ADA yang menyebutkan bahwa situasi sosial politik di Jakarta sudah pada tingkat “darurat sipil”. Terjadi suasana panas berkaitan dengan pro dan kontra ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang menyinggung ayat Al Quran. Meski Ahok sudah minta maaf, persoalan belum selesai. Apakah ini kecerobohan dalam menggunakan kata-kata atau kebiasaan yang kurang bisa mengendalikan diri? Entah. Yang jelas umat Hindu apalagi yang sedang duduk sebagai pemimpin, jangan sampai mengumbar kata-kata yang tidak pada tempatnya. Umat Hindu memiliki etika bagaimana setiap perkataan harus diperhatikan dan tidak sembarangan diucapkan. Etika itu ada di dalam kitab Sarasamuccaya dari sloka 117 sampai sloka 134.
Sloka 117 diawali dengan menyebutkan bahwa orang bisa menjadi
tidak terpuji karena mengucapkan kata-kata kasar. Jangan sampai seorang
pemimpin kata-katanya kasar sebagaimana yang diucapkan rakyat kebanyakan.
Kelebihan seorang pemimpin itu justru dari caranya berkata-kata. Dalam istilah
leluhur kita dulu ada disebut “sabda pandita ratu”, perkataan itu hendaknya
menjadi sesuatu yang diagungkan dan tidak sembarangan seorang pemimpin
berkata-kata.
Sloka 118 berbunyi: Samyagaipam
ca waktawyamawiksiptena cetasa, wakprabandho hi samragadwiragadwa bhawedasan.
Terjemahan bebasnya: “Hendaknya perkataan selalu terarah pada sesuatu yang
membawa kebaikan, hendaknya janganlah sesumbar atau dibicarakan secara
berlebih-lebihan dengan maksud pamer. Sebab pikiran baik jika dibicarakan
dengan cara gembar-gembor dan berlebih-lebihan dapat menimbulkan perasaan benci
dari orang yang mendengarkannya.”
Ada beberapa hal yang dirangkum dalam sloka ini. Perkataan
haruslah terarah untuk sesuatu kebaikan. Kalau sudah disadari bahwa perkataan
itu akan menimbulkan masalah kurang baik, janganlah diucapkan. Begitu pula
kalau pun apa yang mau dikatakan memang sudah baik, jangankah terlalu
digembar-gemborkan berlebihan dengan maksud pamer. Sesuatu yang baik itu kalau
terus-menerus dipamerkan maka kebaikannya menjadi memudar. Yang dimaksudkan di
sini adalah kebaikan diri sendiri dalam arti kata semangat untuk memuji diri
sendiri. Kalau kata-kata baik itu merupakan pesan secara umum tentu boleh terus
diulang-ulang. Misalnya, hati-hati dengan narkoba jangan sekali-sekali mau
mencobanya. Ini termasuk hal yang perlu diulang-ulang di berbagai kesempatan
yang berbeda. Namun kalau pada tempat yang sama diulang-ulang pesannya jadi
mubazir, seolah-olah kita tak punya masalah lain.
Pada sloka selanjutnya, yakni sloka 119, diberi peringatan
bahwa meski pun apa yang dipikirkan itu bermaksud baik, tetapi kalau cara mengatakannya
salah maka akan menimbulkan rasa tak enak bagi yang mendengarnya. Di sini
diperlukan untuk melihat situasi di mana akan berbicara, kepada siapa
berbicara, dan dalam situasi apa kita berbicara itu.
Sekarang tantangan ini besar karena kemajuan teknologi.
Misalnya kita memberi pengarahan kepada para petani di desa dan tentu memakai
kata-kata yang mudah mereka pahami. Kadang diselingi dengan humor yang menjurus
cabul, petani bisa terbahak-bahak dan cepat paham apa yang menjadi inti
pembicaraan. Kalau ada seseorang kemudian mengunggah (upload) ceramah atau perkataan itu di media sosial, apalagi menjadi
video di YouTube, maka yang menonton bukan lagi petani, tetapi orang-orang lain
yang profesi dan wawasannya tidak sesederhana petani. Runyam karena bisa disebut
ceramah yang porno dan seterusnya.
Sloka 120 Sarasamuccaya berbunyi: Waksayaka wadanannispatani yairahatah socati ratryahani, parasya wa
marmasu te patani tasmaddhiro nawasrjet parasu. Terjemahan bebasnya, “perkataan
yang tidak baik bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya, ia dapat
melukai dan menembus hati orang yang mendengarkan, oleh karenanya kuasailah
diri dengan mengendalikan kata-kata itu.”
Nah, ini yang terjadi di Jakarta, gubernurnya salah ucap atau
mengucapkan kata yang tak perlu pada situasi yang tidak tepat maka banyak orang
yang terluka. Para pemimpin Hindu mari pegang teguh etika sebagaimana ditulis
dalam kitab Sarasamuccaya ini.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 22 Oktober 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar