MERAYAKAN Kuningan tanpa membuat hiasan berupa tamiang bagi umat Hindu di Bali dianggap kurang lengkap. Sama tidak lengkapnya
kalau merayakan Kuningan tanpa menyuguhkan nasi kuning, baik untuk sesajen
maupun untuk dimakan. Karena itu sebisa-bisanya orang membuat tamiang dan nasi
kuning.
Hari Raya Kuningan adalah merayakan hari kegembiraan sebagai penutup dari
serangkaian Hari Raya Galungan yang menjadi hari kemenangan dharma. Para tetua
kita mewariskan ada pelengkap yang menyertai sesajen berupa tamiang yang
digantungkan di setiap pelinggih dan rumah tempat tinggal kita. Kadang juga
digantung di mobil bagian depan, jadi menutupi nomor polisi. Ada yang
menafsirkan tamiang itu adalah penangkis serangan musuh. Jadi semacam perisai
untuk membentengi tubuh kita kalau ada perang. Seperti ritual perang pandan di
Tenganan Pegringsingan atau juga dalam olahraga yang sudah menjadi hiburan
yaitu gebug ende.
Tamiang di dalam ritual Kuningan siapa yang perlu dibentengi? Apakah para
leluhur kita yang kita puja dari pagi sampai siang, perlu diberi tamiang untuk
membentengi dirinya? Rasanya tidak. Para leluhur adalah mereka yang sudah
menyatu dengan Tuhan di alam sana, atau istilah yang sudah populer amor ring Achintya. Dengan “sifat”
seperti itu para leluhur yang sudah menjadi Ida Bethara tak membutuhkan
tamiang. Dalam perjalanan menemui pratisentananya di alam dunia ini dan kembali
setelah siang hari ke sorga (ada disebut istilah mur mwah maring swarga) mereka tidak membutuhkan tamiang. Maka ada
penafsiran lain bahwa tamiang itu justru untuk kita sendiri yang masih hidup.
Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan. Dalam rentang sepuluh hari itu kita larut dalam kemenangan dharma dengan melakulan silakrama (silaturahmi) dan tirtayatra (menghaturkan bhakti ke
pura-pura). Kuningan sebagai penutup
ritual karena setelah itu orang tak melaksanakan upacara keagamaan dan rentang
waktu itu disebut buncal balung. Nah
pada saat-saat inilah kita perlu perlindungan diri yakni tamiang. Jadi dalam
penafsiran ini tamiang lebih
ditujukan kepada diri sendiri agar
tak mudah kembali dikalahkan oleh unsur adharma.
Begitu pula kebiasaan
membuat tumpeng kuning, baik yang
dimakan maupun yang dihaturkan dalam sesajen. Tradisi ini sudah ada lama di
Nusantara dan sampai kini tetap disukai di berbagai suku bangsa, tak cuma orang
Bali saja. Sesungguhnya tak jelas bagaimana asal-usul nasi kuning dipakai
sarana ritual pada Hari Raya Kuningan. Apakah warna kuning itu sama dengan
simbol yang dipakai Mahadewa? Tak ada sumber sastranya.
Hari Raya Kuningan pun memang tidak spesifik diatur dalam Kitab Weda dengan demikian tidak ditemukan dalam kitab suci
itu. Sebagaimana halnya
banyak hari raya lain, perayaan itu
mengacu kepada tradisi lokal. Tetapi kalau dicari-cari, jiwanya memang ada dalam ajaran agama. Misalnya,
umat Hindu dianjurkan untuk merayakan hari kemenangan dharma setelah simbol-simbol adharma ditumbangkan. Umat Hindu di India memakai mitologi
kemenangan Rama atas Rahwana dan hari
itu disebut Depaawali. Umat
Hindu di Bali memakai mitologi lain
dan namanya Galungan. Rangkaian Depaawali umumnya 3 sampai 5 hari.
Rangkaian Galungan ditutup dengan Kuningan berjarak 10 hari. Jadi, nama hari raya bisa beda dan
kapan dirayakan serta bagaimana cara merayakannya juga berbeda-beda.
Karena ini ritual tidak dinyatakan secara jelas di dalam Kitab Weda dan
sifatnya adalah penafsiran dari ajaran Weda yang begitu luas jangkauannya, maka
kita jangan terjebak kepada simbol-simbol yang lebih condong bersifat warisan
dari budaya para tetua kita. Dengan begitu kalau Kuningan ini kita bisa membuat
tamiang, ya, itu baik untuk melestarikan tradisi budaya masa lalu. Tetapi kalau
tidak membuat karena sulit mencari janur atau kesibukan lain yang tak bisa
ditinggalkan maka tidak membuat tamiang tidak mengurangi persembahyanhan kita
di hari Kuningan. Tetaplah merayakan Kuningan.
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 11 November 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar