09 September 2018

Minta Maaf dengan Meguru Piduka


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

MEMBERI maaf dan meminta maaf adalah hal yang wajar dalam pergaulan di masyarakat. Kelapangan dada dalam memberi dan meminta maaf itu menunjukkan keberadaban seseorang. Karena itu di setiap hari raya keagamaan selalu disertai dengan permohonan maaf kepada sesama.
 
Dalam tradisi masyarakat Hindu, meminta maaf itu juga hal yang mulia lebih-lebih meminta maaf kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur, bahkan meminta maaf kepada para bhuta kala. Tradisi itu disebut meguru piduka.

Ada orang yang sakit terus-menerus tak kunjung sembuh oleh obat dari dokter. Dalam keputus-asaan itu mereka mendatangi “orang pintar” entah itu yang disebut Jero Balian atau Jero Dasaran. Lewat perantaraan Jero Balian ini diketahui apa kesalahan orang itu. Lalu dijelaskan harus ditebus dengan jalan menghaturkan guru piduka dan pelaksanaan itu kemudian disebut meguru piduka. Intinya adalah meminta maaf dengan ritual. Jika kemudian sakit orang itu berangsur hilang maka pelaksanaan meguru piduka disebut berhasil. Ini masalah keyakinan yang tak bisa diperdebatkan. Bisa jadi pula karena keyakinan menghaturkan guru piduka itu membuat orang yang sakit muncul kepercayaan-dirinya, pikirannya lebih tenang seolah-olah masalah yang dihadapi sudah selesai. Dari pikiran yang sehat itu membuat phisik jadi sehat.


Seperti halnya dalam pergaulan sehari-hari, permintaan maaf juga tak selalu karena ada sesuatu yang nyata salah. Kalau kita perhatikan setiap pemujaan yang dilakukan oleh pinandita (pemangku) dan pandita (sulinggih) pada menjelang akhir pemujaannya selalu ada permohonan maaf jika salah dalam melakukan ritual. Itu diucapkan baik dalam bentuk sesontengan (bahasa keseharian) mau pun dalam bentuk puja mantra. Bahkan jika ritual itu memakai sarana banten yang besar, ada pula sarana untuk meminta maaf yakni uang kepeng yang sudah dibungkus. Biasa disebut “pis pemogpog” atau juga sering disebut “pis bolong satakan” karena uang kepeng itu berjumlah 200 buah.

Beragam proses dalam meguru piduka tergantung kepada siapa permohonan maaf dilakukan. Kalau kepada Hyang Widhi dan kepada Ida Bethara (leluhur) biasa memakai sesajen yang rumit dan memang ada pakemnya yang disebut banten guru piduka. Tempatnya pun ditentukan apakah di sebuah pura atau tempat suci yang lain.

Apakah ada proses meguru piduka kepada bhuta kala yang diyakini sebagai penghuni alam paling bawah (bhur)? Tentu ada karena permintaan maaf dalam keseharian pun tak pernah memandang usia. Orang tua bisa minta maaf kepada anaknya kalau memang merasa bersalah. Meguru piduka tak mengenal derajat tinggi rendah.

Ada tradisi masyarakat Hindu di Bali setiap hari yakni menghaturkan yadnya paling kecil yang disebut mesaiban. Ritual sederhana itu dilakukan usai ibu-ibu memasak di dapur. Ada sejumput nasi, berisi garam, irisan bawang merah. Ke mana dipersembahkan? Ada lima tempat. Pertama adalah dapur tempat memasak, di era moderen ini bisa di atas kompor. Kedua di batu pengasah, bisa pula disimbulkan dengan tempat pisau. Ketiga di tempat mengambil air. Keempat di tempat lesung (alat penumbuk bumbu) atau era sekarang talenan. Lalu di tempat sapu. Tempat-tempat ini dipakai untuk melakukan “kesalahan”, seperti memotong hewan sampai memasaknya, sehingga perlu minta maaf kepada para “penghuni tempat” itu.

Mesaiban adalah meguru piduka yang paling kecil dalam keseharian kita. Ada sumbernya di dalam Weda yang berbunyi: Panca suna grahasthasya, culli pesanyu paskarah, kandani codakumbhaca, badhyaste yastu wahayan. Arti bebasnya: Seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat memasak, batu pengasah, sapu, lesung  dan tempat penyimpanan air, dengan pemakaian itu dia diikat oleh belenggu dosa.

Mesaiban ini beda dengan ngejot. Kalau ngejot dihaturkan ke leluhur atau Hyang Widhi dengan mencuil sedikit apa yang telah dimasak. Ngejot adalah penyampaian rasa syukur dan sekaligus sebagai simbol menghaturkan masakan yang perlu disucikan. Dalam sastra Hindu disebutkan apa pun yang kita makan sebelumnya harus dipersembahkan kepada Hyang Widhi sehingga yang kita makan adalah prasadam (lungsuran). Ngejot bisa dilakukan di banyak tempat termasuk di sanggah yang kita miliki di rumah.

Betapa indahnya agama Hindu. Kita diajarkan untuk selalu ingat meminta maaf sekaligus tak lupa menghaturkan rasa syukur yang telah diberikan anugrah. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar