18 Desember 2016

Bekerjalah Secara Profesional



Sreyan sva-dharmo vigunah, para-dharmat sva-nusthitat, sva-dharme nidhanam sreyah, para-dharma bhayavahah.

SLOKA di atas diambil dari Bhagawad Gita III. 35. Terjemahan bebasnya: “Lebih baik mengerjakan kewajiban atau pekerjaan (swadharma) seseorang, walau pun mengerjakannya kurang sempurna, daripada melakukan kewajiban orang lain, walau pun pelaksanaannya sempurna. Lebih baik mati dalam mengerjakan kewajiban seseorang. Mengerjakan kewajiban orang lain itu penuh dengan mara-bahaya.

Pekerjaan seseorang artinya pekerjaan kita sendiri, pekerjaan pokok yang menghasilkan nafkah untuk kehidupan kita dan keluarga. Karena memberikan penghasilan, tentu pekerjaan itu adalah wajib dikerjakan meski pun mengalami berbagai kendala pada saat mengerjakan dan mungkin pula hasilnya tidak sempurna. Adalah sangat berbahaya mengerjakan pekerjaan orang lain yang tidak kita kuasai dan tidak kita pahami bagaimana cara mengerjakannya. Kalau pun itu kita paksakan juga sangatlah tidak menguntungkan karena pemaksaan dalam menjalankan swadharma tidak baik. Seorang petani akan sangat berbahaya kalau secara tiba-tiba mengerjakan pekerjaan sebagai nelayan di laut lepas. Ia bisa digulung gelombang. Demikian halnya nelayan akan tak menguasai medan jika melakukan pekerjaan sebagai pemburu di hutan. Seorang brahmana pun akan tak berhasil melaksanakan tugas sebagai waisya atau pun kesatria.

Lewat ajaran Bhagawad Gita ini umat Hindu diperkenalkan sistem kerja yang bersifat profesional. Bekerja harus sesuai dengan profesinya. Banyak hal yang kini rancu. Seorang guru yang menempuh pendidikan formal bertahun-tahun malah bekerja di pabrik es, misalnya. Sarjana ekonomi bekerja di bagian percetakan. Ini tentu bukan kehendaknya, tetapi karena dipaksa oleh keadaan. Lowongan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya sulit ada sementara kebutuhan hidup tak bisa ditunda-tunda. Ini adalah cermin masyarakat yang tidak normal sebagaimana yang tersurat dalam sloka Bhagawad Gita itu.

Adakah pengaruh gengsi atau jenis pekerjaan itu ada tingkat-tingkatnya yang sifatnya bisa menaikkan atau menurunkan status sosial? Kalau dilihat secara kasat mata, tentu hal itu ada. Gengsi seorang tukang sapu di jalanan biasanya dianggap paling rendah dibandingkan mereka yang bekerja di kantoran. Pedagang kaki lima status sosialnya dianggap lebih rendah dibandingkan pedagang yang menyewa apalagi memiliki ruko. Tetapi semua itu tidak ada masalah bagi Tuhan Yang Maha Esa dan kalau misalnya mereka itu bergabung dalam doa, tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Tinggi-rendahnya nilai suatu pekerjaan atau kewajiban dalam menjalankan swadharma, semuanya sama di hadapan Tuhan. Pekerjaan itu adalah cara menjalankan kewajiban kita masing-masing, dan jika kewajiban sudah dijalankan dengan baik di situ kepuasan batin kita dapatkan. Seorang tukang sepatu membuat sepatu yang baik, penyapu jalanan membersihkan kota dengan baik, dan pekerjaan seorang pendeta mengarahkan umatnya dengan penuh dedikasi untuk mempelajari sastra agama selain melaksanakan ritual untuk membantu umat. Jika semua orang bekerja dengan baik sesuai dengan kewajiban secara profesional tanpa menyerobot pekerjaan orang lain yang belum tentu dia kuasai, maka semuanya akan stabil dan harmonis dalam kehidupan ini. Inilah jagat yang normal.

Tak sepatutnya kita mencela dan memandang remeh pekerjaan orang lain. Kalau penyapu jalanan mogok kerja maka sampah terhambur di setiap sudut kota atau menumpuk di tempat pembuangan sementara. Kota menjadi bau dan tidak nyaman, penyakit pun bisa datang. Kalau pekerja di level bawah di sebuah kantor, sebut misalnya pesuruh, mogok kerja, bagaimana seorang manager bisa bekerja dengan nyaman? Siapa yang membawakan dia minuman untuk tamu-tamu, misalnya?

Hormati setiap pekerjaan yang ada, dan jadikan jenis pekerjaan yang digeluti sebagai kewajiban dalam menjalankan dharma. Rejeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, kecil diperoleh pengeluaran pun bisa kecil, besar di dapat pengeluaran bisa besar, apalagi kalau ditambah dengan sifat pelit tak pernah berdana-punia. Seorang buruh di pasar sakit kepala cukup sembuh dengan setetes minyak angin, orang kaya di gedongan mungkin tak sembuh dengan obat yang mahal jika sakit kepala. Laksanakan pekerjaan itu dengan penuh rasa ikhlas, itulah inti ajaran Bhagawad Gita ini. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 17 Desember 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar