26 Maret 2017

Belajar Melaksanakan Brata Penyepian

SUDAH bermunculan baliho di jalan-jalan yang mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi. Baik dari pejabat maupun politisi yang mau “menjual diri” untuk kepopulerannya. Selain ucapan yang formal ada yang menyebut “mari kita laksanakan Catur Brata Penyepian”. Apakah pemilik foto di baliho itu sudah melaksanakan Catur Brata Penyepian setiap Nyepi? Kalau ternyata tidak, balihonya hanya bikin kotor alam Bali saja.

Berapa banyakkah umat Hindu di Bali yang betul-betul melaksanakan Catur Brata itu? Kalau belum mari kita belajar dulu melaksanakannya.

Catur Brata Penyepian terdiri dari Amati Geni, Amati Lelanguan, Amati Lelungan dan Amati Karya. Amati Geni umumnya dimaknai sebagai tidak menyalakan api. Kalau kita maknai secara istilah dan kata, pantangan itu cukup dilaksanakan dengan tidak menyalakan api. Jadi tidak bisa memasak karena kompor tak boleh menyala, tidak bisa menyalakan lampu atau listrik, jadi bergelap-gelap. Tapi masih merokok, ini adalah pelanggaran pantangan yang banyak dilakukan.

Belajar melaksanakan Amati Geni yang benar adalah bukan sekedar tidak memasak, mematikan lampu dan tidak merokok, tetapi mematikan “api nafsu” dalam diri kita. Sifat amarah (kroda) yang ada dalam diri kita harus dihilangkan.

Amati Lelanguan adalah tidak mencari hiburan. Langu berarti bersenang-senang atau menghibur diri. Pemda Bali meminta televisi tidak siaran di hari Nyepi agar orang Bali tak mencari hiburan lewat televisi. Bahkan Komisi Penyiaran Bali meminta stasiun pemancar televisi di Bali dimatikan. Toh orang masih bisa menangkap siaran televisi lewat parabola atau channel berbayar. Apa itu saja batasan hiburan? Bagaimana kalau ada yang meceki di dalam rumah, apakah itu bukan bersenang-senang dan menghibur diri? Pakai taruhan lagi. Padahal kalau kita mau belajar melaksanakan pantangan dengan baik, kita diharuskan hening dan lakukan pengendalian diri yang kuat agar bisa melakukan introspeksi dalam Tahun Baru Saka ini. Dengan hening dan mengendalikan nafsu, maka segala unsur hiburan yang menggoda harus dilenyapkan dari pikiran.

Amati Lelungan tidak boleh berpergian, harus selalu tetap diam di rumah. Brata ini disikapi umat dengan tidak keluar rumah ke jalanan. Di beberapa desa dan umumnya di perkotaan, ada pecalang yang mengawasi dan melarang orang berjalan-jalan. Jika perlu dikenakan denda. Tetapi kenapa pecalangnya sendiri ada di jalanan, berarti pecalangnya tidak taat dengan pantangan itu. Kalau mau belajar melaksanakan Amati Lelungan dengan baik, latihlah pikiran kita agar tidak senantiasa liar “berjalan-jalan” ke mana-mana. Kata tetua kita, pikiran itu bak kuda liar, sebentar memikirkan ini, sebentar memikirkan itu. Belajarlah konsentrasi agar di hari Nyepi kita bisa merenungi apa perbuatan kita yang salah tahun lalu dan bagaimana harus memperbaiki tahun depan.

Amati Karya tidak boleh bekerja apa pun di hari Nyepi. Kerja yang dimaksudkan adalah kerja yang menghasilkan nafkah secara nyata, berburuh, bertani, memahat, dan sebagainya termasuk juga pekerjaan di kantoran. Nyepi itu adalah kesempatan setahun sekali untuk “merenungi” perjalanan hidup. Dibutuhkan keheningan total agar pikiran kita bersih dalam perenungan itu. Setan atau bhuta kala pun tak ada yang mengganggu karena sudah di-somya (diubah statusnya) dari bhuta menjadi dewa pada saat Tawur Kesanga kemarinnya.

Nah, mampukah kita melaksanakan empat pantangan di hari Nyepi ini? Kalau belum mampu, kita harus terus belajar melaksanakannya. Seharusnya umat Hindu di Bali bisa lebih mudah melaksanakan pantangan ini karena didukung oleh “kekhususan Bali” di mana hanya di Provinsi Bali satu-satunya provinsi yang diizinkan tertutup selama Nyepi. Artinya, Brata Penyepian yang empat itu juga terimbas pada penduduk beragama bukan Hindu yang tinggal di Bali.


Jika dibandingkan dengan hari raya umat lain, sebutlah Islam, di bulan Ramadhan tak ada paksaan untuk berpuasa bagi umat non-Muslim. Paling hiburan malam dibatasi, warung-warung yang buka jangan mencolok, tutupi sedikit jendelanya, tak ada yang dilarang buka. Tetapi di Bali, saat Nyepi umat Muslim juga tak boleh keluar rumah, kalau bukan hari Jumat. Artinya, mereka memberikan kesempatan kepada umat Hindu untuk “belajar” melaksanakan Brata Penyepian. Nah mari kita laksanakan pantangan itu, janganlah umat lain berkorban kita malah bersenang-senang (meceki, main domino, nonton televisi) di rumah masing-masing. Jika kita sudah bisa begitu, mari ucapkan Selamat Melaksanakan Brata Penyepian. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 25 Maret 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar