Kaum buruh di negeri ini merayakan May Day dengan nada kemenangan. Ribuan buruh datang ke Taman Monas, kemarin pagi, untuk merayakan Hari Buruh Internasional. Jika tahun-tahun lalu perayaan itu bernada aksi unjuk rasa, kini berubah menjadi aksi penuh riang. Dan jika tahun-tahun lalu para buruh yang beteriak-teriak menuntut berbagai hal menyangkut kehidupannya, maka kini Presiden Prabowo Subianto yang berteriak-teriak di panggung mengajak buruh untuk bela Indonesia.
Dalam kasus ini Prabowo atau kalangan Istana, harus dipuji bagaimana mereka merangkul buruh agar damai. Dimulai dari pergantian kabinet yang menempatkan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup yang dilantik 27 April lalu. Jumhur Hidayat adalah Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) periode 2022–2027. Ia dikenal sebagai aktivis buruh senior. Ia mendirikan Gaspermindo (Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia) pada 1998, pernah menjabat Kepala BNP2TKI (2007–2014). Dan, pernah menjadi narapidana di era Presiden Joko Widodo.
Selain mengangkat Jumhur sebagai menteri, Istana juga
mengundang pimpinan buruh lainnya yakni Said Iqbal. Said adalah Presiden KSPI (Konfederasi
Serikat Pekerja Indonesia), beda satu huruf dengan KSPSI. Pertemuan Prabowo dan
Said selama satu setengah jam di akhir April itu menghasilkan kesepakatan bahwa
pemerintah menerima berbagai tuntutan yang diajukan serikat buruh. KSPI dan
KSPSI sudah biasa berkolaborasi di berbagai unjuk rasa dalam isu buruh.
Kesepakatan inilah yang menghasilkan May Day dilaksanakan dengan nada pesta.
Bukan aksi jalanan. Agar ribuan buruh lebih tertarik lagi datang, panitia
menyediakan oleh-oleh untuk buruh. Said membantah jika itu disebut bantuan
sosial dari pemeintah, apalagi dananya dari APBN.
Tak semua serikat pekerja setuju
perayaan May Day dengan nada pesta di Monas. Ada yang tetap dengan tradisi
lama, aksi jalanan. Itu yang dilakukan oleh beberapa serikat buruh dengan
kordinator yang dinamai Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak). Salah
satu serikat buruh yang agak besar dan ikut dalam barisan Gebrak ini adalah Konfederasi
Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Mereka kemudian memilih aksi demonstrasi
di depan gedung DPR RI Senayan. Selain buruh mereka juga melibatkan elemen mahasiswa,
serta masyarakat sipil lainnya. Dan mereka secara tegas menyatakan bahwa aksinya
berbeda dan mandiri dari aksi perayaan di Monas.
Memang sudah lama di kalangan serikat buruh terjadi
ketidak-akuran dalam hal cara
menyampaikan pendapat. Perbedaan ada pada pendekatan bagaimana menggolkan
tuntutan, Seperti KSPI dan KSPSI memilih dialog dan sangat senang dengan janji
Prabowo akan datang memenuhi tuntutan buruh. Ada pun GEBRAK dan KASBI memilih tetap
aksi demonstrasi di DPR sebagai bentuk tekanan politik yang lebih independen
dan kritis terhadap pemerintah. Mereka menolak format seremonia di Monas. Namun
tak berarti serikat buruh ini pecah
Tuntutan yang sama mempersatukan mereka. Ya, umumnya pada masalah upah
regional yang rendah, fasilitas kerja, lembur dan hak cuti , masalah outsourcing
dan seterusnya.
Di atas panggung, Prabowo langsung memenuhi beberapa
tuntutan. RUU Ketenagakerjaan yang baru sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi
dijanjikan Prabowo selesai tahun ini. Tapi Prabowo tak menyebutkan kapan RUU
Perampasan Aset diselesaikan DPR. Hal yang sudah berlarut-larut dan tiap saat
diingatkan kalangan buruh dan pegiat anti korupsi. Begitu pula permintaan
revisi UU No. 2 Tahun 2024 tentang penyelesaian perselisihan di kalangan
industri yang mencemaskan para buruh. Tak disinggung sama sekali.
Sebaliknya perbaikan nasib para pengemudi ojol (ojek online)
mendapat respon positif bahkan di luar dugaan. Soal pembagian hasil pengemudi bersama
pemilik aplikasi. Selama ini pengemudi ojol dapat 80 persen dan aplikasi 20
persen. Mereka menuntut 90 persen pengemudi, 10 persen aplikasi. Prabowo bahkan
menaikkan pendapatan pengemudi menjadi 92 persen dan sisanya pemilik aplikasi.
“Enak saja, yang kerja pengemudi kok,” kata Prabowo, nada berteriak.
Masalahnya, apa semudah itu pemilik aplikasi menyetujui? Bisa jadi tarif ojol
akan naik dan ujungnya pelanggan pada lari.
Keberhasilan Istana, entah itu berkat masukan orang sekitar
Prabowo atau tidak, patut diapresiasi. Bisa meredam gejolak aksi buruh dari
jalanan menuju panggung pesta dengan mengangkat pimpinan buruh masuk kabinet. Tentu
ini membuat kabinet makin gemuk, karena Menteri yang diganti harus dikasih
jabatan baru, biar tak terkesan membuangnya. Namun janji di hadapan ribuan
buruh soal perbaikan nasib di tengah situasi ekonomi yang sulit bisa menjadi
boomerang. Ekonomi sedang tidak baik, rupiah melemah jauh, APBN semakin defisit
dan kita masih menghamburkan uang untuk hal yang belum prioritas.
Presiden Prabowo harusnya bisa menahan diri dengan mengurangi janji yang sulit dipenuhi termasuk menahan diri untuk berpidato tidak mencela anak bangsa yang memberikan kritiknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar