APA yang sebaiknya
dilakukan pada tahun baru selain menemani anak-anak meniup terompet dan
mendengarkan bunyi petasan yang tak putus-putusnya? Marilah bersyukur. Kita
harus bersyukur karena dalam pergantian tahun ini diberikan kesehatan lahir
batin.
Jalan terindah dari
kehidupan ini adalah mensyukuri apa yang telah kita jalani setiap hari, tanpa
ada penyesalan diri. Tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada pula kebahagiaan
yang abadi. Demikian orang-orang bijak memberi nasehat.
Bagaimana kalau di tahun yang kita lewati ini banyak kegagalan yang kita jumpai? Kita harus melakukan instrospeksi diri dan berupaya memperbaiki pada tahun mendatang agar kegagalan itu tak muncul lagi. Jangan berhenti berupaya dan melakukan langkah nyata ketika menemui kegagalan. Tetap bersyukur karena kegagalan itu adalah cara Tuhan mengajari kita arti bagaimana melakukan pekerjaan dengan kesungguhan hati. Orang-orang bijaksana menyebutkannya, “Bersyukurlah untuk masa-masa sulit, karena di masa itulah kamu bisa tumbuh dengan baik.”
Setiap kesalahan yang kita perbuat di tahun yang lama harus disyukuri karena kesalahan itu akan memberikan pelajaran yang berharga di tahun yang akan datang. Kalau setiap hari kita meniti hidup yang selalu indah dan seolah-olah tak pernah salah bisa jadi itu hanyalah fatamorgana dan yang jelas kita tak pernah mendapatkan pelajaran untuk berbuat yang lebih baik. Kalau kita tak bisa mensyukuri kesalahan maka yang ada pada diri kita adalah keinginan untuk selalu mengeluh. Hanya yang biasa bersyukur yang bisa membebaskan diri dari belenggu kecemasan atas kesalahan.
Kontemplasi dan
merenungi apa yang telah terjadi di tahun yang lewat untuk diperbaiki di tahun
mendatang adalah sebuah keharusan. Para budayawan dan kalangan spiritual
biasanya melakukan hal ini, merenungi dengan berbagai caranya apa yang sudah
dikerjakan tahun lalu. Lewat itu mereka melakukan ritual penyucian diri agar
kekotoran di tahun yang lama hilang sehingga tahun baru bisa dilewati dengan
kebersihan hati. Mandi, berbusana yang bersih, berpenampilan menarik, memang merupakan penampilan yang bagus, tetapi bukanlah kebersihan itu yang diutamakan. Yang jauh lebih utama adalah berprilaku yang baik dan bersih dari segala kekotoran yang diakibatkan oleh berbagai nafsu buruk. Semua nafsu buruk di tahun yang lewat diupayakan untuk dibersihkan sehingga tahun baru kita berada dalam kebersihan hati. Apa itu “kebersihan hati? Kitab Sarasamuscaya sloka 70 menyebutkan dalam bahasa Jawa Kuno: Nihan ta laksananing danta, tar linyok, tan agirang yan anemu sukha, tan prihatin yan katekaning duhka, enak ta wruh nira ring tattwa, wenang ta sira tumangguhi nira apan pakadrbyang dama, sira danta ngaranira.
Terjemahannya: Inilah syaratnya orang yang disebut bersih (danta). Ia tidak pernah ingkar janji (linyok). Tidak bergembira berlebihan kalau mendapatkan kesenangan. Tidak menderita kalau mendapatkan kedukaan. Sangat paham akan hakekat kebenaran sastra agama (tattwa), dia sanggup menasehati dirinya sendiri. Dia itulah disebut orang bersih hatinya.
Tan linyok artinya tidak pernah ingkar janji. Nah tahun 2018 yang akan tiba, yang sering disebut “tahun politik” pastilah urusan tan linyok ini akan banyak ada. Para politisi kita sedang berebut jabatan, dari jabatan bupati, gubernur, anggota DPR dan DPD. Pasti mereka akan mudah memberikan janji-janji. Apakah betul mereka tan linyok? Mari kita ingatkan agar mereka tak sia-sia menyambut tahun baru ini.
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 30 Desember 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar