11 Februari 2017

Jangan Berdalih Kali Yuga

KALI Yuga selalu dijadikan dalih pertanda nilai moral terjungkir balik. Ada tokoh agama yang menghuni penjara karena korupsi, ada ulama yang berselingkuh dan memvideokan gambar-gambar syurnya, ada tokoh yang selalu memprovokasi dengan ujaran kebencian. Bahkan mantan presiden pun ikut menulis status aneh-aneh di media sosial. Sudah tak jelas lagi mana berita yang benar dan mana berita hoax.
 
Tapi, kenapa baru sekarang menghubungkan keburukan ini dengan Kali Yuga? Bukankah Kali Yuga itu sudah berlangsung berabad-abad yang lalu? Bukankah tak pernah jelas dalam sejarah agama, kapan sesungguhnya Kali Yuga itu dimulai dan bahkan secara keseluruhan kapan sesungguhnya pergantian yuga (zaman) itu dimulai. Ada empat yuga yakni Kali Yuga, Dwapara Yuga, Treta Yuga dan Satya Yuga.

Ada yang menyebutkan Kali Yuga itu dimulai pada saat Sri Kresna meninggal dunia, yakni tengah malam pada 18 Februari 3102 Sebelum Masehi. Lalu ada keyakinan yang menyebutkan Kali Yuga ini berlangsung selama 432.000  tahun. Kalau hitungan ini dipakai maka masih ribuan tahun Kali Yuga itu berlangsung. Jika disebutkan ciri Kaliyuga itu adalah merosotnya dharma dan turunnya moralitas umat, kenapa pernah terjadi zaman keemasan di era Majapahit? Lalu kapan pernah ada zaman Satya Yuga dan seterusnya kalau Kali Yuga itu sudah terjadi di era zaman purba?


Dari pada pusing memikirkan awal dan akhir Kali Yuga lebih baik kita berpikir praktis, bahwa dalam kehidupan ini kita sebenarnya mengalami ke empat yuga itu, tergantung apa yang kita perbuat. Dan pergantian yuga dalam kehidupan pribadi kita sebenarnya bisa saja terjadi setiap saat. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita menghindar dari klimak keburukan itu. Sesuatu yang sulit, tetapi bukan suatu hal yang tak bisa kita hindari. Salah satu cara adalah menegakkan nilai-nilai moral.

Tak usah bicara terlalu tinggi, sok keren untuk aksi-aksian, yang tidak mampu kita wujudkan. Misalnya dengan mengumbar slogan menegakkan nilai moral bangsa. Kita bukan presiden, bukan menteri, bukan gubernur, bupati, atau pemimpin umat. Kalau itu bisa kita lakukan dan posisi kita memang di situ, ya, tentu saja baik.

Yang lebih penting saat ini (apakah itu dikaitkan Kali Yuga atau tidak) adalah menegakkan nilai moral dari lingkungan yang terkecil, yakni keluarga. Tentu dimulai dari moral kita sendiri yang harus lebih dulu baik. Lalu sebagai orangtua kita harus bisa menanamkan moral yang baik kepada anak-anak. Nah, kalau moral dalam keluarga baik, dan banyak orang melakukan hal itu, maka lingkungan yang lebih luas akan baik pula moralnya. Demikian seterusnya melebar ke mana-mana, moral bangsa pun jadi lebih baik. Semua berawal dari lingkungan yang terkecil.

Sekarang orang biasa pamer kemewahan, pamer kekayaan dan segala kecongkakan lainnya tanpa diim­bangi pamer moral. Seorang ibu membanggakan anaknya: “Anakku pinter sekali, matematika dapat nilai sepuluh, selalu ranking satu di kelasnya.” Tetapi apakah anaknya dibekali nilai moral yang baik? Sang anak membuang sampah seenaknya di dalam rumah. Makan sembarangan, kadang sambil bermain games di tabletnya atau cari hiburan di YouTube. Lalu berteriak-teriak memanggil pembantu rumah tangganya, minta ini minta itu. Tidak ada kesopanan apapun yang ditanamkan kepada anak itu. Sang ibu juga tak ambil pusing, toh ada pembantu yang akan membereskan kebersihan rumah. Dan anak pun sudah dimanjakan dengan handphone atau tablet yang canggih.

Anak seperti ini kelak bisa tumbuh sebagai orang yang tidak peduli terhadap lingkungan sosial. Dia mungkin te­­tap pinter, tetapi bisa menjadi koruptor kalau dia men­jabat, karena sejak kecil diperkenalkan dengan budaya mewah dan gampang cari uang. Atau menjadi pemimpin yang hanya bisa me­merintah, karena sejak kecil memerintah pembantu rumah tangga keluarganya. Akan tumpul nuraninya karena tidak pernah menghar­gai setiap proses kehidupan. Kalau ada konflik akan dihadapi dengan kekerasan, karena tidak terbiasa berdialog.

Jadilah penjaga moral dalam lingkungan terkecil, mulai dari keluarga, meningkat ke lingkungan banjar, lalu ke desa, dan diteruskan ke lingkungan organisasi atau pemerintahan. Sekarang ini banyak pemimpin yang suka berce­ramah tentang moral, banyak agamawan yang memberi dharma wacana, tetapi mereka belum tentu menjadi penjaga moral, karena prilaku dalam keseharian sangat menyimpang dari apa yang mereka ceramahkan. Ini ciri buruk manusia entah di era Kali Yuga atau era-era lainnya. (*)

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 11 Februari 2017)
Foto ilustrasi: Ritual Agni Hotra di Pasraman Manikgeni

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar