Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
BANYAK orang ingin mendapatkan surga setelah
kematiannya tiba. Tapi banyak pula yang takut menghadapi kematian. Bagaimana
bisa menginginkan surga kalau takut mati? Memang kematian itu sebuah misteri,
tak ada yang tahu kapan saatnya tiba.
Tetapi ada yang tidak takut mati demi mendapatkan surga.
Yakni para teroris. Mereka yakin dengan membunuh orang-orang yang disebutnya
sesat maka mereka telah melakukan jihad dan kematiannya disambut tujuh bidadari
cantik. Karena itu para teroris tak takut meledakkan bom bunuh diri. Bahkan apa
yang terjadi baru saja di Surabaya sungguh luar biasa, teroris itu sekeluarga
melakukan jihad versi mereka, membawa istri dan keempat anaknya untuk meledakkan
bom. Mereka pun mati. Apakah betul mereka disambut bidadari di surga? Tentu tak
ada yang tahu karena tak ada seorang pun yang pernah ke surga. Justru semua
tokoh agama menyebutkan teroris itulah yang sesungguhnya sesat dalam memahami
agamanya.
Siapa yang pernah ke surga? Ada orangnya, tapi terserah
apakah cerita itu bisa dipercaya atau tidak. Yakni seorang pemuka agama dari
Kerala, India, bernamaTom Maniyangat. Sebagaimana diberitakan oleh Times of India, Tom mengaku pernah mengunjungi neraka dan surga
setelah ia mengalami mati suri pada 14 April 1985. Tom mati suri setelah
kendaraan yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil jip.
Tom mengaku disambut para malaikat untuk bertemu Tuhan. Tom diajak melihat neraka lebih dulu. Ia mengatakan, neraka merupakan pemandangan yang mengerikan.Manusia disiksa oleh iblis. Sang malaikat mengatakan penghuni neraka ini akan menderita untuk dapat menebus dosa. Tiap tingkatan neraka didasarkan pada jenis dosa yang mereka lakukan selama dia hidup. Tom lalu diajak ke surga. Bagaimana rupa surga? Begitu damai. Saat pintu surga dibuka, ia mendengar musik yang menyenangkan. "Kata-kata tidak bisa menjelaskan keindahan surga. Sangat banyak kebahagiaan di alam sana," kata Tom.
Tom mengaku disambut para malaikat untuk bertemu Tuhan. Tom diajak melihat neraka lebih dulu. Ia mengatakan, neraka merupakan pemandangan yang mengerikan.Manusia disiksa oleh iblis. Sang malaikat mengatakan penghuni neraka ini akan menderita untuk dapat menebus dosa. Tiap tingkatan neraka didasarkan pada jenis dosa yang mereka lakukan selama dia hidup. Tom lalu diajak ke surga. Bagaimana rupa surga? Begitu damai. Saat pintu surga dibuka, ia mendengar musik yang menyenangkan. "Kata-kata tidak bisa menjelaskan keindahan surga. Sangat banyak kebahagiaan di alam sana," kata Tom.
Bagi
orang Bali gambaran surga dan neraka seperti cerita Tom Maniyangat tidaklah asing. Kisah itu ada dalam berbagai cerita. Dalam dunia
wayang ada kisah Bima Swarga,
perjalanan Bima ke surga. Dalang Cenk Blonk malah menambahkan cerita Hanoman ke Surga. Ada pula cerita Cupak ke Surga. Gambaran penyiksaan di
neraka dan kedamaian di surga bermacam-macam tergantung Sang Dalang, hampir
sama saja dengan cerita Tom Maniyangat.
Sebenarnya apa itu surga menurut ajaran Hindu? Surga berasal
dari kata Sansekerta dari kata “swar” (svar) dan “ga”. “Swar” artinya cahaya
dan “ga” artinya pergi. Jadi “swarga” artinya perjalanan untuk menemui cahaya.
Jika kita sudah menemui cahaya maka itulah dunia yang tanpa kegelapan.
Tetapi surga bukan tujuan agama Hindu. Surga hanyalah tempat
persinggahan sementara seperti halnya neraka. Kalau neraka menjadi persinggahan
untuk mendapat siksaan sebelum kembali lahir sebagai manusia untuk menebus
karma buruk, maka surga adalah persinggahan yang damai untuk menunggu saatnya
lahir kembali. Ajaran Hindu mengenal punarbhawa
atau reinkarnasi, kelahiran yang berulang-ulang.
Tujuan penganut Hindu yang sejatinya adalah moksha, bersatunya Atman dan Brahman.
Bersatunya roh dalam alamnya Tuhan. Karena itu doa pendek ketika mendengar
orang meninggal dunia adalah “semoga amor ring Achintya” artinya menyatu dengan
Achintya, Tuhan yang Maha Esa. Para pendeta (sulinggih) Hindu pun dalam
rangkaian ngaben (pitra yadnya) memakai
urutan doa dengan Om Swargantu Pitaro
Dewam lalu Om Mokshantu Pitaro Dewam dan
berakhir dengan Om Sunyantu Pitaro Dewam.
Artinya semoga mendapatkan surga atau yang lebih baik lagi semoga moksha sehingga kedamaian abadi (sunya) yang diperolehnya.
Dengan demikian seharusnya kita tidak berlomba-lomba mencari
surga tetapi berlomba-lomba mendapatkan moksha.
Bukankah seringkali kita mendengar para penceramah agama menyebutkan tujuan
utama ajaran Hindu adalah mokshartam
jagadhita ya ca iti dharma. Artinya lewat jalan dharma kita bisa meraih
kebahagiaan dalam hidup dan pembebasan abadi setelah kematian.
Dengan tercapainya moksha
maka kita bebas dari reinkarnasi karena sudah menyatu dengan Tuhan. Orang suci
Hindu di masa lalu dianggap telah mencapai moksha,
sehingga kita tak pernah mendengar ada Mpu Kuturan atau Danghyang Nirartha yang
reinkarnasi. Kalau moksha memang
sulit didapatkan tentu tujuan minimal adalah surga. Berbuatlah yang baik dan
bukan mencari surga dengan membunuh orang lain seperti teroris itu. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar