Pikiran adalah sumber dari segala aktivitas
manusia. Pikiran
bisa mengembara ke mana-mana tak
terpengaruh oleh waktu dan jarak. Dalam cerita-cerita lama, para pujangga
menyebutkan pikiran itu ibarat kuda liar, dia bisa berlari ke mana dia suka.
Mau memikirkan yang terburuk dan yang terbaik, bebas dilakukan.
Namun pikiran harus
dikendalikan jika mengarah kepada perkataan mau pun perbuatan. Dalam ajaran
Trikaya Parisudha, pikiran itu haruslah suci terlebih dahulu jika kemudian
diteruskan dengan apa yang mau dikatakan dan diperbuat. Kalau hanya sebatas
yang dipikirkan dan tidak diteruskan dengan pembicaraab mau pun perbuatan, maka
itu tidak berbahaya. Itu disebut berkhayal.
Di dalam kitab Wrespati Tattwa sloka 16 disebutkan pikiran yang menyebabkan Sang Pribadi atau manusia menikmati
sorga, tetapi juga pikiran yang menyebabkan Sang Pribadi jatuh ke dalam neraka. Pikiran menyebabkan seseorang menjelma menjadi binatang tetapi pikiran pula yang menyebabkan menjelma menjadi manusia. Maksudnya adalah sifat-sifat binatang yang tak
punya aturan dan sifat-sifat manusia yang memiliki aturan dalam kehidupan
bermasyarakat ini.
Ada sloka yang
menyebutkan: Yas
tv-avijnananvan bhavatya-amanaskas sada sucih, Na sa tat padam apnoti
samsaram cahigacchati. Terjemahan
bebasnya: Dia yang tidak
memiliki kesadaran diri yang mantap, dan tidak kuasa atas pikirannya yang tidak
suci, ia tidak akan pernah sampai pada tujuannya, bahkan
akan terjerumus pada kesengsaraan atau kehancuran.
Ajaran Hindu
menekankan hendaknya umat manusia dapat mengendalikan pikiran dan indriyanya. Setelah pikiran itu terkendali maka kata-kata yang
diucapkan akibat pikiran terkendali itu menjadi terkendali pula. Jauh dari
kata-kata tanpa makna.
Perkataan adalah
alat untuk berkomonikasi di antara sesama manusia, untuk menyampaikan maksud dan tujuan atau keinginan kepada orang lain. Dengan demikian berbicara mempunyai kedudukan dan peranan yang
sangat penting dalam kehidupan manusia. Kata-kata yang bagus dan terkendali dapat
mendatangkan kebahagiaan, kata-kata yang
indah dapat memberikan kesejukan. Perkataan yang manis dapat menghibur dan kata-kata
bisa pula menghidupkan kembali semangat seseorang. Namun jika kata-kata itu tak terkendali, kasar dan
penuh caci maki, maka kata-kata menjadi racun yang
merusak jiwa dan raga manusia.
Kitab suci Sarasamuscaya sloka 20 dalam versi bahasa Jawa Kuno (Kawi) menyatakan: Ikang ujar ahala tan pahi lawan hru, songkabnya saka tempuhan denya
juga alara, resep ri hati, tatan keneng pangan turu ring rahina wengi
ikang wwang denya, matangnyan tan inujaraken ika de sang dhira purusa,sang
ahning maneb manahnir. Artinya: Perkataan
yang mengandung maksud jahat tiada bedanya dengan anak panah yang dilepaskan,
setiap yang dilalui akan merasakan kesakitan. Perkataan itu meresap ke dalam hati,
sehingga menyebabkan orang tidak bisa makan dan tidur, siang malam orang itu
akan terbebani. Oleh sebab itu kata yang tidak baik hendaknya tidak diucapkan
oleh orang budiman, bijaksana dan oleh orang yang suci.
Pada Sarasamuscaya sloka 119
antara perkataan dan cara mengucapkannya dibedakan. Sloka itu menyebutkan: Apan ikang ujar yan rahayu, rahayu ta kojaranya, tan tunggal
ikang sukha kapuhara denya,
yadyapin rahayu towi, yan tan
rahayu kang kojaranya, irikang umajarakennya tuwi,ya pwa mapuhara lara. Artinya:
Perkataan yang bermaksud baik, dan diucapkan
dengan cara yang baik pula, akan menimbulkan kebahagiaan dan ketentraman hati. Namun walau pun
perkataannya dengan maksud baik, jika diucapkan tidak dengan cara yang baik,
akan dapat menimbulkan sakit hati.
Banyak orang seperti itu
saat ini. Mereka bermaksud baik, tak ada keinginan sama sekali untuk menyakiti
hati seseorang, namun karena cara berbicara tidak baik, apakah itu kasar atau
logatnya nyeleneh, penerimaan orang menjadi tidak baik. Karena itu disarankan
agar Sang
mahapandita, sang maka bratang kasatyan, tan pangumanũman,tan pagawe pecunya, tan
pangupat, nguniweh tan mrsawada, yatna juga sira amiheri ujarnira, rumaksa
halaning len. (Orang yang arif bijaksana, orang yang berjanji atas dirinya
berpegang kepada kebenaran, tidak akan mencaci orang, tidak menfitnah, tidak mencela,
lagi pula tidak berkata-kata dusta, melainkan giat berusaha menahan ucapan-ucapannya, dan memelihara agar
orang lain jangan sampai terluka karenanya).
Demikianlah pentingnya
menjaga perkataan atau berbicara yang sesungguhnya berawal dari pikiran yang
terkendali.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 29 April 2017)

Suksma juga. Semoga tulisan di blog ini ada manfaatnya.
BalasHapus