SUDAH sebulan lebih seminggu Gunung Agung berstatus
awas. Sepanjang itu pulalah sejumlah orang mengungsi. Mula-mula sedikit
lama-lama berjubel sampai ratusan ribu jumlah pengungsi. Status awas itu
dicanangkan pada 22 September 2017 dengan prakiraan bahwa gunung akan meletus
secepatnya, karena itu penduduk di Kawasan Rawan Bencana (KRB) harus
diungsikan. Ada pula prakiraan bahwa letusan kali ini lebih cepat dari tahun
1963. Saat itu Gunung Agung mulai “batuk-batuk” pada pertengahan Januari 1963
dan erupsi baru terjadi 18 Februari 1963.
Manusia boleh memperkirakan apa pun, tetapi Tuhan yang
menentukan. Sampai hari ini ternyata Gunung Agung belum arupsi. Artinya
penantian saat awal diketahui gunung itu memuncak pergerakan magmanya sampai
hari ini, tidak ada yang mencemaskan. Itu berarti penantian hari ini lebih
panjang dari penantian tahun 1963.
Apakah Gunung Agung akan erupsi atau tidak setelah
sebulan lebih berstatus awas? Sejatinya tak ada yang tahu pasti. Gempa sudah
menurun dalam hitungan jumlah, namun pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi (PVMBG) masih tetap menyematkan status awas. Justru dengan berkurangnya
gempa itu maka tekanan penyumbat lebih cepat jebol dan gunung erupsi. Entahlah,
karena segala ilmu yang dimiliki manusia tak ada artinya kalau Tuhan
berkehendak “melawan ilmu” itu.
Ada kisah unik yang beredar di masyarakat. Kalau
sampai Sugihan Bali itu Gunung Agung tidak meletus, maka gunung akan kembali
normal sedikit demi sedikit. Sugihan Bali sudah lewat tiga hari yang lalu, lusa
kita sudah merayakan Galungan. Tapi apa alasan memakai ukuran Sugihan Bali?
Bagi yang percaya kisah ini berpegangan pada tahun 1963 bahwa Gunung Agung
meletus saat Sugihan Bali. Ternyata itu tidak betul. Gunung Agung mulai meletus
18 Februari 1963 dan hari itu adalah Soma (Senin) Wuku Wariga. Pada saat
Galungan 20 Maret 1963 Gunung Agung sedang hebat-hebatnya meletus.
Toh kabar ini yang intinya “gunung tak akan meletus
karena sudah lewat Sugihan Bali” ada yang mempercayai. Mereka bertekad untuk
pulang ke desanya yang sudah lama ditinggalkan untuk mempersiapkan Hari Raya
Galungan. Bahkan keyakinan mereka itu sangat tebal disertai pandangan bahwa
“Tuhan tak akan membuat bencana pada saat umatnya bersembahyang”. Kita harus
hormati keyakinan itu yang berpandangan bahwa Tuhan atau Hyang Widhi tak akan
mencelakaakan umat yang penuh sujud. Tapi bagaimana menjelaskan hal itu ketika
fakta yang terjadi saat perayaan Galungan tahun 1963 justru banyak umat yang
menjadi korban karena Gunung Agung meletus dengan hebat? Apakah kita harus
pasrah lalu menyebut “hidup dan mati adalah kehendak Tuhan, masuk ke gedung
batu pun kalau Tuhan menghendaki, kita bisa mati”.
Inilah dilema dari sebuah penantian dan menunggu
hal-hal yang sesungguhnya tidak kita harapkan terjadi. Semua orang, bukan saja
orang Bali tetapi juga orang-orang di seluruh dunia, berharap Gunung Agung
tidak meletus. Tetapi banyak pula orang yang diam-diam “menghitung hari” kapan
Gunung Agung meletus. Yang mereka tunggu sesungguhnya adalah kepastian, kalau
meletus cepatlah, kalau tidak cepat pulalah. Tentu dengan harapan
masing-masing. Kalau meletus cukup ringan saja, tak sekuat tahun 1963. Kalau
tidak meletus segera ada penelitian dan kemudian pengumuman bahwa status gunung
diturunkan dari awas ke waspada atau siaga.
Sulitnya adalah ilmu yang dimiliki manusia tak berarti
apa-apa jika dihadapkan dengan “ilmu Tuhan”. Tuhan punya “ilmu” yang tak mudah
ditebak oleh umat manusia. Dalam bahasa agama bisa disebut, misalnya, Tuhan ingin
menguji kesabaran umat, Tuhan ingin menunjukkan jalan bagaimana umat harus
menyikapi cobaan ini. Dan berbagai pandangan lain yang menunjukkan betapa Maha
Kuasa Tuhan itu.
PVMBG adalah lembaga yang menetapkan kapan gunung
api dalam status waspada, kapan berstatus siaga dan kapan berstatus awas.
Penetapan itu berdasarkan rekaman dan pemantauan kawah dengan alat-alat yang
canggih. Artinya penetapan yang mereka lakukan berdasarkan “ilmu manusia”.
Hasilnya adalah meski pun gempa menurun jumlahnya, erupsi masih besar bisa
terjadi. Justru dengan menurunnya gempa vulkanik ini maka penyumbat kawah lebih
cepat jebol dan erupsi terjadi. Tanggungjawab mereka besar untuk menyelamatkan
nyawa. Tahun 1963 Gunung Agung memakan korban 1.148 jiwa dan ketika Gunung
Merapi erupsi di era serba canggih ini ternyata korban pun banyak karena tak
percaya peringatan PVMBG.
Kalau sudah begitu mau bilang apa Bupati Karangasem
Mas Sumantri yang menyebut pendapatan asli daerah lenyap sampai satu triliun
rupiah? Mau berkata apa Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang terus berharap
agar status gunung diturunkan – kalau bisa? Bahkan Menko Kemaritiman Luhut
Binsar Panjaitan juga gusar kenapa hal ini bisa terjadi. Para pejabat ini terus
menggelar diskusi, tentu melibatkan PVMBG dan lembaga terkait seperti Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB bahkan menghitung potensi kerugian dari
aktivitas vulkanik Gunung Agung ini mencapai Rp 2 triliun.
Itu kerugian pemerintah dari potensi pemasukan yang
hilang dari sektor pariwisata, galian C, perbankan dan lainnya. Tentu belum
dihitung kerugian masyarakat Bali yang jauh dari Gunung Agung tetapi terkena
dampak dari aktivitas gunung ini. Proyek pembangunan macet. Harga pasir naik
dua kali lipat.
Ya, selama ini kita hanya bisa menunggu. Sudah sebulan
lewat semoga penantian itu tak lama dengan harapan Gunung Agung statusnya
diturunkan dari awas dan untuk seterusnya kembali normal. Selama kepastian itu
tidak ada, marilah kita memuja leluhur dan Hyang Widhi di tempat yang aman pada
Hari Raya Galungan.
(Mpu Jaya Prema 30 Oktober 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar