10 April 2022

Cari Angin KoranTempo - Memahami JOKOWI


Lagi, Presiden Joko Widodo memberi pernyataan di sekitar penundaan Pemilu dan wacana presiden tiga periode. Kali ini di forum rapat paripurna kabinet. Jokowi meminta agar para menteri tidak lagi bicara soal itu. Menteri diminta fokus bekerja dan jangan bikin ribut.

 

Lagi-lagi banyak orang menyebut pernyataan Jokowi kurang tegas. Dia hanya meminta para menterinya tidak bicara, tapi tak ada penegasan wacana itu juga harus dihentikan di masyarakat. Sama seperti sebelumnya, tatkala Jokowi menganggap ide memperpanjang masa jabatannya sebagai menjerumuskan dirinya dan bahkan bisa menampar dirinya. Orang tak percaya, termasuk saat Jokowi menyebut setia pada konstitusi. Alasan yang dipakai untuk tidak percaya adalah, jika konstitusi berhasil diamandemen dan ada pasal presiden boleh dipilih untuk ketiga kalinya, berarti Jokowi taat pada konstitusi yang baru.

 

Apa yang Anda pikirkan? Sapaan khas Facebook bisa dipakai pertanyaan untuk Jokowi. Apakah Anda ingin meneruskan jabatan ini satu periode lagi dengan mengamandemen konstitusi atau diperpanjang dua tahun dengan menunda Pemilu? Apa pun jawaban Jokowi bisa saja orang ragu, apalagi kalau tidak menjawab. Barangkali pertanyaan harus dikembalikan ke diri kita, “Apa yang kita pikirkan tentang Jokowi?”

 

Nah, kalau begitu akan ada dua versi jawaban yang lahir dari pikiran positif dan pikiran negatif. Kalau kita positive thinking, Jokowi nampaknya memang tak ingin berkuasa lebih lama. Pernyataannya bahwa ide memperpanjang masa jabatan sebagai menjerumuskan dia dan menampar mukanya, tentu serius. Bahwa dia taat pada konstitusi tentu harus dikatakannya, tetapi bukan konstitusi yang diamandemen. Bahwa dia menyebut wacana amandemen atau penundaan pemilu adalah aspirasi masyarakat, itu menunjukkan dia tak boleh menyumbat hak rakyat untuk mengeluarkan pendapat. Sebagai orang Jawa, ucapan semacam itu sudah sangat tegas. Resikonya kalau diingkari, akan seumur-umur Jokowi merasakan “tamparan” dari masyarakat. Jika kita memahami Jokowi dalam konteks ini, rasanya ia tak akan mengorbankan seluruh hidupnya – dan keturunannya – untuk dihinakan. Pasti Jokowi berpegang pada sabdo pandito ratu, pemimpin tak boleh berbohong.

 

Kalau kita negative thinking, kita mudah menduga Jokowi punya agenda besar untuk memperpanjang jabatannya lewat manufer orang-orang dekatnya. Nah, pikiran negatif ini yang subur di kalangan masyarakat. Salah satu penyebabnya justru para menteri yang menggaungkan ide amandemen konstitusi dan Jokowi terlambat menghentikannya. Kini, apa pun yang dikatakan Jokowi untuk membantah niat memperpanjang jabatan itu pada akhirnya sulit diyakini orang. Kecuali Jokowi bertindak dengan menghukum para menteri itu, misalnya, dengan reshuffle.

 

Menghukum menteri dengan reshuffle juga bukan satu-satunya cara. Gaya komunikasi Jokowi yang dipengaruhi budaya Jawa belum sepenuhnya bisa diterima bagi orang non-Jawa. Padahal ungkapan “menjerumuskan dirinya” dan “merasa ditampar”, sudah kelewat keras bagi masyarakat Jawa. Mengingat Nusantara ini begitu luas dan gaya komunikasi era kini berubah tanpa banyak simbul dan basa-basi, Jokowi sebaiknya memahami pula bahwa pernyataan yang disampaikannya haruslah gamblang. Tak perlu ditafsirkan lagi. Dalam kasus ini, andaikata Jokowi mau gamblang, ia bisa meraih kepercayaan lagi, misalnya, dengan berkata: “Konstitusi kita sudah bagus, tak perlu diamandemen. Tapi kalau pun ada upaya untuk mengamandemen dengan memberi jalan presiden boleh tiga periode, sepanjang dilakukan dengan demokratis, silakan. Namun saya tak akan mencalonkan diri lagi, saya cukup dua periode saja.”

 

Hanya perlu 25 detik dan waktu sependek itu bisa meredakan gaduh berhari-hari.

 

(Koran Tempo, 10 April 2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar