Ida
Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
HIDUP
yang harmoni adalah tujuan dari setiap manusia yang ada di dunia ini. Tak ada
cita-cita dalam kehidupan ini kita hidup penuh dengan percekcokan, apalagi
peperangan. Begitu pula tak ada keinginan dalam hidup ini kita selalu dilanda
bencana alam. Dalam ajaran Hindu kehidupan yang harmoni itu tersirat dalam
ajaran Tri Hita Karana, tiga jenis keharmonisan, harmonis sesama manusia,
harmonis bersama alam, dan harmonis dalam hubungan dengan Sang Pencipta.
Lalu
bagaimana kita melangkah agar mendapatkan harmoni dalam hidup ini? Dalam kitab
Bhagawadgita III.10 disebutkan bahwa yadnya
yang menjadi dasar hubungan antara manusia (praja) dengan Tuhan Yang
Maha Esa (prajapati), dan dengan alam (kamadhuk). Dasarnya adalah
wujud bhakti yang tulus penuh kasih sayang. Sloka itu berbunyi: saha-yajnah prajah srstva, purovaca
prajapatih, anena prasavis yadhvam, esa vo’stv ista-kama-dhuk.
Konsep ini yang mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan
Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama manusia (pawongan) dan
manusia dengan lingkungan (palemahan) sebagaimana yang dirinci dalam Tri
Hita Karana. Harmonisasi hubungan ini hanya mampu dipelihara melalui
pelaksanaan yadnya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bila kita ingin
sejahtera dan bahagia, maka lakukanlah yadnya sebagai bentuk dari
kewajiban (swadharma) menuju bhutahita dan jagadhita.
Keharmonisan hidup ini sejalan dengan apa yang diuraikan dalam
kitab Sarasamuccaya sloka 135. Sloka ini menganjurkan agar untuk mendapatkan
kehidupan yang sejahtra haruslah tetap menjaga terpeliharanya keharmonisan dengan
alam semesta. Dengan kata lain, bila kita ingin mewujudkan kebahagiaan dalam
hidup ini, maka kita wajib mensejahterakan alam dan isinya terlebih dahulu.
Bagaimana cara mensejahtrakan alam semesta itu? Lakukan yadnya sebagaimana yang sudah diuraikan
dalam Panca Yadnya, khususnya upacara
Bhuta Yadnya. Di sinilah manusia
dan alam saling bersinergi. Melalui pelaksanaan Bhuta Yadnya dari yang
terkecil seperti masaiban, masegeh sampai yang lebih besar
seperti macaru, tawur dan seterusnya. Semua yadnya ini bertujuan mewujudkan Bhutahita.
Dalam Lontar Puraṇa Bali disebutkan bahwa untuk mewujudkan Bhutahita
dan Jagadhita perlu berpegang pada Sad Kerthi sebagai
aktualisasi konsep Tri Hita Karana. Sad
Kerthi itu terdiri dari Atma Kerthi, Samudra Kerthi, Wana Kerthi, Danu
Kerthi, Jagat Kerthi, dan Jana
Kerthi. Penerapan Sad Kerthi penting dilaksanakan sebagai
upaya untuk mendapatkan keharmonisan hidup menuju kesejahtraan. Ini adalah
jalan mewujudkan harmonisasi kehidupan menuju Bhutahita dan Jagahita.
Apa penjelasan dari keenam kerthi
itu? Yang pertama, Atma Kerthi, yaitu melakukan pelestarian dan
menyucikan Sang Hyang Atma dari belenggu Tri Guna dengan
melindungi, memelihara dan memfungsikan berbagai kawasan dan kegiatan suci
sebagai sarana untuk menyucikan diri (Atman). Yang kedua, Samudra
Kerthi, yaitu menjaga kelestarian laut dengan pantainya sebagai tempat
melaksanakan upacara penyucian dan peleburan seperti melasti, mulang pakelem
dan juga menghanyutkan
abu jenazah dalam kaitan dengan Pitra
Yadnya. Yang ketiga, Wana Kerthi, yaitu melestarikan dan menjaga
kelestarian hutan baik secara niskala melalui ritual seperti Tumpek
Wariga mau pun secara phisik dengan menjaga pepohonan yang ada. Yang keempat,
Danu Kerthi, yaitu menjaga kelestarian sumber-sumber air tawar di
daratan seperti mata air danau, sungai dengan melaksanakan upacara seperti pakelem.
Yang kelima, Jagat
Kerthi, yaitu melestarikan keharmonisan sosial di masyarakat dengan tujuan
mewujudkan masyarakat Jagadhita, hidup
aman, makmur dan damai. Yang keenam, Jana Kerthi, yaitu membangun
kualitas manusia baik jasmani, kecerdasan pikiran mau pun kesadaran budhinya.
Kalau saja Sad Kerthi mampu diwujudkan dalam hidup ini
pasti harmoni kehidupan akan terwujud. Kehidupan yang selaras, serasi dan
seimbang secara vertikal sesama umat manusia dan horizontal kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Harmoni yang berlandaskan konsep filosofi Tri Hita Karana ini akan mengantarkan kita
menuju pada Bhutahita dan Jagadhita. Alam yang lestari, kehidupan
yang damai dan hubungan harmonis sesama manusia. Itulah dambaan dalam hidup
ini. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar