30 Oktober 2016

Sad Upaya Guna untuk Pemimpin

PILKADA serentak dilangsungkan bulan Februari tahun depan. Tahapannya sudah dimulai dengan kampanye pada hari ini. Ada 101 daerah yang mengikuti Pilkada. Ada yang memilih Gubernur, Bupati dan Walikota. Bali kebagian satu Pilkada yakni pemilihan Bupati Buleleng, mungkin dengan calon tunggal.
 
Sudah banyak syarat-syarat kepemimpinan menurut Hindu yang dibicarakan dalam kolom ini. Dari Asta Brata, Sad Warnaning Kerthi dan berbagai nasehat yang diambil dari kitab Ithiasa. Hindu teramat kaya dengan ajaran yang menyangkut kepemimpinan. Kali ini kita membahas Sad Upaya Guna. Penekanan dalam ajaran ini adalah bagaimana pemimpin itu harusnya punya jiwa bersahabat untuk semua orang. Persahabatan yang dijalin seorang pemimpin adalah hal yang mutlak. Tak bisa pemimpin bekerja dengan mencari musuh yang akan mengganggu tugas-tugasnya. Lawan politik pun harus dirangkul menjadi sahabat setelah pemimpin itu memenangkan Pilkada.


Sad Upaya Guna sebagaimana namanya terdiri dari enam hal. Pertama adalah Siddhi. Artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan yang prima dalam menjalin persahabatan. Dalam kaitan dengan Pilkada ini bisa diberikan contoh agar di masa kampanye pemimpin itu tidak menyerang lawan politiknya sebagai musuh. Ia harus tetap memperlakukan lawan politiknya sebagai sahabat. Karena itu serang-menyerang haruslah dalam kerangka program, missi dan visi. Bukan serangan secara pribadi yang nantinya akan membuat luka lama setelah pilkada selesai.

Yang kedua adalah Wigrha.  Yang dimaksudkan adalah kemampuan seorang pemimpin dalam memisahkan permasalahan atau persoalan  serta dapat mempertahankan hubungan baik dengan lawannya. Kalau berdebat soal anggaran, misalnya, pisahkan itu dari hal-hal lain seperti siapa yang mengucurkan anggaran, siapa yang menerima anggaran, apakah anggaran itu diselewengkan atau aman-aman saja. Fokuslah pada masalah anggaran saja dulu, untuk apa anggaran itu. Bahwa nanti setelah urusan itu selesai, barulah persoalan lain dibicarakan.

Yang ketiga Wibawa. Ini sudah terang benderang artinya, seorang pemimpin harus punya kewibawaan yang tinggi. Banyak terjadi seorang pemimpin punya kewibawaan bagus, tak pernah melakukan tindakan yang tercela. Hidupnya lurus-lurus saja. Tetapi karena tidak pandai mencari sahabat dalam membantunya kampanye, pemimpin itu justru terperosok pada tindakan yang tidak terpuji. Wibawanya langsung turun drastis karena tim suksesnya berprilaku tidak baik. Menjaga kewibawaan ini sangatlah penting karena itu dalam mencari sahabat harus diseleksi apakah sahabat itu – dalam kaitan dengan Pilkada ini bisa disebut tim sukses – akan memperkuat wibawanya atau justru akan menggerogotinya.

Yang keempat adalah Winarya. Artinya mempunyai kecakapan memimpin. Nah di sini menjadi bagian yang penting, cerdas dengan ilmu pengetahuan belum tentu cakap dalam memimpin. Memimpin membutuhkan seni kepemimpinan tak bisa berpegang pada teori-teori yang dipelajari dari buku saja.

Yang kelima adalah Gascarya. Pemimpin itu harus mampu menghadapi tantangan dari pihak lawan yang bisa jadi lebih kuat. Di sini ditekankan bahwa pemimpin itu harus percaya diri untuk mengalahkan lawan-lawannya. Tanpa ada kepercayaan pada diri sendiri maka pemimpin itu bisa disebutkan kalah sebelum bertanding. Ini hanya membuang energi saja, juga membuang biaya. Kalau sudah berani maju dan siap untuk bertempur dengan cara-cara yang sehat, kalah dan menang itu tidak menjadi persoalan.

Yang keenam atau terakhir adalah Stanha. Artinya dapat mempertahankan hubungan yang baik. Ini adalah puncaknya. Betapa pun seru dan hebatnya pertarungan selama Pilkada, siapa pun yang menang dan kalah harus tetap berhubungan dengan baik. Ini yang seringkali di lupakan di negeri ini. Kita tahu selesai pemilihan presiden yang lalu, calon presiden yang kalah dan yang menang hubungan baiknya bisa putus. Megawati Soekarno Putri tak pernah lagi berhubungan dengan Susilo Bambang Yudhoyono selesai dalam pertarungan presiden tahun 2004. Begitu pula Joko Widodo dengan Prabowo Subianto hubungannya tak lagi mesra setelah pemilihan presiden 2014. Kalau pemimpin sudah memberi contoh tak baik, langsung renggang setelah pemilihan, bagaimana pula dengan pendukungnya. Pasti ikut-ikutan meniru.


Pemimpin menurut ajaran Hindu ini haruslah bijaksana termasuk bijak dalam merekat persahabatan dan tidak pernah mengorbankan persahabatan demi kekuasaan. Sesuatu yang mulai luntur di negeri ini. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 29 Oktober 2016))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar