SEJUMLAH orang di Bali kini sudah mendaftarkan diri
sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Meski tidak sebanyak lima tahun
lalu, jumlah yang mendaftarkan sekarang masih lebih dari 20 orang. Padahal yang
akan dipilih cuma 4 orang saja. Tentu mereka akan bersaing secara ketat.
Menarik bahwa mereka yang mendaftarkan diri itu beragam.
Ada Gubernur Bali Mangku Pastika yang akan berakhir masa jabatannya Agustus
mendatang. Ada mantan Bupati Badung Anak Agung Gde Agung. Ada anggota DPD
petahana yakni Cek Ratmadi dan Wedakarna. Lalu ada penyanyi pop Bali Dek Ulik
dan tokoh spiritual I Gusti Ngurah Harta. Apakah mereka siap bekerja keras
memperjuangkan Bali di forum nasional? Apakah selama ini mereka sudah berbuat
banyak untuk Bali? Tentu masyarakat yang akan menilainya. Kalau penilaian
masyarakat ngawur dan asal mencoblos maka tak ada yang diharapkan dari mereka
ini.
Di dalam kitab Rg Weda ada sloka pendek yang berbunyi: Na rte srantasya sakhyaya devah
Sloka Rg Weda IV.33.11 ini artinya kurang lebih;
“Tuhan hanya menyayangi orang yang bekerja keras.” Bekerja keras yang
dimaksudkan adalah bekerja dengan sekuat tenaga dan pikiran, namun dalam
kewajiban yang telah ditetapkan. Artinya, bekerja sesuai dengan profesi yang
dipilih dan dari pekerjaan itulah dapat penghasilan yang dimanfaatkan untuk
kehidupan, baik kehidupan diri sendiri, kehidupan keluarga dan sebagian untuk
yadnya.
Lalu pada Rg Weda VIII.48.14 ada disebutkan:
“Hendaklah sifat penidur tidak menguasai hamba, juga kebiasaan omong kosong” (ma no nidra isata jalpih). Apa yang
dimaksudkan sifat penidur? Tiada lain adalah sifat malas, suka menunda
pekerjaan atau mengabaikan sama sekali kewajiban dalam bekerja. Apalagi
disertai dengan “omong kosong”, yang dimaksudkan adalah lebih pada mencari
pembenaran untuk menutupi kemalasan itu. Atau mencari dalih untuk menutupi
kenapa pekerjaan itu tidak dilakukan. Jadi sifat penidur
itu adalah simbolis, bukan secara nyata tidur di ruang sidang yang sejuk di
Senayan. Kalau itu sangat memalukan.
Belakangan ini para wakil rakyat, baik DPD maupun DPR,
banyak disoroti karena malasnya bekerja. Sidang paripurna
DPR yang anggotanya 560 orang hanya dihadiri 200-an orang saja atau malah kurang. Begitu pula
sidang-sidang DPD. Ke mana para wakil rakyat itu? Bukankah mereka
digaji oleh pajak yang dibayar rakyat untuk bekerja sesuai dengan kewajibannya?
Kenapa pekerjaan pokok itu ditinggalkannya dan mereka
keluyuran mementingkan pekerjaan sambilan?
Nah, etos kerja ini yang kian surut. Tentu banyak
dalih yang bisa mereka katakan dan kalau kita mengacu pada sloka suci di atas,
semuanya ini termasuk “omong kosong”. Misalnya, ketidak-hadiran mereka itu
karena mengunjungi konstituennya di daerah. Tentu saja hal ini menyimpang dan
bisa dianggap tidak masuk akal, karena mengunjungi konstituen di daerah
pemilihannya itu ada jadwalnya, yakni pada saat reses. Sidang-sidang apalagi
paripurna adalah pekerjaan yang sangat pokok karena di situ nasib bangsa
dipermasalahkan. Mungkin dalam sidang itu ada pengesahan undang-undang atau
peraturan daerah, atau ada pembahasan berbagai program yang menyangkut
kepentingan rakyat. Tak bisa hal itu diabaikan.
Para pemimpin bertugas untuk mensejahtrakan
masyarakat. Dalam kitab Sama Weda sloka 971 ada disebutkan: panca ksitinam dyumnam a bhara. Arti
bebasnya: “Wahai para pemimpin, usahakan
semua wargamu berbahagia, berikan kesejahtraan dan tolonglah mereka.” Jadi tugas yang
diberikan kepada pemimpin itu sangatlah berat. Apa artinya mereka menjadi
pemimpin kalau tak ada gunanya bagi masyarakat.
Dalam kitab Bhagawad Gita di percakapan kedua sloka
47 ada disebutkan: “Kewajibanmu adalah bekerja, tidak hasil perbuatanmu yang
engkau pikirkan, jangan sekali-kali pahala yang menjadi motifmu dalam bekerja,
jangan pula hanya berdiam diri.” Sloka ini memberikan arahan bahwa bekerja itu
jangan semata-mata mengharapkan ada hasil, ada kalanya tak ada hasil. Hal itu
tidak usah menjadi beban pikiran, ikhlaskan dengan tulus apa yang akan terjadi.
Tentu saja hal ini tak cuma berlaku untuk wakil
rakyat, juga pemimpin apa pun, baik yang formal maupun informal. Banyak orang
yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, atau mau didapuk menjadi pemimpin,
tetapi ternyata tak mau bekerja sesuai dengan kedudukannya. Marilah kita
memilih pemimpin yang betul-betul pekerja keras dan paham apa yang
dikejakannya.
(Mpu Jaya Prema 5 Mei 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar