Putu Setia |
@mpujayaprema
Haringga Sirla,
suporter Persija Jakarta, tewas mengenaskan di tangan para bobotoh Persib
Bandung. Bagi yang kuat menonton video pembantaian Haringga di media sosial,
pengeroyokan itu sangatlah kejam. Dampaknya besar, sepak bola Indonesia yang
sesungguhnya tidaklah begitu maju, harus gonjang-ganjing. Liga 1 PSSI terpaksa dihentikan,
meski cuma 2 minggu.
Tapi bukankah
kematian suporter bola di negeri ini bukan hanya sekali itu? Haringga adalah
korban ke tujuh dari perseteruan Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Belum
lagi korban lain di luar dua klub papan atas itu. Apakah korban ke tujuh ini
yang terakhir atau menyusul korban ke delapan, tergantung sejauh mana kita
berbenah. Sepertinya ada hal-hal yang harus dipertimbangkan bersama di luar
teknik gojekan bola.
Antara klub dan
suporter punya ikatan kuat yang memunculkan fanatisme. Pemain bola yang begitu
girang tatkala memasukkan gol akan percuma melakukan gerakan kemenangan jika
tak ada suporter. Suporter penting untuk penyemangat, selain membeli tiket
masuk untuk tambahan dana bagi klub.
Karena itu klub
sepakbola menjalin komunikasi dengan suporternya. Dibuatlah kumpulan suporter
dengan nama-nama yang aneh. Persija punya The Jakmania, Persib punya Viking
Persib Club, Bali United punya Serdadu Tridatu. Julukan lain masih ada, bobotoh
untuk Persib, padahal bobotoh itu artinya pendukung, penyemangat, atau pendamping. Suporter Jakarta juga
dijuluki macan Kemayoran sedang suporter Persebaya Surabaya dijuluki bonek –
dari akronim bondo nekat.
Nama itu memberi
semangat tapi di sisi lain berpengaruh pada prilaku suporter. Bonek sering
masuk stadion tanpa bayar tiket, pergi ke Jakarta “mengawal” Persebaya tak
bayar karcis kereta api. Bekalnya pas-pasan – namanya saja bondo nekat –pulang
dari Jakarta menjarah nasi bungkus di stasiun Yogya, misalnya. Ternyata bola
menjadi hal yang menakutkan.
Bonek, mania,
bobotoh, macan menyiratkan semangat untuk berperang. Nama Viking pun, diambil
dari nama suku bangsa di kawasan Skandinavia, adalah nama suku perompak.
Tridatu yang dipakai suporter Bali United mungkin kekecualian. Tridatu itu benang
tiga warna lambang dewa Brahma, Wisnu dan Iswara. Kenapa istilah sakral? Konon
supaya suporternya bisa lebih damai seolah terbebani dengan nama ketiga dewa
itu. Kenyataannya konon suporter Bali United paling sopan selama ini – meski
nama sakral itu ditambahi nama berkonotasi perang juga: serdadu.
Yang jadi masalah tak
semua “laskar perang bola” ini bisa dirangkul oleh klub lewat organisasi
suporter. Pengeroyok Haringga di Bandung sudah pasti “suporter jalanan”. Mereka
bukan penonton bola, mereka menyalurkan semangat perang lewat keramaian sepak bola.
Mereka harus beraksi tak peduli ada korban. Kelompok ini justru mencelakakan
klub. Mereka bukan fanatik pada klub tetapi merindukan kekerasan. Bukankah
polisi kaget ketika memeriksa tersangka pengeroyokan Haringga, kok tidak ada
yang menyesal?
Kelompok macam ini,
yang seolah-olah suporter pemberi semangat tapi nyatanya cuma ingin ribut, tak
hanya di bola. Di politik juga mulai tumbuh subur. Lihatlah caci maki di media
sosial termasuk pengeroyokan oleh akun-akun dengan sangat kasar. Calon
presidennya saling peluk sembari bekotbah tentang kedamaian, para suporternya
tetap saling maki. Apa sebenarnya yang terjadi? Barangkali pemimpin di atas
terlalu asyik dengan lingkungan yang terbatas, sesekali bisa kontrol di lapisan
tengah, tapi tidak nyambung dengan akar rumput. Tiba-tiba kaget sudah ada
korban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar