PILKADA
serentak dilangsungkan bulan Februari tahun depan. Tahapannya sudah dimulai
dengan kampanye pada hari ini. Ada 101 daerah yang mengikuti Pilkada. Ada yang
memilih Gubernur, Bupati dan Walikota. Bali kebagian satu Pilkada yakni
pemilihan Bupati Buleleng, mungkin dengan calon tunggal.
Sudah
banyak syarat-syarat kepemimpinan menurut Hindu yang dibicarakan dalam kolom
ini. Dari Asta Brata, Sad Warnaning Kerthi dan berbagai nasehat yang diambil
dari kitab Ithiasa. Hindu teramat kaya dengan ajaran yang menyangkut
kepemimpinan. Kali ini kita membahas Sad Upaya Guna. Penekanan dalam ajaran ini
adalah bagaimana pemimpin itu harusnya punya jiwa bersahabat untuk semua orang.
Persahabatan yang dijalin seorang pemimpin adalah hal yang mutlak. Tak bisa
pemimpin bekerja dengan mencari musuh yang akan mengganggu tugas-tugasnya.
Lawan politik pun harus dirangkul menjadi sahabat setelah pemimpin itu
memenangkan Pilkada.
Sad
Upaya Guna sebagaimana namanya terdiri dari enam hal. Pertama adalah Siddhi. Artinya seorang pemimpin harus
mempunyai kemampuan yang prima dalam menjalin persahabatan. Dalam kaitan dengan
Pilkada ini bisa diberikan contoh agar di masa kampanye pemimpin itu tidak
menyerang lawan politiknya sebagai musuh. Ia harus tetap memperlakukan lawan
politiknya sebagai sahabat. Karena itu serang-menyerang haruslah dalam kerangka
program, missi dan visi. Bukan serangan secara pribadi yang nantinya akan
membuat luka lama setelah pilkada selesai.
Yang
kedua adalah Wigrha. Yang dimaksudkan adalah kemampuan seorang
pemimpin dalam memisahkan permasalahan atau persoalan serta dapat mempertahankan hubungan baik
dengan lawannya. Kalau berdebat soal anggaran, misalnya, pisahkan itu dari hal-hal
lain seperti siapa yang mengucurkan anggaran, siapa yang menerima anggaran,
apakah anggaran itu diselewengkan atau aman-aman saja. Fokuslah pada masalah
anggaran saja dulu, untuk apa anggaran itu. Bahwa nanti setelah urusan itu
selesai, barulah persoalan lain dibicarakan.
Yang
ketiga Wibawa. Ini sudah terang
benderang artinya, seorang pemimpin harus punya kewibawaan yang tinggi. Banyak
terjadi seorang pemimpin punya kewibawaan bagus, tak pernah melakukan tindakan
yang tercela. Hidupnya lurus-lurus saja. Tetapi karena tidak pandai mencari
sahabat dalam membantunya kampanye, pemimpin itu justru terperosok pada
tindakan yang tidak terpuji. Wibawanya langsung turun drastis karena tim
suksesnya berprilaku tidak baik. Menjaga kewibawaan ini sangatlah penting karena
itu dalam mencari sahabat harus diseleksi apakah sahabat itu – dalam kaitan
dengan Pilkada ini bisa disebut tim sukses – akan memperkuat wibawanya atau
justru akan menggerogotinya.
Yang
keempat adalah Winarya. Artinya
mempunyai kecakapan memimpin. Nah di sini menjadi bagian yang penting, cerdas
dengan ilmu pengetahuan belum tentu cakap dalam memimpin. Memimpin membutuhkan
seni kepemimpinan tak bisa berpegang pada teori-teori yang dipelajari dari buku
saja.
Yang
kelima adalah Gascarya. Pemimpin itu harus
mampu menghadapi tantangan dari pihak lawan yang bisa jadi lebih kuat. Di sini
ditekankan bahwa pemimpin itu harus percaya diri untuk mengalahkan
lawan-lawannya. Tanpa ada kepercayaan pada diri sendiri maka pemimpin itu bisa
disebutkan kalah sebelum bertanding. Ini hanya membuang energi saja, juga
membuang biaya. Kalau sudah berani maju dan siap untuk bertempur dengan
cara-cara yang sehat, kalah dan menang itu tidak menjadi persoalan.
Yang keenam atau terakhir adalah Stanha.
Artinya dapat mempertahankan hubungan yang baik. Ini adalah puncaknya. Betapa
pun seru dan hebatnya pertarungan selama Pilkada, siapa pun yang menang dan
kalah harus tetap berhubungan dengan baik. Ini yang seringkali di lupakan di
negeri ini. Kita tahu selesai pemilihan presiden yang lalu, calon presiden yang
kalah dan yang menang hubungan baiknya bisa putus. Megawati Soekarno Putri tak
pernah lagi berhubungan dengan Susilo Bambang Yudhoyono selesai dalam
pertarungan presiden tahun 2004. Begitu pula Joko Widodo dengan Prabowo Subianto
hubungannya tak lagi mesra setelah pemilihan presiden 2014. Kalau pemimpin
sudah memberi contoh tak baik, langsung renggang setelah pemilihan, bagaimana
pula dengan pendukungnya. Pasti ikut-ikutan meniru.
Pemimpin menurut ajaran Hindu ini haruslah bijaksana
termasuk bijak dalam merekat persahabatan dan tidak pernah mengorbankan
persahabatan demi kekuasaan. Sesuatu yang mulai luntur di negeri ini.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 29 Oktober 2016))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar