Puasa dikenal
di semua agama, mengajarkan tentang pengendalian diri. Kalau pengendalian diri
bisa kita lakukan dengan baik itulah pertanda puasa kita berhasil. Termasuk mengendalikan
diri dari berdusta, perbuatan jahat yang harus kita redam. Ada petuah dari para terdahulu kita yang menyebutkan, jika seseorang
berpuasa tapi melakukan dusta, maka puasanya adalah percuma dan orang itu hanya
mendapatkan lapar dan haus. Dusta tentu perbuatan yang tidak baik, di bulan
Ramadan atau pun bulan lain, berdusta harus dihindari.
Belakangan ini kita dipertontonkan oleh pernyataan
yang mengumbar dusta. Karena pernyataan itu tidak disertai bukti yang mendukung
kebenaran. Yang memprihatinkan adalah semuanya menyangkut masyarakat luas,
urusan bangsa dan negara. Betapa kacaunya jika kebohongan itu tak segera
dijernihkan sehingga menyesatkan orang, dan itu dusta paling buruk dari segala
dusta.
Menteri Perdagangan pernah menyatakan akan mengumumkan
mafia minyak goreng pada waktu tertentu. Pas waktunya tiba, pengumuman tidak
pernah ada, bahkan kepolisian tidak menyebut adanya mafia. Tak ada penjelasan apa-apa
sehingga pernyataan itu menjadi kebohongan dan itu adalah dusta. Menteri
Kordinator Kemaritiman dan Investasi juga pernah mengatakan bahwa 110 juta pengguna
internet menginginkan penundaan Pemilu 2024, namun big data itu tak
pernah dibuktikan di saat banyak orang menagihnya.
Berbahaya sekali jika dusta itu menyangkut kehidupan bernegara. Apalagi
berkaitan dengan konstitusi. Pernyataan yang menyesatkan di sekitar penundaan
Pemilu dan “Jokowi tiga periode” menjadi gaduh di masyarakat di tengah mahalnya
minyak goreng. Belum lagi pernyataan kebulatan tekad, baik dilakukan oleh
kelompok amatir mengatas-namakan relawan, mau pun kelompok resmi seperti yang
dilakukan Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI). Bagaimana
mungkin kalau tidak ada rekayasa, kepala desa yang jauh dari permasalahan
politik di pusat, tiba-tiba datang ke Jakarta dan siap dengan kebulatan tekad
mendukung “Jokowi tiga periode”. Organisasi kepala desa ini ketua dewan pembinanya adalah Menteri Koordinator
Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Menteri
Desa Abdul Halim Iskandar dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjadi
penasehat. Tiga menteri di puncak organisasi APDESI pimpinan Surta Wijaya ini ternyata
adalah APDESI yang tidak resmi. APDESI dengan surat pengesahan Menteri Hukum
dan HAM adalah APDESI dengan ketua Arifin Abdul Majid. APDESI Arifin ini merasa
dicatut dengan kebulatan tekad itu dan mengaku tak ikut berpolitik. Ini dusta yang
serius karena melibatkan para menteri.
Dalam kasus ini, harapan
terakhir kita hanyalah pada Presiden Joko Widodo yang menjadi subyek utama
dalam kehebohan berbalut dusta ini. Berkali-kali Jokowi bilang taat konstitusi
bahkan pernah menyebutkan, ide memperpanjang jabatannya sebagai menampar
mukanya. Kalau ini suatu saat diingkari pula, maka inilah dusta dari seorang
presiden yang pernah berhasil membangun negeri. Maka seumur-umur Jokowi akan merasa
“tertampar” oleh pernyataannya.
Semoga di bulan Ramadan ini
dalam suasana menahan diri dari segala nafsu buruk, pernyataan dan apalagi
perbuatan kita yang menjurus ke dusta bisa dihentikan. Selamat menjalankan ibadah
puasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar