Mpu Jaya Prema
(Catatan: Video diambil dari naskah ini, namun tidak persis sama)
Pakar bahasa menyebutkan tidak ada kata Lebaran dalam bahasa Arab. Meski pun Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan arti lebaran sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan, kata ini sudah ada sejak dulu. Kata Lebaran dikenal masyarakat Jawa dalam rumpun Bahasa Kawi. Arti Lebaran adalah: selesai, usai, habis. Dan Wali Songo memperkenalkan kata ini untuk menandai selesainya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Di Bali, di mana bahasa Kawi masih dipakai dalam ritual
keagamaan Hindu, kata “lebar” (bukan Lebaran) masih populer hingga saat ini.
Kata itu merujuk pada selesainya upacara ritual yang dilaksanakan berhari-hari
di sebuah pura. Ini adalah pertanda sujud syukur. Kata “lebar” juga dipakai
sebagai pertanda bahwa puasa (upawasa dalam ajaran Hindu) sudah berakhir
dengan mulus. Para pendeta di Bali kalau meninggal dunia juga disebut “lebar”,
pertanda usainya kehidupan di dunia dan kini menjalani kehidupan yang damai, kembali
ke alam Tuhan. Kata “lebar” sangat terhormat dibandingkan kata wafat, apalagi
meninggal dunia. Karena itu hanya digunakan untuk para pendeta.
Wali Songo sangat tepat memasukkan kata Lebaran ini dikaitkan
dengan ritual umat Islam setelah selesai menjalankan ibadah puasa. Apalagi mengacu
dengan sebutan Idul Fitri yang berarti kembali ke fitrah. Kembali ke jati diri dalam
keadaan suci dengan semangat kemenangan mengendalikan nafsu selama berpuasa.
Jadi, kata Lebaran ini sudah dituturkan sejak dulu di masyarakat yang tidak cuma
di kalangan muslim. Hanya saja, menurut Kepala Badan Pengembangan
dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prof
Endang Aminudin Aziz, kata Lebaran itu mengalami penyempitan, Cuma merujuk pada
selesainya puasa Ramadan selama 29-30 hari yang dirayakan dengan Idul Fitri.
Boleh saja kata Lebaran melekat
dengan kehidupan umat muslim. Kenyataannya suasana yang diciptakan oleh mudik Lebaran
merasuk ke seluruh penduduk negeri ini, apa pun agamanya. Hari-hari menjelang Lebaran,
jutaan orang terlibat dalam suasana kegairahan itu. Jutaan orang berpeluh
menunggu bus di terminal untuk bisa pulang ke kampung halamannya. Jalanan macet
di mana-mana. Antrean di pelabuhan mengular sampai jauh, orang menunggu sampai
6 jam lebih untuk masuk ke kapal penyeberangan. Jutaan orang rela merogoh
sakunya agar bisa pulang kampung merayakan kemenangan.
Kemenangan yang harus
dibagi dengan sujud kepada orang tua, berbagi rejeki kepada anak dan ponakan, saling
bermaafan kepada sedulur yang lama tak berjumpa. Di sini tidak berlaku ucapan “Kok
menghabiskan uang untuk mudik dan membeli baju Lebaran bisa, kenapa harus antre
minyak goreng”. Lebaran itu soal membagi rasa yang tak ternilai dan membeli
minyak goreng soal hak sebagai warga bangsa yang kebutuhan dasarnya tak boleh
dipermainkan tengkulak.
Mari kita berbagi Lebaran,
apa pun perbedaan di antara kita sebagai anak bangsa. Karena Lebaran
menyiratkan kemenangan dan kita kembali dalam kesucian, seharusnya dengan
maaf-memaafkan semua kesalahan dan nafsu buruk kita selama ini mestinya berkurang.
Cari makian kita di media sosial, yang nampaknya tak surut selama puasa,
harusnya jauh berkurang setelah Lebaran. Kalau masih ada caci maki, saling
membenci dan seterusnya, di mana letak Lebaran sebagai hari kemenangan itu? Kenapa
nafsu buruk itu tidak kita selesaikan dan tidak kita habiskan dengan saling
memaafkan? Ratusan kilometer kita berjalan, jutaan rupiah kita keluarkan,
ternyata tak ada artinya kalau usai Lebaran kita kembali ke hal-hal yang kotor.
Semoga Lebaran ini menguburkan hal-hal
yang buruk dan kita selesaikan dengan saling memaafkan. Selamat Lebaran para
sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar