ADA yang menawarkan produk air dalam
kemasan produksi Bali. Sudah banyak air kemasan produksi lokal karena teknik
air kemasan itu mudah untuk dipelajari dan dipraktekkan. Namun yang menarik
dalam tawaran produk ini adalah disebutkan air kemasan itu sudah di-pasupati.
Sebelumnya sudah
banyak produk lokal yang dijual dengan embel-embel sudah di-pasupati. Yang paling banyak adalah dupa
dari berbagai merek. Bahkan bungkus dupa pun penuh berisi doa, ada doa untuk
Siwa, Ganesha (Ganapati), Saraswati bahkan ada doa Puja Trisandhya yang
lengkap. Kemudian berbagai aksesoris lainnya, seperti gelang termasuk gelang
benang tridatu, kalung, japamala dan ada juga minyak urut yang semuanya sudah
di-pasupati. Apakah benda-benda itu
secara otomatis menjadi lebih berkhasiat untuk dipakai? Semuanya tergantung
pada pribadi masing-masing, karena masalah ini terkait dengan keyakinan. Kalau
seseorang itu sudah sangat yakin, tentu saja persoalan jadi lain.
Apa yang dimaksud dengan di-pasupati itu? Pasupati sebenarnya sebuah kata yang berada dalam wilayah sakral. Pasupati
juga sering disebut pasupata berasal dari kata pasu dan pati
atau pata. Pasu berarti ikatan sedangkan pata atau pati
berarti memberi kehidupan. Jadi pasupati adalah ikatan atau benda
yang akan bisa memberi kehidupan karena benda itu akan “dihidupkan”. Secara gampangnya
dapat dikatakan semua benda yang di-pasupati akan dihidupkan atau diberi
kehidupan atau diberikan kekuatan magis sehingga benda itu menjadi bertuah dan
ada dalam wilayah sakral. Tentu orang yang melaksanakan ritual pasupati adalah
orang yang memiliki jnana yang cukup, misalnya, pemangku dan sulinggih.
Syarat lain adalah ada sarana yang digunakan sesuai dengan sastra yang ada,
apakah itu berupa banten maupun serangkaian doa.
Sarana dan siapa yang melaksanakan
ritual pasupati punya pengaruh
terhadap benda atau ikatan obyek yang akan di-pasupati. Tempat juga mempengaruhi apakah itu di sebuah pura yang
besar atau di tempat-tempat hening yang oleh masyarakat umum disebut keramat.
Pemilihan sarana, tempat dan yang melaksanakan ritual pasupati itu juga memperhitungkan benda atau obyek apa yang akan
di-pasupati. Apakah itu pratima di sebuah pura, apa kesenian
sakral seperti barong, rangda dan sebagainya.
Secara tradisi turun-temurun dalam
masyarakat di Bali, semua benda yang dikaitkan dengan sarana ritual harus di-pasupati. Bukan saja benda sakral yang
umum seperti barong, rangda, pratima,
rerajahan, juga peralatan upacara. Bahkan bagi seorang pemangku atau
sulinggih dalam melaksanakan ritual yadnya, semua peralatan di-pasupati. Ini dimaksudkan agar
benda-benda yang akan menjadi sarana ritual itu suci dan “dihidupkan rohnya”
sesuai dengan kegunaannya. Yang membedakan adalah doa-doa untuk pasupati itu. Ada yang sederhana dan ada
yang panjang sesuai dengan tujuannya. Karena pada hakekatnya pasupati juga bertujuan untuk
menstanakan sinar suci Brahman (Tuhan) ke dalam benda yang dimaksudkan sehingga
punya pancaran yang sesuai dengan harapan.
Karena itu pun doa untuk ritual pasupati bisa berjenjang. Ada yang
disebut Eka Pasupati Stawa lalu Tri Pasupati Stawa, meningkat lagi ada Panca
Pasupati Stawa, kemudian ada Pasupati Dewa Stawa. Masih banyak yang lain
tergantung jenis bendanya. Atau ada yang sangat umum dan pendek saja cukup
dengan doa: Om rah pat astra ya naman, Om
sri pasupata ye ung pat.
Kembali kepada benda-benda atau
produk-produk komersial yang berisi embel-embel sudah di-pasupati seperti
dupa, gelang, juga air kemasan. Pada saat proses apa benda komersial itu di-pasupati? Dupa, misalnya, apakah ketika
bahan rempahnya sedang dijemur, atau pada saat akan membungkus? Air kemasan itu
apakah di-pasupati pada saat
pengolahan menjadi air jernih layak minum atau pada saat dimasukkan kardus?
Kita tak pernah mendapatkan informasi yang jelas.
Bahkan muncul
pertanyaan, apakah produk tersebut benar-benar sudah di-pasupati?
Tidakkah ini hanya teknik promosi? Semuanya bisa saja terjadi. Namun marilah
kita berpikir positif, bisa jadi semuanya itu dilakukan dengan benar dan maksud
baik agar produk yang dijual lebih “diberkati Hyang Widhi”. Tetapi jangan
sebaliknya, dengan adanya produk yang diembeli kata di-pasupati kita menjadi curiga dan memandang rendah produk yang tidak ada embel-embel di-pasupati. Kita jangan terjebak pada label, lihat kebersihan air
minum itu atau kalau membeli dupa lihat asapnya, apakah membuat kita sesak atau
nyaman.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 25 Februaru 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar