11 November 2017

Tanpa Tamiang Tetap Kuningan

MERAYAKAN Kuningan tanpa membuat hiasan berupa tamiang bagi umat Hindu di Bali dianggap kurang lengkap. Sama tidak lengkapnya kalau merayakan Kuningan tanpa menyuguhkan nasi kuning, baik untuk sesajen maupun untuk dimakan. Karena itu sebisa-bisanya orang membuat tamiang dan nasi kuning.
Bagaimana kalau tidak? Sebenarnya juga tidak apa-apa karena semuanya itu adalah simbol. Simbol itu ada yang terkait dengan sastra agama dan ada yang dikait-kaitkan dengan budaya tanpa jelas di mana sumber sastranya. Cakra adalah senjata Dewa Wisnu dan ini bukan sekadar simbol tetapi punya arti yang jelas. Semua Istadewata punya senjata yang berbeda-beda. Tamiang yang mirip dengan senjata cakra milik Dewa Wisnu tidak jelas menurut sastra agama menjadi simbol apa. Dewa siapa yang memegang tamiang ini?

Hari Raya Kuningan adalah merayakan hari kegembiraan sebagai penutup dari serangkaian Hari Raya Galungan yang menjadi hari kemenangan dharma. Para tetua kita mewariskan ada pelengkap yang menyertai sesajen berupa tamiang yang digantungkan di setiap pelinggih dan rumah tempat tinggal kita. Kadang juga digantung di mobil bagian depan, jadi menutupi nomor polisi. Ada yang menafsirkan tamiang itu adalah penangkis serangan musuh. Jadi semacam perisai untuk membentengi tubuh kita kalau ada perang. Seperti ritual perang pandan di Tenganan Pegringsingan atau juga dalam olahraga yang sudah menjadi hiburan yaitu gebug ende.


Tamiang di dalam ritual Kuningan siapa yang perlu dibentengi? Apakah para leluhur kita yang kita puja dari pagi sampai siang, perlu diberi tamiang untuk membentengi dirinya? Rasanya tidak. Para leluhur adalah mereka yang sudah menyatu dengan Tuhan di alam sana, atau istilah yang sudah populer amor ring Achintya. Dengan “sifat” seperti itu para leluhur yang sudah menjadi Ida Bethara tak membutuhkan tamiang. Dalam perjalanan menemui pratisentananya di alam dunia ini dan kembali setelah siang hari ke sorga (ada disebut istilah mur mwah maring swarga) mereka tidak membutuhkan tamiang. Maka ada penafsiran lain bahwa tamiang itu justru untuk kita sendiri yang masih hidup.

Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan. Dalam rentang sepuluh hari itu kita larut dalam kemenangan dharma dengan melakulan silakrama (silaturahmi) dan tirtayatra (menghaturkan bhakti ke pura-pura). Kuningan sebagai penutup ritual karena setelah itu orang tak melaksanakan upacara keagamaan dan rentang waktu itu disebut buncal balung. Nah pada saat-saat inilah kita perlu perlindungan diri yakni tamiang. Jadi dalam penafsiran ini tamiang lebih ditujukan kepada diri sendiri agar tak mudah kembali dikalahkan oleh unsur adharma.

Begitu pula kebiasaan membuat tumpeng kuning, baik yang dimakan maupun yang dihaturkan dalam sesajen. Tradisi ini sudah ada lama di Nusantara dan sampai kini tetap disukai di berbagai suku bangsa, tak cuma orang Bali saja. Sesungguhnya tak jelas bagaimana asal-usul nasi kuning dipakai sarana ritual pada Hari Raya Kuningan. Apakah warna kuning itu sama dengan simbol yang dipakai Mahadewa? Tak ada sumber sastranya.

Hari Raya Kuningan pun memang tidak spesifik diatur dalam Kitab Weda dengan demikian tidak ditemukan dalam kitab suci itu. Sebagaimana halnya banyak hari raya lain, perayaan itu mengacu kepada tradisi lokal. Tetapi kalau dicari-cari, jiwanya memang ada dalam ajaran agama. Misalnya, umat Hindu dianjurkan untuk merayakan hari kemenangan dharma setelah simbol-simbol adharma ditumbangkan. Umat Hindu di India memakai mitologi kemenangan Rama atas Rahwana dan hari itu disebut Depaawali. Umat Hindu di Bali memakai mitologi lain dan namanya Galungan. Rangkaian Depaawali umumnya 3 sampai 5 hari. Rangkaian Galungan ditutup dengan Kuningan berjarak 10 hari. Jadi, nama hari raya bisa beda dan kapan dirayakan serta bagaimana cara merayakannya juga berbeda-beda.

Karena ini ritual tidak dinyatakan secara jelas di dalam Kitab Weda dan sifatnya adalah penafsiran dari ajaran Weda yang begitu luas jangkauannya, maka kita jangan terjebak kepada simbol-simbol yang lebih condong bersifat warisan dari budaya para tetua kita. Dengan begitu kalau Kuningan ini kita bisa membuat tamiang, ya, itu baik untuk melestarikan tradisi budaya masa lalu. Tetapi kalau tidak membuat karena sulit mencari janur atau kesibukan lain yang tak bisa ditinggalkan maka tidak membuat tamiang tidak mengurangi persembahyanhan kita di hari Kuningan. Tetaplah merayakan Kuningan. 
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 11 November 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar