07 September 2022

TariRejang - Sakral apa Tidak

Mari kita membicarakan masalah yang ringan menyangkut budaya yang sering dan bahkan hampir selalu dikaitkan dengan ritual keagamaan. Yakni tentang rejang, khususnya Rejang Renteng yang kini sedang viral. Bukan saja di berbagai wilayah, baik pedesaan mau pun perkotaan yang viral dan digemari, juga viral di media sosial. Di kanal YouTube ada puluhan video Rejang Renteng yang diunggah orang. Rejang Renteng juga dibicarakan di forum-forum seminar.

Masalah yang disoroti adalah apakah tarian ini sakral atau menjadi tari wali ataukah tari profan yang hanya berupa hiburan saja. Namun ada pula yang menggali sejarah dari mana asal tari ini bermula. Lalu disebut-sebut bahwa tari itu muncul pertama kali di Nusa Penida. Tarian Rejang Renteng yang sakral diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930-an di Nusa Penida.

 Cikal bakalnya terinspirasi dari tarian sakral di Banjar Adat Saren, Desa Pakraman Mujaning Tembeling dan Banjar Saren Satu, Desa Nusa Gede. Tari Rejang Renteng selalu ditampilkan setiap piodalan di Pura Penataran Ped, Desa Pakraman Ped.

Sesungguhnya tari sejenis rejang ini berkembang di berbagai desa sejak dulu dan menjadi bagian dari ritual di pura. Dan di setiap wilayah atau pedesaan cara menarikannya juga tidak sama meski namanya sama yakni Rejang Renteng. Di desa-desa tradisional seperti desa saya di Pujungan, Kabupaten Tabanan, tari Rejang Renteng ini adalah tari wali yang harus diperagakan di setiap piodalan di pura. Ini tari sakral dan bukan hiburan. Nama awalnya tentu saja Rejang Renteng, namun untuk memudahkan orang menyebutnya maka dipakai kata Merenteng yang dimaksudkan sebagai “mari melakukan rejang renteng”.

Di mana kesakralan Merenteng ini? Urutan acaranya adalah ritual “nedunang bethara” setiap ada piodalan. Setelah Ida Bethara “tedun” (atau turun dari kahyangan), maka diadakan upacara penyucian yakni ke beji (taman), ibarat seorang manusia baru bangun lalu mandi. Sepulang dari beji didandani ibaratnya manusia biasa, diberi wewangian dan busana secara simbolis. Nah setelah itu baru diajak bersenang-senang dengan ritual Merenteng. Simbol-simbol Ida Bethara yang biasa disebut pratima itu diusung untuk diajak Merenteng.

Yang mengusung dan menarikan adalah muda-mudi atau biasa disebut daha-teruna. Tidak boleh orang tua. Menarinya memang ada pakemnya yang sangat mudah sehingga semua daha-teruna bisa membawakannya, tak harus seorang penari.

Durasi waktu tidak dibatasi karena Merenteng hanya berputar sebanyak tiga kali di sekitar pura. Jadi tergantung seberapa besar pura itu karena komposisi tari ini bisa diulang-ulang.

Jika ritual piodalan itu di pura desa yang disebut ngusaba desa selain rejang renteng ada yang disebut Rejang Nini. Ini ditarikan oleh orang tua yang sudah menopausa yang diyakini kembali suci seperti hanya daha-teruna. Penari Rejang Nini membawa simbol-simbol dari kemakmuran terutama padi yang dimasukkan dalam bakul yang sudah dihias. Ini pun tari sangat sakral.

Usai melakukan Merenteng baik itu berupa Rejang Renteng dan Rejang Nini barulah dilakukan ritual piodalan. Begitulah urutan ritual di desa saya yang masih tradisional dan kelestarian budaya agama ini diwarisi terus turun-temurun. Lalu Rejang Renteng yang viral sekarang ini, apakah itu tari wali atau bukan?

Rejang Renteng yang viral sekarang ini ditarikan oleh dilakukan oleh siapa saja kaum Wanita, apakah dia anak-anak, remaja maupun ibu-ibu. Tidak khusus daha-teruna, dan tidak membawa persembahan apa pun, baik itu sesajen mau pun serangkaian bunga. Penari pun tidak berputar di tempat acara seperti Merenteng. Artinya konsep “ngider bhuana” dengan berputar mengikuti arah “purwa daksina” (perputaran seperti jarum jam sebagai lambang kesakralan) tidak nampak dalam tarian ini. Tari ini pun bisa dilakukan secara masal tergantung jumlah penarinya dan ruang untuk menari. Rejang Renteng ini bukan hanya ditarikan di pura, tetapi bisa di balai banjar, di halaman sekolah, difestivalkan dan bahkan diperlombakan. Berbeda dengan Rejang Renteng atau Merenteng yang sacral seperti di desa saya Pujungan.

Jika demikian, apakah Rejang Renteng yang viral dan mewabah sekarang ini bukan tari wali? Saya kira perdebatan ini pun tak perlu. Tari wali atau tari bebalian (hiburan) jika itu membuat hati kita senang dan terhibur dalam melakukan ritual di pura, tentu sangat utama. Menjalankan ritual keagamaan dengan hati riang disertai ketulusan adalah tujuan yang kita harapkan. Keriangan itu, misalnya, tercermin dari ibu-ibu yang bergairah datang menarikan Rejang Renteng dilengkapi busana yang khusus dan ketulusannya adalah menari tanpa mendapatkan imbalan. Jika Rejang Renteng ini kita tetapkan sebagai tari wali justru akan menimbulkan pertanyaan, apakah sebuah ritual piodalan di pura tanpa Rejang Renteng akan menjadi tidak utama atau ada yang kurang? Apakah Rejang Renteng harus ada sebagai pelengkap dan kalau tidak ada yadnya menjadi berkurang? Itu bahayanya kalau sebuah tarian kita tetapkan sebagai tari wali pelengkap yadnya.

Apalagi kalau kita amati berbagai jenis tari rejang sudah bermunculan. Seniman-seniman tari kita bisa menciptakan berbagai jenis tari rejang. Sekarang ini yang sudah ada dan semuanya viral tak cuma Rejang Renteng. Ada berbagai jenis rejang. Ada Rejang Dewa, Rejang Sari, Rejang Dedari, Rejang Apsari, Rejang Dewi Bethari, Rejang Sutri, Rejang Lawang, Rejang Pedupan, Rejang Suci Wedana dan mungkin ada lagi yang lain yang belum saya lihat. Budayawan dan seniman Prof. Wayan Dibia bahkan menyebut ada 27 jenis rejang. Bayangkanlah kalau semuanya itu harus kita pilah-pilah yang mana sakral dan yang mana tidak sakral. Repot kan?

Dulu Tari Pendet pun pernah diperdebatkan apakah itu sakral atau tidak. Ada yang menyebutnya sakral karena penari membawa bunga sebagai persembahan dan itu konotasinya adalah persembahan untuk Tuhan yang kita puja. Karena Tari Pendet sakral maka tarian ini tak boleh dipakai untuk menyambut tamu atau turis di hotel, bandara dan lainnya.

Namun ada yang menyebut Tari Pendet tidak sakral, itu hanyalah semacam “tari selamat datang” menyambut tamu dan bisa dipentaskan di mana saja. Akhirnya agar polemik tak muncul dicari kata lain. Jika tarian itu dipentaskan di pura maka disebut Tari Pendet dan jika dipentaskan di tempat yang bukan tempat suci disebut Tari Pependetan. Penggolongan seperti ini juga ada di ornamen lain. Misalnya, penjor itu sakral, maka yang dipakai hiasan disebut pepenjoran. Canangsari sakral jadi penari Pependetan tak boleh membawa canangsari, yang dibawa hanyalah urapsari (hanya sekumpulan bunga). Lalu apa yang terjadi kemudian? Para seniman tari kita menciptakan berbagai jenis Tari Pendet dengan nama-nama yang beda. Kita kenal sekarang ada puluhan “tari selamat datang” dengan berbagai versi dan namanya.

Nah karena itu Tari Rejang yang viral sekarang ini tak usah kita bawa ke dalam polemic, apakah itu tari sacral atau tari hiburan semata-mata. Kenyataannya tari rejang ini begitu artistic. Lalu tari ini memberikan peluang untuk tampilnya penari dalam jumlah yang banyak. Gerakannya pun tidak terlalu sulit. Mereka yang tidak banyak memiliki kemampuan menari, tak terlalu takut untuk menarikan ini. Bukankah ini bagus untuk menciptakan kegembiraan yang sama?

Lagi pula ritual keagamaan justru tujuan akhirnya adalah bagaimana kita hidup dalam penuh kegembiraan. Hanya orang gembira yang bisa sehat dan Bahagia. Karena itu dalam tradisi orang Bali, tujuan dalam setiap persembahyangan memuja Tuhan hanyalah satu: nunas ica. Apa itu Ica? Ica itu artinya tertawa.  Kalau kita bisa tertawa itu artinya kita gembira dan artinya juga kita Bahagia. Mari kita hifup dengan penuh kegembiraan, jangan ruwet. Rahayu, sampai jumpa.

* Mpu Jaya Prema, 7 September 2022

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar