PERAN guru tetap
begitu penting sepanjang zaman. Kemajuan sebuah bangsa terletak pada bagaimana mutu
guru-gurunya. Generasi yang terdidik hanya bisa dilakukan oleh guru yang juga
bagus.
Dalam ajaran
Hindu guru merupakan hal yang sangat penting. Tanpa guru kehidupan ini akan
gelap gulita karena lewat gurulah perkembangan intelektual seseorang itu
terlihat. Dan siapa yang disebut guru itu? Bukan hanya seseorang yang berdiri
di depan kelas mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, tetapi semua orang bisa
menjadi guru. Bahkan alam pun menjadi guru. Meski begitu dalam Hindu kriteria
guru itu dibagi menjadi empat dan karena itu disebut Catur Guru. Rinciannya
adalah Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadyaya. Keempat guru
ini tak terpisahkan dan saling melengkapi.
Guru Rupaka
adalah orang tua yang melahirkan kita. Kedua orang tua inilah yang memberikan
pendidikan awal untuk seorang anak sejak dilahirkan. Guru yang mengajarkan anak
berjalan, berbicara, mengenal lingkungan dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan
pada seorang anak. Karena orang tua tak mungkin terus-menerus mengajar kepada
anaknya, maka ada peran guru yang kedua, yakni Guru Pengajian. Ini adalah guru
di sekolah. Guru di sekolah inilah yang perannya lebih banyak memberikan
pendidikan sesuai dengan kurikulum yang disediakan pemerintah.
Mengikuti
pendidikan di sekolah ada batasnya. Tak bisa kita bersekolah seumur hidup.
Tetapi belajar seumur hidup adalah sebuah keharusan. Lalu siapa gurunya? Ini
guru yang ketiga disebut Guru Wisesa. Wisesa yang dimaksud di sini adalah
pemerintah dari tingkatan yang terendah sampai yang tertinggi. Juga termasuk
segala kegiatan yang ada di masyarakat entah itu lewat organisasi formal,
paguyuban dan berbagai komunitas kelompok. Di sana kita belajar bersama.
Dan yang
terakhir adalah Guru Sejati, Beliau tak
lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam istilah Catur Guru ini Beliau disebut
Guru Swadyaya. Tuhan yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai guru sejati adalah
Maha Guru alam semesta atau Sang Hyang Paramesti Guru. Semua ilmu pengetahuan
dengan segala bentuknya adalah bersumber dari Tuhan. Salah satu dewi yang
menurunkan ilmu itu adalah Dewi Saraswati yang selalu kita puja pada Hari
Saraswati.
Nah, apakah
di zaman now – begitu orang menyebut
zaman kekinian – peran guru itu masih tetap dominan? Tentu saja semuanya masih
tetap dominan dan tetap relevan. Tak mungkin ada yang menggantikan orang tua
dalam mendidik anaknya di rumah. Tak mungkin pula anak-anak itu dibiarkan tidak
sekolah jika usianya sudah mencukupi.
Cuma di era
internet ini ada sarana penting yang
bisa seolah-olah menggantikan fungsi guru itu. Dunia maya melahirkan alat
canggih yang disebut media sosial. Media sosial ini melahirkan berbagai
aplikasi yang bisa menggantikan buku, bisa menggantikan koran dan majalah, bisa
menggantikan cara ngobrol bertatap muka. Semua itu bisa dilakukan lewat
perangkat handphone. Masalahnya
apakah pendidikan lewat media sosial ini betul-betul menggantikan sebagian
peran guru yang mengajarkan kebaikan? Atau justru yang diajarkannya adalah
keburukan? Jika keburukan itu yang didapat maka konsep Catur Guru dalam Hindu
sudah benar-benar dilanggar.
Dalam ajaran
Hindu ada kriteria bahwa “Guru
ngaranya wwang awreddha, tapo wreddha, jnana
wreddha. Wwang awreddhangi” Artinya, yang disebut
guru itu adalah orang yang sudah tua,
dan itu yang dimaksudkan adalah orangtua kita, dan orang yang mengajarkan
kebenaran dan kesucian, orang yang sudah matang pengetahuannya dan tidak
tergoda oleh nafsu-nafsu buruk karena taat pada tapa brata.
Apakah media
sosial sekarang ini selalu mengajarkan kebaikan dan bukankah banyak kebencian
yang juga diajarkannya? Maka berbahayalah jika para orang tua membiarkan
anak-anaknya asyik dengan media sosial. Apalagi dengan sengaja memberikan
anaknya komputer mini atau tablet dan handphone
yang bisa mengunggah dengan bebas apa yang ada di dalam media sosial itu. Betul
sarana itu bisa menjadi “guru” dan banyak ilmu yang bisa didapat di sana,
tetapi jika salah menggunakannya maka kebencian dan kemaksiatan yang didapat.
Para guru di sekolah pun harus mengawasi murid-muridnya sehingga tidak
tergila-gila dengan media sosial yang bisa diakses dengan mudah. Di beberapa
sekolah ada imbauan agar murid tidak membawa handphone ke dalam kelas, apalagi menghidupkannya. Mari kita awasi
anak kita dari “guru” yang satu ini. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar