Mpu Jaya Prema
ADA istilah yang populer dasa warsa 1900-an. Yakni
seseorang yang disebut ideal dalam hidupnya haruslah berilmu, beramal dan
beriman. Istilah ini dipopulerkan oleh BJ Habibie, yang
saat itu Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI). Tema ini dijadikan
dasar kerjasama antarorganisasi cendekiawan berbagai agama.
Para pemuka agama Hindu kemudian mencari pembanding istilah itu karena kata-kata amal dan iman dirasakan kurang pas. Muncul
kemudian beberapa istilah, misalnya, dipakai kata bhakti untuk menggantikan kata amal. Dipakai kata
srada untuk pengganti iman. Namun apa pun istilahnya,
kata-kata itu tetap punya maksud yang sama, bahwa setiap manusia yang beradab
haruslah menguasai ilmu pengetahuan, lalu mengamalkan ilmu itu ke tengah-tengah
masyarakat dengan catatan bahwa pengamalan
ilmu itu harusnya disertai dengan iman atau srada pada
ajaran agama.
Sekarang ini istilah ilmu, amal dan iman atau versi masyarakat
Hindu dengan sebutan ilmu, bhakti dan srada sudah mulai tak terdengar lagi.
Sudah bertebaran istilah baru yang muncul. Padahal, “ilmu,
bhakti dan srada” itu penting terus didengungkan untuk
dijadikan pedoman dalam kehidupan. Dan tetap relevan sepanjang masa, baik untuk
menjadi pedoman para pemimpin mau pun jadi acuan
setiap orang.
Penguasaan ilmu sangat penting, semua orang tahu itu. Umat Hindu sangat memuliakan ilmu
pengetahuan dengan dipujanya Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan. Kenyataan di masyarakat juga jarang ada anak usia sekolah yang tidak
memperoleh pendidikan yang semestinya. Namun, setelah
ilmu itu dikuasai, apakah ilmu
itu sudah diamalkan sebagai bhakti kita kepada masyarakat? Harus diamalkan
dengan baik.
Dalam kitab-kitab Weda, ada banyak sloka yang menyebutkan, sebarkan apa yang kau tahu meskipun itu hanya
sekelumit pengetahuan, bahkan hanya sepenggal sloka. Amalkan apa yang kau
pelajari, meskipun pelajaran itu belum sempurna. Jangan takut gagal mengamalkan ilmu yang kita peroleh..
Memang ada pepatah yang menyebutkan, “seperti
padi, semakin berisi semakin merunduk”. Janganlah pepatah
itu disalah-artikan. Ada anggapan salah, bahwa seseorang
setelah berilmu hendaknya semakin merendah sesuai dengan kata pepatah. Merendah
dan merunduk bukan berarti tidak mengamalkan ilmu, tetapi maksudnya janganlah
menjadi sombong. Orang tetap terlihat saleh walau mengamalkan ilmunya sepanjang
dia tidak memonopoli ilmu itu sebagai kebenaran pribadinya. Ada sloka Weda yang
menyebutkan begini: “Menjadi orang saleh dan mengurung diri di dalam kamar,
tidaklah istimewa di hadapan Tuhan, karena Tuhan berbangga melihat insan
ciptaanNYA mengalami berbagai luka dan jatuh bangun di dalam kelemahannya
sebagai seorang manusia biasa, namun
tetap mantap di dalam melayani sesama.”
Jadi, kita tidak perlu takut mengamalkan ilmu itu.
Ilmu tanpa diamalkan sama saja dengan bohong. Justru dengan ilmu yang didapat
dan kita jadi tahu yang mana benar dan yang mana salah, dalam praktek
sehari-hari hal itu harus diamalkan. Kalau kita sering
melakukan pesantian, mencari ilmu dari Purana dan Itihasa, membaca kekawin atau
geguritan yang penuh pesan kebajikan, hendaknya pesan-pesan
moral yang ada di dalam sastra itu diamalkan di kehidupan sehari-hari. Kita diajarkan lewat ephos Mahabharata
bagaimana Pandawa dihukum dan menderita karena main judi. Mari
amalkan itu dengan menjauhi judi, jangan lagi main ceki atau ke tempat sabungan
ayam. Malamnya ikut pesantian mendengarkan berbagai nasehat lewat tembang, siangnya masih mabuk-mabukan minuman keras, jelas itu nyaplir namanya.
Berbulan-bulan belajar agama dan menghafal mantra,
sesekali praktekkan ketika ada piodalan di pura. Kepandaian yang hanya disimpan
untuk diri sendiri tak ada manfaatnya. Kuliah di jurusan
penerangan agama tetapi tak pernah melakukan dharma wacana tentu kurang
sempurna.
Yang kemudian tak kalah penting adalah apakah amalan ilmu
itu sebagai rasa bhakti kita kepada agama dan umat, sudah dilandasi srada yang
baik? Srada
itu adalah dasar-dasar ajaran agama, jadi jangan sampai mengamalkan ilmu ini
menyimpang dari ajaran agama. Filsafat Hindu menyebutkan
bahwa dasar agama Hindu adalah Panca Srada atau lima keyakinan utama. Kita
tahu ilmu bagaimana merakit bom, tetapi dalam pengamalannya
melanggar ajaran agama, bom diledakkan untuk membuat kerusuhan. Kita tahu ilmu ekonomi dan ahli dalam perpajakan, ternyata srada kita kurang lalu ilmu itu
dipakai untuk korupsi dan mempermainkan pajak. Kita tahu bagaimana teknik
berkomunikasi dan menyampaikan argumentrasi, tetapi srada kita kurang maka ilmu
itu diobral untuk berdebat ngawur di televisi. Betapa banyak contoh-contoh
buruk perdebatan yang disiarkan langsung televisi yang tidak dilandasi dengan
iman atau srada yang baik.
Contoh-contoh ini bisa diperpanjang bagaimana ilmu,
amal, dan iman harus selaras. Penyelarasan ini yang kurang sekarang atau
setidaknya sudah luntur. Coba bayangkan ada pemuka agama
yang korupsi atau pemuka agama yang melakukan tindakan asusila. Dalam kasus di
Bali misalnya ada pemangku yang masih suka metajen (sabungan ayam). Anggota DPRD masih banyak yang suka main
ceki dengan taruhan besar, padahal ilmu yang mereka dapatkan seharusnya sudah
cukup untuk dijadikan panutan masyarakat. Di tahun politik
ini segala cara bisa dilakukan untuk merebut kekuasaan.
Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) terus menerus melakukan operasi tangkap tangan dan yang ditangkap itu
kebanyakan orang yang berilmu, dalam
hal ini berpendidikan tinggi. Jadi untuk apa ilmu itu kalau digunakan untuk
menyengsarakan rakyat? Marilah umat Hindu menjadi pelopor dari pengamalan ilmu
yang berdasarkan iman atau srada. Kita sudah mewarisi keyakinan yang luhur, di
mana kita memuja Dewi Saraswati sebagai dewinya ilmu pengetahuan dan kita pun
memuja Ganesha sebagai Dewa Kebijaksanaan. Gunakan ilmu secara bijaksana untuk
kepentingan umat. Saatnya kini berlomba-lomba menjadi pemimpin, termasuk
menjadi anggota dewan, lalu gunakan ilmu yang dikuasai untuk berbhakti kepada
umat sesuasi dengan srada yang ada. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar