04 Mei 2022

Yang Diharapkan Setelah Lebaran

Lebaran

Mpu Jaya Prema

(Catatan: Video diambil dari naskah ini, namun tidak persis sama)

Pakar bahasa menyebutkan tidak ada kata Lebaran dalam bahasa Arab. Meski pun Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan arti lebaran sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan, kata ini sudah ada sejak dulu. Kata Lebaran dikenal masyarakat Jawa dalam rumpun Bahasa Kawi. Arti Lebaran adalah: selesai, usai, habis. Dan Wali Songo memperkenalkan kata ini untuk menandai selesainya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Di Bali, di mana bahasa Kawi masih dipakai dalam ritual keagamaan Hindu, kata “lebar” (bukan Lebaran) masih populer hingga saat ini. Kata itu merujuk pada selesainya upacara ritual yang dilaksanakan berhari-hari di sebuah pura. Ini adalah pertanda sujud syukur. Kata “lebar” juga dipakai sebagai pertanda bahwa puasa (upawasa dalam ajaran Hindu) sudah berakhir dengan mulus. Para pendeta di Bali kalau meninggal dunia juga disebut “lebar”, pertanda usainya kehidupan di dunia dan kini menjalani kehidupan yang damai, kembali ke alam Tuhan. Kata “lebar” sangat terhormat dibandingkan kata wafat, apalagi meninggal dunia. Karena itu hanya digunakan untuk para pendeta.

Wali Songo sangat tepat memasukkan kata Lebaran ini dikaitkan dengan ritual umat Islam setelah selesai menjalankan ibadah puasa. Apalagi mengacu dengan sebutan Idul Fitri yang berarti kembali ke fitrah. Kembali ke jati diri dalam keadaan suci dengan semangat kemenangan mengendalikan nafsu selama berpuasa. Jadi, kata Lebaran ini sudah dituturkan sejak dulu di masyarakat yang tidak cuma di kalangan muslim. Hanya saja, menurut  Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prof Endang Aminudin Aziz, kata Lebaran itu mengalami penyempitan, Cuma merujuk pada selesainya puasa Ramadan selama 29-30 hari yang dirayakan dengan Idul Fitri.

Boleh saja kata Lebaran melekat dengan kehidupan umat muslim. Kenyataannya suasana yang diciptakan oleh mudik Lebaran merasuk ke seluruh penduduk negeri ini, apa pun agamanya. Hari-hari menjelang Lebaran, jutaan orang terlibat dalam suasana kegairahan itu. Jutaan orang berpeluh menunggu bus di terminal untuk bisa pulang ke kampung halamannya. Jalanan macet di mana-mana. Antrean di pelabuhan mengular sampai jauh, orang menunggu sampai 6 jam lebih untuk masuk ke kapal penyeberangan. Jutaan orang rela merogoh sakunya agar bisa pulang kampung merayakan kemenangan.

Kemenangan yang harus dibagi dengan sujud kepada orang tua, berbagi rejeki kepada anak dan ponakan, saling bermaafan kepada sedulur yang lama tak berjumpa. Di sini tidak berlaku ucapan “Kok menghabiskan uang untuk mudik dan membeli baju Lebaran bisa, kenapa harus antre minyak goreng”. Lebaran itu soal membagi rasa yang tak ternilai dan membeli minyak goreng soal hak sebagai warga bangsa yang kebutuhan dasarnya tak boleh dipermainkan tengkulak.

Mari kita berbagi Lebaran, apa pun perbedaan di antara kita sebagai anak bangsa. Karena Lebaran menyiratkan kemenangan dan kita kembali dalam kesucian, seharusnya dengan maaf-memaafkan semua kesalahan dan nafsu buruk kita selama ini mestinya berkurang. Cari makian kita di media sosial, yang nampaknya tak surut selama puasa, harusnya jauh berkurang setelah Lebaran. Kalau masih ada caci maki, saling membenci dan seterusnya, di mana letak Lebaran sebagai hari kemenangan itu? Kenapa nafsu buruk itu tidak kita selesaikan dan tidak kita habiskan dengan saling memaafkan? Ratusan kilometer kita berjalan, jutaan rupiah kita keluarkan, ternyata tak ada artinya kalau usai Lebaran kita kembali ke hal-hal yang kotor.  Semoga Lebaran ini menguburkan hal-hal yang buruk dan kita selesaikan dengan saling memaafkan. Selamat Lebaran para sahabat.

(Koran Tempo, 1 Mei 2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar