AJARAN agama Hindu sering terkait di antara beberapa istilah.
Kadang saling berbagi dan saling menjelaskan. Tentang keharmonisan alam semesta
dan segala isinya, orang sering menyebut ajaran Tri Hitakarana. Tiga ciri
hubungan manusia untuk keharmonisan jagat. Yaitu harmonisnya hubungan manusia
dengan Tuhan (parahyangan), manusia
dengan sesama manusia (pawongan), dan
manusia dengan alam semesta atau lingkungan (palemahan).
Ke enam tumpek (Sabtu Kliwon) juga mencerminkan keharmonisan alam
beserta semua isinya. Bahkan tumpek itu punya ciri khas masing-masing tetapi
kalau keseluruhannya digabungkan maka tujuannya adalah keharmonisan alam juga.
Sama dengan Tri Hitakarana, bahkan justru setiap tumpek memberikan arahan yang
lebih jelas.
Ke enam tumpek itu adalah Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek
Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang. Urutan ini berdasarkan waktu datangnya namun terus berputar sehingga
menyambung dengan persoalan yang tak pernah ada jedanya.
Tumpek Landep adalah hari ini dalam hitungan wariga Bali. Saat ini
orang harus meneguhkan pikirannya sehingga ilmu pengetahuan yang sudah
diperoleh pada Hari Saraswati dan sudah dipagari dengan kuat (Hari Pagerwesi)
bisa diamalkan dengan baik. Hari ini ibaratnya kita telah lulus menerima ilmu
pengetahuan dan diwisuda (di-pasupati)
sambil mensyukuri semua peralatan yang menunjang dalam mengamalkan ilmu
pengetahuan itu. Di masa lalu karena ilmu itu sering dikaitkan dengan ilmu
peperangan maka peralatan yang disyukuri adalah keris, tombak, dan semacamnya.
Kini zaman sudah berubah, ilmu pengetahuan tak harus dikaitkan dengan
peperangan, maka mobil, komputer, televisi dan laiinya ikut disyukuri. Inilah
bentuk harmoni kita kepada Tuhan untuk peralatan kerja yang kita miliki.
Tumpek Wariga adalah harmoni kita kepada alam yang telah
memberikan suburnya pepohonan, terutama yang berbuah. Kita syukuri kehidupan
itu dengan harapan agar buahnya segera matang untuk kita haturkan pada Hari
Raya Galungan yang datang 25 hari kemudian. Kita haturkan sesajen di sana mohon
anugrah Hyang Widhi.
Pada Tumpek Kuningan kita memuja leluhur yang dilanjutkan dengan
pemujaan kepada Tuhan atas kesejahtraan yang sudah diberikan selama ini. Inilah
bentuk harmoni kita langsung kepada leluhur yang menyebabkan kita lahir di bumi
ini. Di banyak pura ada pula persembahyangan yang lebih besar sebagai hari
piodalan.
Selanjutnya Tumpek Krulut adalah hari di mana umat Hindu melakukan
pemujaan kepada Hyang Iswara agar diberikan cinta kasih kepada sesama makhluk.
Banyak yang mematut-matutkan Tumpek Krulut sebagai “hari cinta kasih” yang khas
Hindu sebagaimana dunia barat menobatkan Valentine Days pada 14 Februari.
Karena Hyang Iswara adalah dewanya cinta kasih maka hari ini memberikan sesajen
untuk mensyukuri telah punya gamelan, misalnya, punya seperangkat gamelan gong
kebyar, angklung, gender dan sebagainya. Di masyarakat pun umum dikenal dengan
“piodalan gong”. Bukankah cinta dan kasih itu erat kaitannya dengan dunia seni
yang bisa menghamoniskan bumi ini?
Tumpek Uye yang datang kemudian adalah pernyataan rasa syukur
kepada Tuhan karena diberi kemudahan dalam memelihara hewan peliharaan. Karena
itu Tumpek Uye juga sering disebut sebagai Tumpek Kandang karena hanya binatang
yang biasa dikandangkan saja yang diberikan sesajen sebagai wujud syukur.
Inilah harmonisasi kita kepada makhluk hidup lain yakni binatang peliharaan.
Terakhir dalam putaran satu wariga, ada Tumpek Wayang. Saatnya
manusia yang ada di bumi melakukan pengeruwatan agar terbebas dari segala
kotoran rohani. Umumnya ada pengertian bahwa mereka yang lahir pada Wuku Wayang
yang wajib diruwat dengan tambahan “tirta pengeruwatan” dari pentas Wayang
Sapuleger. Tentu saja itu baik sebagaimana diajarkan dalam sastra Hindu tentang
meruwat anak-anak sesuai kelahirannya. Namun orang yang lahir pada wuku apa pun
bisa juga diruwat pada hari Tumpek Wayang ini, tentu dengan sesajen yang
berbeda dan umumnya tidak begitu seruwet yang lahir pada Wuku Wayang. Karena
sifat pengeruwatan itu adalah pembersihan rohani dari segala kotoran, siapa pun
boleh melakukannya. Ini adalah wujud untuk menciptakan keharmonisan hidup
sebagai manusia.
Keharmonisan itu terus bersambung tiada henti. Menjadi “manusia
yang sudah bersih” pada Tumpek Wayang maka kita pun bersiap pula nantinya
menerima ilmu pengetahuan pada saat Hari Saraswati. Dan demikian seterusnya.
Bukankah gabungan semua ini sejalan dengan ajaran Tri Hitakarana? (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar