Mpu
Jaya Prema
PENDAFTARAN
calon presiden dan calon wakil presiden memang baru dimulai 4 Agustus dan
ditutup pada 10 Agustus pukul 24.00. Artinya masih lama. Tetapi karena
prosesnya seperti ada drama yang menegangkan, orang pun berkesimpulan bahwa
begitu sulitnya mencari pasangan capres dan cawapres. Terutama tentu siapa yang
menjadi cawapres di masing-masing kubu karena capresnya seperti sudah ada.
Yakni Joko Widodo yang merupakan petahana dengan dukungan koalisi enam partai
politik dan Prabowo Subianto yang sesungguhnya belum jelas benar, berapa partai
yang medukungnya.
Joko
Widodo yang lebih populer dengan nama Jokowi sebagai calon presiden memang
sudah final seratus persen. Tak akan berubah. Koalisi enam partai yakni PDIP,
Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Hanura, PPP dan PKB sudah tak punya
pilihan lain. Akan halnya partai di seberang belum bisa disebutkan final. Ada
empat partai, Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat. Hanya Gerindra yang sudah
memastikan mendukung Prabowo sebagai capres dan karena itu koalisi pun belum
solid benar. Partai selain Gerindra masih menunggu tergantung siapa
cawapresnya. Kalau Prabowo mengambil cawapres dari Demokrat, misalnya, harus
mengusung AHY (Agus Harymurti Yudhoyono), bisa jadi PKS mundur. Demikian
sebaliknya, kalau cawapres Prabowo dari PKS bisa jadi pula Demokrat mundur.
Karena itu ada juga skenario lebih baik mencari cawapres dari luar partai,
termasuk sekalian dengan capresnya. Artinya bukan Prabowo.
Prabowo
sendiri sesungguhnya sering memberi sinyal untuk legowo tidak menjadi calon
presiden. Dulu alasannya minimnya biaya politik untuk ke Istana, sampai ada
usulan meminta sumbangan dari masyarakat. Namun pengikutnya di Gerindra terus
meyakinkan hanya Prabowo yang bisa mengalahkan Jokowi. Sinyal terakhir baru
saja disampaikan Prabowo ketika menghadiri Ijtima' Ulama yang diselenggarakan
oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) di Hotel Menara Peninsula, Jakarta,
Jumat, 27 Juli 2018 lalu. Di situ Prabowo menyebutkan siap tidak diusung sebagai
calon presiden di Pilpres 2019. Prabowo menyampaikan pernyataan ini di depan
sejumlah pimpinan partai politik dan ratusan ulama saat menghadiri pertemuan
itu. "Kalau saya tidak dibutuhkan dan ada orang lain yang lebih baik, saya
siap mendukung kepentingan umat dan rakyat Indonesia," kata Prabowo.,
Kalau koalisi partai sebagai lawan kubu Jokowi
saja tidak jelas, apalagi presidennya belum final, bagaimana pula menentukan
siapa yang menjadi calon wakil presiden. Tidak mudah mempertemukan beragam kepentingan.
Bagaimana dengan cawapres di kubu Jokowi?
Pertemuan Jokowi dengan enam partai koalisi di Istana Bogor menyebutkan
cawapres yang akan mendampingi Jokowi sudah mengecurut menjadi satu orang.
Artinya sudah diputuskan dan tinggal kapan Jokowi akan mengumumkannya. Semua
pimpinan partai sudah sepakat. Bahkan Ketum PPP Romahurmuziy mengatakan, Jokowi akan mengumumkan
cawapresnya pada 9 Agustus mendatang dan didaftarkan ke KPU pada keesokan
harinya.
Apakah ini benar? Politik itu adalah adu strategi,
adu perang syaraf, dan tak ada kebenaran yang mutlak. Kalau benar sudah
mengerucut ke satu orang dan tinggal diumumkan pada hari-hari terakhir, kenapa
ada pernyataan dari PDIP untuk menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi terhadap gugatan Perindo yang didukung oleh
Jusuf Kalla sebagai “penggugat terkait”? Perindo dan Jusuf Kalla mengajukan uji
materi ke MK soal jabatan wakil presiden yang tak boleh dua periode. Mereka
menggugat aturan itu karena dianggap multi tafsir, apakah dua periode
berturut-turut atau tidak? Seperti diketahui Jusuf Kalla memang dua periode
menjadi wakil presiden tetapi tidak berturut-turut.
Ada asumsi kalau gugatan itu dikabulkan – meski
agaknya sangat mustahil -- lalu Jusuf Kalla masih bisa dijadikan calon wakil
presiden, maka koalisi pendukung Jokowi akan memasangkan Jusuf Kalla. Namun
kalau MK menolak gugatan itu baru dicari calon lainnya. Bukankah ini berarti
sesungguhnya belum ada kesepakatan siapa cawapres Jokowi?
Banyak yang menebak-nebak, kesepakatan yang dicapai
enam partai pendukung Jokowi itu hanya ada 2 hal. Pertama, cawapres Jokowi
bukan dari partai politik, apalagi ketua umumnya. Kalau salah satu ketua
umumnya yang diambil Jokowi maka ketua umum yang lain akan ngambek, bisa jadi
tak tuntas dalam kampanye memenangkan Jokowi. Harus orang luar partai.
Kesepakatan kedua, cawapres Jokowi haruslah “orang tua” yang tak punya ambisi
untuk menjadi capres pada Pilpres 2024 nanti. Kalau cawapresnya “orang muda”
tentu ada ambisi menjadi capres di 2014 pada saat Jokowi tak bisa dipilih
kembali. Kalau itu terjadi tertutup
kemungkinan para ketua umum partai menjadi capres.
Dari taktik utak-atik ini maka muncullah nama Ma’ruf
Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia sebagai cawapresnya Jokowi. Tentu
selain menunggu gugatan Jusuf Kalla di MK. Banyak orang kaget, kok ulama yang
selama ini tak pernah punya pengalaman di pemerintahan dipilih sebagai
cawapres? Lebih kaget lagi orang bahwa Ma’ruf Amin ternyata siap untuk
dijadikan cawapres Jokowi. Tentu saja pendukung Jokowi serta merta memberikan
penilaian bahwa memilih Ma’ruf Amin sangat tepat untuk menjaga kerukunan NKRI
dan mendulang suara umat Islam. Namun tak sedikit yang menyayangkan. Seharusnya
Ma’ruf Amin tetap sebagai ulama panutan simbol mempersatukan bangsa. Justru
memilih Ma’ruf Amin akan membuka potensi konflik dengan asumsi cawapres akan
mendapat serangan politik dari kubu lawan.
Belum jelas benar apakah pemilihan Ma’ruf Amin itu
serius atau untuk “mengelabui pihak lawan”. Karena sinyal dari Istana ada yang
menyebutkan inisial cawapres adalah M. Ini bisa Mahmud MD, bisa Muldoko dan
bisa benar Ma’ruf Amin. Tetapi apa pun yang terjadi memang tak mudah untuk
mencari cawapres di kubu Jokowi, lebih-lebih di kubu lawan. Kita harus bersabar
menunggu sekitar dua minggu lagi. Inilah pengalaman pertama di mana pilpres dan
pileg dijadikan “pemilu serentak”. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar