KALI
Yuga selalu dijadikan dalih pertanda nilai moral
terjungkir balik. Ada tokoh agama yang menghuni penjara karena korupsi, ada
ulama yang berselingkuh dan memvideokan gambar-gambar syurnya, ada tokoh yang
selalu memprovokasi dengan ujaran kebencian. Bahkan mantan presiden pun ikut
menulis status aneh-aneh di media sosial. Sudah tak jelas lagi mana berita yang
benar dan mana berita hoax.
Tapi,
kenapa baru sekarang menghubungkan keburukan ini dengan
Kali Yuga? Bukankah
Kali Yuga itu sudah berlangsung berabad-abad yang lalu? Bukankah tak pernah jelas dalam sejarah agama, kapan sesungguhnya Kali Yuga
itu dimulai dan bahkan secara keseluruhan kapan sesungguhnya pergantian yuga
(zaman) itu dimulai. Ada empat yuga yakni Kali Yuga, Dwapara Yuga, Treta Yuga
dan Satya Yuga.
Ada yang menyebutkan Kali Yuga itu dimulai pada saat Sri
Kresna meninggal dunia, yakni tengah malam pada 18 Februari 3102 Sebelum
Masehi. Lalu ada keyakinan yang menyebutkan Kali Yuga ini berlangsung selama
432.000 tahun. Kalau hitungan ini
dipakai maka masih ribuan tahun Kali Yuga itu berlangsung. Jika disebutkan ciri
Kaliyuga itu adalah merosotnya dharma dan turunnya moralitas umat, kenapa
pernah terjadi zaman keemasan di era Majapahit? Lalu kapan pernah ada zaman
Satya Yuga dan seterusnya kalau Kali Yuga itu sudah terjadi di era zaman purba?
Dari pada pusing memikirkan awal dan akhir Kali Yuga lebih baik kita
berpikir praktis, bahwa dalam kehidupan ini kita sebenarnya mengalami ke empat
yuga itu, tergantung apa yang kita perbuat. Dan pergantian yuga dalam kehidupan
pribadi kita sebenarnya bisa saja terjadi setiap saat. Yang perlu dilakukan
adalah bagaimana
kita menghindar dari klimak keburukan itu.
Sesuatu yang sulit, tetapi bukan suatu hal yang tak bisa kita hindari. Salah
satu cara adalah menegakkan nilai-nilai moral.
Tak usah bicara terlalu tinggi, sok keren untuk aksi-aksian, yang tidak
mampu kita wujudkan. Misalnya dengan mengumbar slogan menegakkan nilai
moral bangsa. Kita bukan presiden, bukan menteri, bukan
gubernur, bupati, atau pemimpin umat. Kalau itu bisa kita lakukan dan posisi
kita memang di situ, ya, tentu saja baik.
Yang lebih penting saat ini (apakah itu dikaitkan Kali Yuga atau tidak)
adalah
menegakkan nilai moral dari lingkungan yang terkecil, yakni keluarga. Tentu dimulai dari moral kita sendiri yang harus lebih dulu baik. Lalu
sebagai orangtua
kita harus bisa menanamkan moral yang baik
kepada anak-anak. Nah, kalau moral dalam keluarga baik, dan banyak
orang melakukan hal itu, maka lingkungan yang lebih luas akan baik pula
moralnya. Demikian seterusnya melebar ke mana-mana, moral bangsa
pun jadi lebih baik. Semua berawal dari lingkungan yang terkecil.
Sekarang orang biasa pamer kemewahan, pamer kekayaan dan segala kecongkakan lainnya tanpa
diimbangi pamer moral. Seorang ibu membanggakan
anaknya: “Anakku pinter sekali, matematika dapat nilai sepuluh, selalu ranking
satu di kelasnya.” Tetapi apakah anaknya dibekali nilai moral yang baik?
Sang anak membuang sampah seenaknya di dalam rumah. Makan sembarangan, kadang
sambil bermain games
di tabletnya atau cari hiburan di YouTube. Lalu berteriak-teriak memanggil
pembantu rumah tangganya, minta ini minta itu. Tidak ada
kesopanan apapun yang ditanamkan kepada anak itu. Sang ibu juga tak ambil
pusing, toh ada pembantu yang akan membereskan kebersihan rumah. Dan anak pun sudah dimanjakan dengan handphone
atau tablet yang canggih.
Anak seperti ini kelak bisa tumbuh sebagai orang yang
tidak peduli terhadap lingkungan sosial. Dia mungkin tetap
pinter, tetapi bisa menjadi koruptor kalau dia menjabat,
karena sejak kecil diperkenalkan dengan budaya mewah dan gampang cari uang. Atau
menjadi pemimpin yang hanya bisa memerintah, karena sejak kecil memerintah
pembantu rumah tangga keluarganya. Akan tumpul nuraninya karena tidak pernah
menghargai setiap proses kehidupan. Kalau ada konflik akan
dihadapi dengan kekerasan, karena tidak terbiasa berdialog.
Jadilah
penjaga moral dalam lingkungan terkecil, mulai
dari keluarga, meningkat ke lingkungan banjar, lalu ke desa, dan diteruskan ke
lingkungan organisasi atau pemerintahan. Sekarang ini banyak pemimpin yang suka
berceramah tentang moral, banyak agamawan yang memberi dharma wacana, tetapi
mereka belum tentu menjadi penjaga moral,
karena prilaku dalam keseharian sangat menyimpang dari apa yang mereka
ceramahkan. Ini ciri buruk manusia entah di era Kali
Yuga atau era-era lainnya. (*)
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 11 Februari 2017)
Foto ilustrasi: Ritual Agni Hotra di Pasraman Manikgeni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar