PILKADA yang damai telah
dideklarasikan di Provinsi Jawa Timur. Kedua kandidat sepakat untuk
menyelenggarakan kampanye Pilkada tanpa mengungkit isu-isu bernuansa SARA.
Begitu pula setelah hasil Pilkada diumumkan, keduanya sepakat untuk tidak akan
melakukan gugatan bagi yang kebetulan kalah. Ini artinya mereka percaya bahwa
tidak terjadi kecurangan.
Kebetulan kedua kandidat di
Jawa Timur berlatar belakang Nahdhatul Ulama (NU) yang sangat kuat secara
tradisi menghormati para ulama NU. Kiyai NU di pesantren-pesantren ini sudah
teruji untuk berbeda pendapat dengan santun. Seharusnya di Bali pun hal seperti
ini sangat mungkin terjadi. Bukankah kedua kandidat di Bali sama-sama orang
Bali dan sama-sama pula orang Hindu? Sangatlah mustahil isu agama dibawa-bawa.
Namun kenyataannya saat masa-masa “sosialisasi dan deklarasi” (karena kampanye
baru dimulai hari ini) ternyata banyak yang bersentuhan dengan agama. Misalnya,
ada pengempon pura mendeklarasikan
mendukung salah satu calon. Juga ada banjar adat yang menyatakan kompak
mendukung salah satu calon.
Apakah kedua kandidat di Bali
mendeklarasikan kampanye damai? Belum ada, mungkin karena kampanye baru
dimulai. Atau memang tidak diperlukan karena secara tidak tertulis semuanya
sepakat untuk menjaga Bali. Kalau ini yang terjadi tentu bagus. Menang dan
kalah dalam Pilkada tak harus membuat masyarakat Bali terkotak-kotak. Siapa pun
yang menjadi gubernur tetap saja orang Bali dan beragama Hindu, yang berarti
tak ada masalah. Menang atau kalah tetap mekenyem
– artinya tetap tersenyum.
Kekalahan adalah kemenangan
yang tertunda. Ini kata-kata bijak yang sering dikatakan orang. Namun dalam
urusan Pilkada nampaknya tak sepenuhnya kata itu punya arti. Kalah berarti
taruhannya besar karena uang yang dipakai selama kampanye dan runtutannya
terbilang besar, milyaran rupiah. Kedua kandidat harus sama-sama “membeli
suara” ke masyarakat berupa bantuan sosial (bansos), menyumbang berbagai
kebutuhan, belum lagi biaya alat peraga kampanye. Uang milyaran itu tak
sebanding dengan gaji dan tunjangan jabatan sebagai gubernur atau bupati selama
lima tahun. Betul-betul sebuah pertaruhan yang melibatkan uang besar.
Namun kitab-kitab
Ithiasa banyak memberikan contoh bahwa kekalahan itu harus tetap dijalani dengan damai tanpa protes. Tak harus
terjadi bentrokan dan saling serang, meski uang yang dipertaruhkan lenyap bagi
yang kalah. Dalam ephos Mahabharata ada kekalahan telak
kaum Pandawa yang harus dijadikan pelajaran berharga dalam kehidupan bangsa
Kuru itu. Yakni ketika Pandawa kalah bermain dadu melawan Kurawa. Taruhannya besar bahkan ketika uang Pandawa sudah habis
yang dipertaruhkan adalah istrinya.
Pandawa tahu ada kecurangan dan “wasit”
yang tidak netral. Tapi
Pandawa Lima tetap saja bertaruh untuk memuaskan nafsunya berjudi. Harta benda
ludes di meja judi. Pada akhirnya istri mereka, Drupadi, dijadikan taruhan.
Ternyata juga kalah. Akhirnya semua dilucuti pakaiannya, termasuk pakaian
Drupadi. Untungnya, Drupadi yang tak tahu kalau dirinya dijadikan bahan
pertaruhan dilindungi Hyang Kuasa sehingga ketika pakaiannya dilucuti Duryodana,
kain yang dikenakannya tak ada habis-habisnya.
Apakah dalam Pilkada “wasit”
benar-benar netral? Semoga itu yang terjadi. Tetapi apakah “wasit” dalam hal
ini Bawaslu benar-benar bertindak adil dan memantau kenetralan pegawai negeri,
misalnya? Kalau ada pegawai negeri yang tidak netral karena merasa cuma
mengikuti ajakan atasannya, yaitu Bupati, atau setidak-tidaknya mereka berani
tidak netral karena toh atasannya (Bupati) tak akan menindak, apakah Bawaslu
berani bertindak? Seharusnya Bawaslu juga meminta Bupati itu netral karena
meski pun dia pejabat publik yang dipilih rakyat, mereka itu tergolong pegawai
negara karena menerima gaji dari negara.
Pandawa pun tahu “wasit” tidak
netral yakni Prabu Drona. Juga ada provokator yang selalu membela Kurawa dan
memojokkan Pandawa, yaitu Sangkuni. Tetapi apa yang terjadi? Ketika Pandawa
kalah dalam bertaruh, mereka menerima hukuman yang disepakati. Yakni 12
tahun masuk ke hutan dan setahun dalam penyamaran. Pandawa menghargai kekalahan
ini. Mereka tetap mekenyem (tersenyum). Mereka tahu karma phala akan berjalan.
Mudah-mudahan dalam Pilkada di
Bali ini siapa pun yang kalah akan meniru Pandawa. Tetap tersenyum meski
milyaran uang sudah dihabiskan. Yang menang nanti akan menanggung karma buruk
kalau ternyata pertaruhan itu memakai kecurangan.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar