Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
MEMBERI maaf dan meminta maaf
adalah hal yang wajar dalam pergaulan di masyarakat. Kelapangan dada dalam
memberi dan meminta maaf itu menunjukkan keberadaban seseorang. Karena itu di
setiap hari raya keagamaan selalu disertai dengan permohonan maaf kepada
sesama.
Dalam tradisi masyarakat Hindu, meminta
maaf itu juga hal yang mulia lebih-lebih meminta maaf kepada Tuhan Yang Maha
Esa, kepada leluhur, bahkan meminta maaf kepada para bhuta kala. Tradisi itu disebut
meguru piduka.
Ada orang yang sakit
terus-menerus tak kunjung sembuh oleh obat dari dokter. Dalam keputus-asaan itu
mereka mendatangi “orang pintar” entah itu yang disebut Jero Balian atau Jero
Dasaran. Lewat perantaraan Jero Balian ini diketahui apa kesalahan orang itu.
Lalu dijelaskan harus ditebus dengan jalan menghaturkan guru piduka dan pelaksanaan itu kemudian disebut meguru piduka. Intinya adalah meminta
maaf dengan ritual. Jika kemudian sakit orang itu berangsur hilang maka
pelaksanaan meguru piduka disebut
berhasil. Ini masalah keyakinan yang tak bisa diperdebatkan. Bisa jadi pula
karena keyakinan menghaturkan guru piduka
itu membuat orang yang sakit muncul kepercayaan-dirinya, pikirannya lebih
tenang seolah-olah masalah yang dihadapi sudah selesai. Dari pikiran yang sehat
itu membuat phisik jadi sehat.
Seperti halnya dalam pergaulan
sehari-hari, permintaan maaf juga tak selalu karena ada sesuatu yang nyata
salah. Kalau kita perhatikan setiap pemujaan yang dilakukan oleh pinandita
(pemangku) dan pandita (sulinggih) pada menjelang akhir pemujaannya selalu ada
permohonan maaf jika salah dalam melakukan ritual. Itu diucapkan baik dalam
bentuk sesontengan (bahasa
keseharian) mau pun dalam bentuk puja mantra. Bahkan jika ritual itu memakai
sarana banten yang besar, ada pula sarana untuk meminta maaf yakni uang kepeng
yang sudah dibungkus. Biasa disebut “pis pemogpog” atau juga sering disebut
“pis bolong satakan” karena uang kepeng itu berjumlah 200 buah.
Beragam proses dalam meguru piduka tergantung kepada siapa
permohonan maaf dilakukan. Kalau kepada Hyang Widhi dan kepada Ida Bethara
(leluhur) biasa memakai sesajen yang rumit dan memang ada pakemnya yang disebut
banten guru piduka. Tempatnya pun
ditentukan apakah di sebuah pura atau tempat suci yang lain.
Apakah ada proses meguru piduka kepada bhuta kala yang
diyakini sebagai penghuni alam paling bawah (bhur)? Tentu ada karena permintaan maaf dalam keseharian pun tak
pernah memandang usia. Orang tua bisa minta maaf kepada anaknya kalau memang
merasa bersalah. Meguru piduka tak
mengenal derajat tinggi rendah.
Ada tradisi masyarakat Hindu di
Bali setiap hari yakni menghaturkan yadnya paling kecil yang disebut mesaiban. Ritual sederhana itu dilakukan
usai ibu-ibu memasak di dapur. Ada sejumput nasi, berisi garam, irisan bawang
merah. Ke mana dipersembahkan? Ada lima tempat. Pertama adalah dapur tempat
memasak, di era moderen ini bisa di atas kompor. Kedua di batu pengasah, bisa
pula disimbulkan dengan tempat pisau. Ketiga di tempat mengambil air. Keempat
di tempat lesung (alat penumbuk bumbu) atau era sekarang talenan. Lalu di
tempat sapu. Tempat-tempat ini dipakai untuk melakukan “kesalahan”, seperti
memotong hewan sampai memasaknya, sehingga perlu minta maaf kepada para
“penghuni tempat” itu.
Mesaiban adalah meguru piduka yang paling kecil dalam
keseharian kita. Ada sumbernya di dalam Weda yang berbunyi: Panca suna grahasthasya, culli pesanyu
paskarah, kandani codakumbhaca, badhyaste yastu wahayan. Arti bebasnya: Seorang kepala keluarga
mempunyai lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat memasak, batu pengasah,
sapu, lesung dan tempat penyimpanan air,
dengan pemakaian itu dia diikat oleh belenggu dosa.
Mesaiban ini beda dengan ngejot.
Kalau ngejot dihaturkan ke leluhur
atau Hyang Widhi dengan mencuil sedikit apa yang telah dimasak. Ngejot adalah penyampaian rasa syukur
dan sekaligus sebagai simbol menghaturkan masakan yang perlu disucikan. Dalam
sastra Hindu disebutkan apa pun yang kita makan sebelumnya harus dipersembahkan
kepada Hyang Widhi sehingga yang kita makan adalah prasadam (lungsuran). Ngejot bisa dilakukan di banyak tempat termasuk di sanggah yang
kita miliki di rumah.
Betapa indahnya agama Hindu. Kita diajarkan
untuk selalu ingat meminta maaf sekaligus tak lupa menghaturkan rasa syukur
yang telah diberikan anugrah. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar