25 Februari 2017

Pasupati Untuk Barang Dagangan

ADA yang menawarkan produk air dalam kemasan produksi Bali. Sudah banyak air kemasan produksi lokal karena teknik air kemasan itu mudah untuk dipelajari dan dipraktekkan. Namun yang menarik dalam tawaran produk ini adalah disebutkan air kemasan itu sudah di-pasupati.

 Sebelumnya sudah banyak produk lokal yang dijual dengan embel-embel sudah di-pasupati. Yang paling banyak adalah dupa dari berbagai merek. Bahkan bungkus dupa pun penuh berisi doa, ada doa untuk Siwa, Ganesha (Ganapati), Saraswati bahkan ada doa Puja Trisandhya yang lengkap. Kemudian berbagai aksesoris lainnya, seperti gelang termasuk gelang benang tridatu, kalung, japamala dan ada juga minyak urut yang semuanya sudah di-pasupati. Apakah benda-benda itu secara otomatis menjadi lebih berkhasiat untuk dipakai? Semuanya tergantung pada pribadi masing-masing, karena masalah ini terkait dengan keyakinan. Kalau seseorang itu sudah sangat yakin, tentu saja persoalan jadi lain.

Apa yang dimaksud dengan di-pasupati itu? Pasupati sebenarnya sebuah kata yang berada dalam wilayah sakral. Pa­supati juga sering disebut pasupata berasal dari kata pasu dan pati atau pata. Pasu berarti ikatan sedangkan pata atau pati berarti memberi kehidupan. Jadi pasupati adalah ikatan atau benda yang akan bisa memberi kehidupan karena benda itu akan “dihidupkan”. Secara gampangnya dapat dikatakan semua benda yang di-pasupati akan dihidupkan atau diberi kehidupan atau diberikan kekuatan magis sehingga benda itu menjadi bertuah dan ada dalam wilayah sakral. Tentu orang yang  melaksanakan ritual pasupati adalah orang yang memiliki jnana yang cukup, misalnya, pemangku dan sulinggih. Syarat lain adalah ada sarana yang digunakan sesuai dengan sastra yang ada, apakah itu berupa banten maupun serangkaian doa.


Sarana dan siapa yang melaksanakan ritual pasupati punya pengaruh terhadap benda atau ikatan obyek yang akan di-pasupati. Tempat juga mempengaruhi apakah itu di sebuah pura yang besar atau di tempat-tempat hening yang oleh masyarakat umum disebut keramat. Pemilihan sarana, tempat dan yang melaksanakan ritual pasupati itu juga memperhitungkan benda atau obyek apa yang akan di-pasupati. Apakah itu pratima di sebuah pura, apa kesenian sakral seperti barong, rangda dan sebagainya.

Secara tradisi turun-temurun dalam masyarakat di Bali, semua benda yang dikaitkan dengan sarana ritual harus di-pasupati. Bukan saja benda sakral yang umum seperti barong, rangda, pratima, rerajahan, juga peralatan upacara. Bahkan bagi seorang pemangku atau sulinggih dalam melaksanakan ritual yadnya, semua peralatan di-pasupati. Ini dimaksudkan agar benda-benda yang akan menjadi sarana ritual itu suci dan “dihidupkan rohnya” sesuai dengan kegunaannya. Yang membedakan adalah doa-doa untuk pasupati itu. Ada yang sederhana dan ada yang panjang sesuai dengan tujuannya. Karena pada hakekatnya pasupati juga bertujuan untuk menstanakan sinar suci Brahman (Tuhan) ke dalam benda yang dimaksudkan sehingga punya pancaran yang sesuai dengan harapan.

Karena itu pun doa untuk ritual pasupati bisa berjenjang. Ada yang disebut Eka Pasupati Stawa lalu Tri Pasupati Stawa, meningkat lagi ada Panca Pasupati Stawa, kemudian ada Pasupati Dewa Stawa. Masih banyak yang lain tergantung jenis bendanya. Atau ada yang sangat umum dan pendek saja cukup dengan doa: Om rah pat astra ya naman, Om sri pasupata ye ung pat.

Kembali kepada benda-benda atau produk-produk komersial yang berisi embel-embel sudah di-pasupati seperti dupa, gelang, juga air kemasan. Pada saat proses apa benda komersial itu di-pasupati? Dupa, misalnya, apakah ketika bahan rempahnya sedang dijemur, atau pada saat akan membungkus? Air kemasan itu apakah di-pasupati pada saat pengolahan menjadi air jernih layak minum atau pada saat dimasukkan kardus? Kita tak pernah mendapatkan informasi yang jelas.


Bahkan muncul pertanyaan, apakah produk tersebut benar-benar sudah di-pasupati? Tidakkah ini hanya teknik promosi? Semuanya bisa saja terjadi. Namun marilah kita berpikir positif, bisa jadi semuanya itu dilakukan dengan benar dan maksud baik agar produk yang dijual lebih “diberkati Hyang Widhi”. Tetapi jangan sebaliknya, dengan adanya produk yang diembeli kata di-pasupati kita menjadi curiga dan memandang rendah produk yang  tidak ada embel-embel di-pasupati. Kita jangan terjebak pada label, lihat kebersihan air minum itu atau kalau membeli dupa lihat asapnya, apakah membuat kita sesak atau nyaman. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 25 Februaru 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar