21 Agustus 2018

Amalkan Ilmu Berlandas Srada


Mpu Jaya Prema

ADA istilah yang populer dasa warsa 1900-an. Yakni seseorang yang disebut ideal dalam hidupnya haruslah berilmu, beramal dan beriman. Istilah ini dipopulerkan oleh BJ Habibie, yang saat itu Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Tema ini  dijadikan dasar kerjasama antarorganisasi cendekiawan berbagai agama.
 
Para pemuka agama Hindu kemudian mencari pembanding istilah itu karena kata-kata amal dan iman dirasakan kurang pas. Muncul kemudian beberapa istilah, misalnya, dipakai kata bhakti untuk menggantikan kata amal. Dipakai kata srada untuk pengganti iman. Namun apa pun istilahnya, kata-kata itu tetap punya maksud yang sama, bahwa setiap manusia yang beradab haruslah menguasai ilmu pengetahuan, lalu mengamalkan ilmu itu ke tengah-tengah masyarakat dengan catatan bahwa pengamalan ilmu itu harusnya disertai dengan iman atau srada pada ajaran agama.

Sekarang ini istilah ilmu, amal dan iman atau versi masyarakat Hindu dengan sebutan ilmu, bhakti dan srada sudah mulai tak terdengar lagi. Sudah bertebaran istilah baru yang muncul. Padahal, “ilmu, bhakti dan srada” itu penting terus didengungkan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan. Dan tetap relevan sepanjang masa, baik untuk menjadi pedoman para pemimpin mau pun jadi acuan setiap orang.

Penguasaan ilmu sangat penting, semua orang tahu itu. Umat Hindu sangat memuliakan ilmu pengetahuan dengan dipujanya Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan. Kenyataan di masyarakat juga jarang ada anak usia sekolah yang tidak memperoleh pendidikan yang semestinya. Namun, setelah ilmu itu dikuasai, apakah ilmu itu sudah diamalkan sebagai bhakti kita kepada masyarakat? Harus diamalkan dengan baik. Dalam kitab-kitab Weda, ada banyak sloka yang menyebutkan, sebarkan apa yang kau tahu meskipun itu hanya sekelumit pengetahuan, bahkan hanya sepenggal sloka. Amalkan apa yang kau pelajari, meskipun pelajaran itu belum sempurna. Jangan takut gagal mengamalkan ilmu yang kita peroleh..

Memang ada pepatah yang menyebutkan, “seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”. Janganlah pepatah itu disalah-artikan. Ada anggapan salah, bahwa seseorang setelah berilmu hendaknya semakin merendah sesuai dengan kata pepatah. Merendah dan merunduk bukan berarti tidak mengamalkan ilmu, tetapi maksudnya janganlah menjadi sombong. Orang tetap terlihat saleh walau mengamalkan ilmunya sepanjang dia tidak memonopoli ilmu itu sebagai kebenaran pribadinya. Ada sloka Weda yang menyebutkan begini: “Menjadi orang saleh dan mengurung diri di dalam kamar, tidaklah istimewa di hadapan Tuhan, karena Tuhan berbangga melihat insan ciptaanNYA mengalami berbagai luka dan jatuh bangun di dalam kelemahannya sebagai seorang  manusia biasa, namun tetap mantap di dalam melayani sesama.”


Jadi, kita tidak perlu takut mengamalkan ilmu itu. Ilmu tanpa diamalkan sama saja dengan bohong. Justru dengan ilmu yang didapat dan kita jadi tahu yang mana benar dan yang mana salah, dalam praktek sehari-hari hal itu harus diamalkan. Kalau kita sering melakukan pesantian, mencari ilmu dari Purana dan Itihasa, membaca kekawin atau geguritan yang penuh pesan kebajikan, hendaknya pesan-pesan moral yang ada di dalam sastra itu diamalkan di kehidupan sehari-hari. Kita diajarkan lewat ephos Mahabharata bagaimana Pandawa dihukum dan menderita karena main judi. Mari amalkan itu dengan menjauhi judi, jangan lagi main ceki atau ke tempat sabungan ayam. Malamnya ikut pesantian mendengarkan berbagai nasehat lewat tembang, siangnya masih mabuk-mabukan minuman keras, jelas itu nyaplir namanya.

Berbulan-bulan belajar agama dan menghafal mantra, sesekali praktekkan ketika ada piodalan di pura. Kepandaian yang hanya disimpan untuk diri sendiri tak ada manfaatnya. Kuliah di jurusan penerangan agama tetapi tak pernah melakukan dharma wacana tentu kurang sempurna.

Yang kemudian tak kalah penting adalah apakah amalan ilmu itu sebagai rasa bhakti kita kepada agama dan umat, sudah dilandasi srada yang baik? Srada itu adalah dasar-dasar ajaran agama, jadi jangan sampai mengamalkan ilmu ini menyimpang dari ajaran agama. Filsafat Hindu menyebutkan bahwa dasar agama Hindu adalah Panca Srada atau lima keyakinan utama. Kita tahu ilmu bagaimana merakit bom, tetapi dalam pengamalannya melanggar ajaran agama, bom diledakkan untuk membuat kerusuhan. Kita tahu ilmu ekonomi dan ahli dalam perpajakan, ternyata srada kita kurang lalu ilmu itu dipakai untuk korupsi dan mempermainkan pajak. Kita tahu bagaimana teknik berkomunikasi dan menyampaikan argumentrasi, tetapi srada kita kurang maka ilmu itu diobral untuk berdebat ngawur di televisi. Betapa banyak contoh-contoh buruk perdebatan yang disiarkan langsung televisi yang tidak dilandasi dengan iman atau srada yang baik.

Contoh-contoh ini bisa diperpanjang bagaimana ilmu, amal, dan iman harus selaras. Penyelarasan ini yang kurang sekarang atau setidaknya sudah luntur. Coba bayangkan ada pemuka agama yang korupsi atau pemuka agama yang melakukan tindakan asusila. Dalam kasus di Bali misalnya ada pemangku yang masih suka metajen (sabungan ayam). Anggota DPRD masih banyak yang suka main ceki dengan taruhan besar, padahal ilmu yang mereka dapatkan seharusnya sudah cukup untuk dijadikan panutan masyarakat. Di tahun politik ini segala cara bisa dilakukan untuk merebut kekuasaan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menerus melakukan operasi tangkap tangan dan yang ditangkap itu kebanyakan orang yang berilmu, dalam hal ini berpendidikan tinggi. Jadi untuk apa ilmu itu kalau digunakan untuk menyengsarakan rakyat? Marilah umat Hindu menjadi pelopor dari pengamalan ilmu yang berdasarkan iman atau srada. Kita sudah mewarisi keyakinan yang luhur, di mana kita memuja Dewi Saraswati sebagai dewinya ilmu pengetahuan dan kita pun memuja Ganesha sebagai Dewa Kebijaksanaan. Gunakan ilmu secara bijaksana untuk kepentingan umat. Saatnya kini berlomba-lomba menjadi pemimpin, termasuk menjadi anggota dewan, lalu gunakan ilmu yang dikuasai untuk berbhakti kepada umat sesuasi dengan srada yang ada. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar