BETAPA
pentingnya menyadari dan belajar mengenal diri sendiri, terlebih di dunia yang
konon sudah mengalami kemerosotan moral ini. Banyak hal yang bisa dijadikan
pelajaran dalam kehidupan di masyarakat saat ini yang mengharuskan kita untuk
mengetuk pintu hati, apa sesungguhnya yang salah. Kekalahan Basuki Tjahaya
Purnama di Pilkada DKI Jakarta, misalnya, bisa diambil sebagai contoh untuk
belajar. Prestasi kerjanya menakjubkan dan diakui warga Jakarta, tetapi ketika akan
dipilih menjadi gubernur maka kepribadiannya juga harus dilihat. Dan Basuki
alias Ahok pun menyadari bahwa kepribadiannya sering menyimpang dan ini
mencelakakan, yakni, suka bicara kasar di depan umum. Dan Ahok mengakui hal
itu.
Marilah kita
belajar untuk menyadari diri kita sendiri dengan jalan selalu mengetuk
pintu
hati kita. Sadari identitas kita sebagai manusia. Kata manusia berasal
dari
kata “manu” yang artinya orang yang berbudi pakerti
luhur. Keluhuran budi itu ada di dalam hati sepanjang kita
menemuinya dengan jiwa yang bersih.
Setiap
orang pasti mengalami pasang surut kehidupan. Ada cobaan yang harus dijalani
dan itu harus dijadikan satu episode dari drama kehidupan yang lebih luas.
Mungkin itu untuk menebus karma wasana
kita di masa lalu. Kalau kita mengetuk hati kita dan melihat persoalan dengan pikiran
yang suci dilandasi oleh kesadaran diri yang tinggi, sesungguhnya semua yang
menerpa hidup kita merupakan suatu ujian. Ini adalah saatnya kita meningkatkan kualitas hidup untuk kehidupan yang
lebih baik dan lebih bijaksana. Dengan keyakinan atau sraddha yang kokoh kita pasti akan mampu
mengatasinya.
Sebaliknya
kalau kita tidak menghadapi cobaan apa pun, sesekali tetap perlu mengetuk hati
kita. Untuk apa kita larut dengan kerja keras? Pagi sudah berangkat kerja,
malam baru pulang dengan kelelahan. Ngobrol dengan anak-anak sangat terbatas
hanya pada hari libur. Cobalah ketuk hati dan bertanya: untuk apa hidup
ini sebenarnya? Apakah hanya untuk mengumpulkan kekayaan? Apakah
kekayaan itu akan kita bawa pada saat kematian tiba? Atau adakah kekayaan yang
kita miliki bisa menolong diri kita, baik selama hidup maupun ketika
meninggal dunia?
Kita
seharusnya menyadari harta saja tidak cukup untuk membahagiakan kehidupan lahir
bathin. Ada yang lebih penting lagi yakni interaksi kita ke masyarakat, punya
sahabat yang banyak dan seterusnya. Kemudian membesarkan anak-anak dengan harta
yang didapat di jalan dharma. Ketika kita meninggal dunia semua sahabat dan
keluarga hanya akan mengantarkan kita sampai di kuburan, selebihnya kita pergi
dengan kesendirian dan hanya ditemani oleh karma wasana.
Dalam drama
kehidupan di dunia ini ada bermacam-macam peran yang dilakoni manusia. Ada yang tak
henti-henti mencari kekayaan walaupun dengan jalan pintas, ada yang
mengejar keterkenalan. Ada yang kelaparan tetapi ada juga yang
berkelebihan harta. Ada yang sedemikian seriusnya di jalan
spiritual, sampai mereka rela mengorbankan segala-galanya, bahkan
meninggalkan keluarganya. Semuanya wajar-wajar saja dan
sah,
karena semua itu menjadi hak mereka masing-masing. Semuanya
akan terkena hukum alam, sekecil apapun karma yang telah kita perbuat, pasti
akan menerima pahalanya.
Yang
mana kita pilih? Kata kuncinya adalah mari bertanya ke hati kita yang paling
dalam dan cari jawaban di sana. Siapa saya, saya
mau ke mana, apa yang saya cari dan setelah saya dapatkan untuk apa? Semua pertanyaan
itu hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri, karena semua itu ada dalam
diri kita, bukan pada orang lain.
Siapa saya akan
mendapatkan jawaban tentang keadaan kita saat ini. Kalau kita berprofesi
sebagai petani, tentu tak akan bisa menjalankan profesi pedagang, pegawai
kantoran, atau tugas seorang pendeta. Saya
mau ke mana, akan mendapatkan jawaban apa jalan hidup yang akan kita
lakukan dan bagaimana melakukannya dengan cara yang benar. Seorang petani tentu
beda apa yang dilakukannya dengan seorang pedagang. Apa yang saya cari, akan mendapatkan jawaban sebagai tujuan dari
hidup ini. Seorang petani pasti yang dicari adalah tanamannya subur sehingga
bisa menghasilkan buah untuk dijual. Seorang pedagang yang dicari adalah
keuntungan. Setelah petani berhasil menjual hasil panennya yang didapat adalah
uang untuk kebutuhan hidupnya. Begitu pula pedagang mendapatkan keuntungan
untuk biaya hidupnya.
Itulah pentingnya
kita mengetuk hati kita. Jangan terlalu jauh melangkah ke hal-hal yang tak
mungkin bisa kita capai.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 22 April 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar