SUDAH bermunculan baliho di jalan-jalan yang mengucapkan
Selamat Hari Raya Nyepi. Baik dari pejabat maupun politisi yang mau “menjual
diri” untuk kepopulerannya. Selain ucapan yang formal ada yang menyebut “mari
kita laksanakan Catur Brata Penyepian”. Apakah pemilik foto di baliho itu sudah
melaksanakan Catur Brata Penyepian setiap Nyepi? Kalau ternyata tidak,
balihonya hanya bikin kotor alam Bali saja.
Berapa banyakkah umat Hindu di Bali yang betul-betul
melaksanakan Catur Brata itu? Kalau belum mari kita belajar dulu
melaksanakannya.
Catur Brata Penyepian terdiri dari Amati Geni, Amati
Lelanguan, Amati Lelungan dan Amati Karya. Amati Geni umumnya dimaknai sebagai
tidak menyalakan api. Kalau kita maknai secara istilah dan kata, pantangan itu
cukup dilaksanakan dengan tidak menyalakan api. Jadi tidak bisa memasak karena
kompor tak boleh menyala, tidak bisa menyalakan lampu atau listrik, jadi
bergelap-gelap. Tapi masih merokok, ini adalah pelanggaran pantangan yang banyak
dilakukan.
Belajar melaksanakan Amati Geni yang benar adalah bukan
sekedar tidak memasak, mematikan lampu dan tidak merokok, tetapi mematikan “api
nafsu” dalam diri kita. Sifat amarah (kroda)
yang ada dalam diri kita harus dihilangkan.
Amati Lelanguan adalah tidak mencari hiburan. Langu berarti bersenang-senang atau
menghibur diri. Pemda Bali meminta televisi tidak siaran di hari Nyepi agar
orang Bali tak mencari hiburan lewat televisi. Bahkan Komisi Penyiaran Bali
meminta stasiun pemancar televisi di Bali dimatikan. Toh orang masih bisa
menangkap siaran televisi lewat parabola atau channel berbayar. Apa itu saja batasan hiburan? Bagaimana kalau
ada yang meceki di dalam rumah, apakah itu bukan bersenang-senang dan menghibur
diri? Pakai taruhan lagi. Padahal kalau kita mau belajar melaksanakan pantangan
dengan baik, kita diharuskan hening dan lakukan pengendalian diri yang kuat
agar bisa melakukan introspeksi dalam Tahun Baru Saka ini. Dengan hening dan
mengendalikan nafsu, maka segala unsur hiburan yang menggoda harus dilenyapkan
dari pikiran.
Amati Lelungan tidak boleh berpergian, harus selalu tetap
diam di rumah. Brata ini disikapi umat dengan tidak keluar rumah ke jalanan. Di
beberapa desa dan umumnya di perkotaan, ada pecalang yang mengawasi dan
melarang orang berjalan-jalan. Jika perlu dikenakan denda. Tetapi kenapa
pecalangnya sendiri ada di jalanan, berarti pecalangnya tidak taat dengan
pantangan itu. Kalau mau belajar melaksanakan Amati Lelungan dengan baik,
latihlah pikiran kita agar tidak senantiasa liar “berjalan-jalan” ke mana-mana.
Kata tetua kita, pikiran itu bak kuda liar, sebentar memikirkan ini, sebentar memikirkan
itu. Belajarlah konsentrasi agar di hari Nyepi kita bisa merenungi apa
perbuatan kita yang salah tahun lalu dan bagaimana harus memperbaiki tahun
depan.
Amati Karya tidak boleh bekerja apa pun di hari Nyepi.
Kerja yang dimaksudkan adalah kerja yang menghasilkan nafkah secara nyata,
berburuh, bertani, memahat, dan sebagainya termasuk juga pekerjaan di kantoran.
Nyepi itu adalah kesempatan setahun sekali untuk “merenungi” perjalanan hidup.
Dibutuhkan keheningan total agar pikiran kita bersih dalam perenungan itu.
Setan atau bhuta kala pun tak ada
yang mengganggu karena sudah di-somya
(diubah statusnya) dari bhuta menjadi
dewa pada saat Tawur Kesanga kemarinnya.
Nah, mampukah kita melaksanakan empat pantangan di hari
Nyepi ini? Kalau belum mampu, kita harus terus belajar melaksanakannya.
Seharusnya umat Hindu di Bali bisa lebih mudah melaksanakan pantangan ini
karena didukung oleh “kekhususan Bali” di mana hanya di Provinsi Bali
satu-satunya provinsi yang diizinkan tertutup selama Nyepi. Artinya, Brata
Penyepian yang empat itu juga terimbas pada penduduk beragama bukan Hindu yang
tinggal di Bali.
Jika dibandingkan dengan hari raya umat lain, sebutlah
Islam, di bulan Ramadhan tak ada paksaan untuk berpuasa bagi umat non-Muslim.
Paling hiburan malam dibatasi, warung-warung yang buka jangan mencolok, tutupi
sedikit jendelanya, tak ada yang dilarang buka. Tetapi di Bali, saat Nyepi umat
Muslim juga tak boleh keluar rumah, kalau bukan hari Jumat. Artinya, mereka
memberikan kesempatan kepada umat Hindu untuk “belajar” melaksanakan Brata
Penyepian. Nah mari kita laksanakan pantangan itu, janganlah umat lain
berkorban kita malah bersenang-senang (meceki, main domino, nonton televisi) di
rumah masing-masing. Jika kita sudah bisa begitu, mari ucapkan Selamat
Melaksanakan Brata Penyepian.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 25 Maret 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar