalikan kecerdasan pikiran. Kalau pikiran dikuasai oleh ekspresi indria
atau hawa nafsu maka pikiran itu bisa keruh. Orang harus menyanyikan
kidung-kidung suci untuk menentramkan pikiran itu.
Dalam kitab Manawa
Dharmasastra disebutkan nyanyian keagamaan itu sebagai pelumas unsur-unsur jiwa
dan raga. Kalau unsur-unsur yang membangun jiwa dan raga itu dapat berfungsi
sebagaimana mestinya sesuai dengan norma, maka manusia akan dapat hidup aman,
damai, sehat, segar, bugar dan sejahtra. Itulah yang dicari umat manusia, hidup
bahagia lahir batin.
Dalam kitab Bhagawad Gita
IX.14 disebutkan cara bhakti kepada Tuhan dengan Satatam Kirtayanto artinya Puja Tuhan dengan kidung. Sloka inI
menggunakan istilah Kirtayanto
sebagai cara melakukan Bhakti pada Tuhan. Gde Puja dalam terjemahan Bhagawad
Gita mengartikan kata Kirtayanto itu sebagai mengagungkan, memuliakan
dan menyebut kebesaran Tuhan.
Dalam tradisi Hiindu di
Bali nyanyian keagamaan itu memakai berjenis-jenis kidung. Biasanya hal itu
berdasarkan tahapan yadnya dan juga jenis yadnyanya. Untuk Dewa Yadnya beda
dengan Pitra Yadnya, misalnya. Dari jenis tembang ada yang disebut Sekar Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung. Sekar Alit biasanya disebut
geguritan dengan berbagai pupuh, seperti Sinom. Ginada dan sebagainya. Sekar
Madia dengan pupuh yang lebih sukar dan rumit dan ini yang biasanya disebut
Kidung. Ada pun Sekar Agung disebut
Kekawin. Dalam upacara Dewa Yadnya biasa dipakai kidung wargasari sedang dalam
Pitra Yadnya sudah memakai kekawin palawakya
pada saat mutru.
Semuanya ini pada
hakekatnya adalah pemujaan kepada Tuhan dalam ritual itu. Bahkan pemangku
meskipun memakai sonteng (dengan
bahasa yang dipahami apakah bahasa Bali atau bahasa Kawi) pada hakekatnya juga
tergolong gita atau kirtan. Para pendeta pun dalam
melafalkan mantram juga melaksanakan kirtan.
Kalau kita perhatikan pendeta dalam muput karya, mantram itu ada yang dilagukan
seperti kekawin, ada yang duucapkan dengan nada palawakya.
Nah kalau kita perhatian
bagaimana awal dari mekidung mau pun kirtan itu ternyata Dewi Saraswati yang
dipuja lebih dulu. Artinya, sang dewi ini tak semata-mata menurunkan ilmu
pengetahun tetapi juga mengayomi masalah kesenian khususnya dalam kaitan dengan
nyanyi sesuai dengan gitar yang dipegangnya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar